
Karena tidak ingin kembali pusing karena nasehat nasehat dari sang kakek, Aden memilih untuk meninggalkan Kantor.
Tepatnya di sudut kantin sekolahan, tempat dimana Aden, Romi, Arnal, dan Lunika serta teman teman yang lainnya tengah menikmati jam istirahatnya yang penuh tawa dan juga gurauan. Masa masa yang penuh warna dan bahagia, meski harus menyimpan perasaannya.
Aden duduk termenung sambil menikmati secangkir teh hangat ditemani sejuta lamunan akan kenangan masa lalunya. Sembari menyesap teh hangatnya, Aden memijat pelipisnya karena memikirkan sesuatu yang begitu sulit untuk dijangkauinya.
"Maaf Pak, apakah bapak adalah guru di Sekolahan ini?" tanya pemilik kantin dengan rasa penasarannya.
"Duduk lah, Bu. Nanti ibu akan tahu sendiri, siapa saya sebenarnya." Jawab Aden, kemudian ia menyesap teh hangatnya lagi. Sedangkan ibu pemilik kantin segera duduk di dekatnya, meski sedikit canggung berhadapan orang yang tidak dikenalinya.
"Apakah ibu sudah lupa dengan saya?" tanya Aden sambil menatapnya dengan serius.
"Maaf Pak, saya juga benar benar lupa." Jawab ibu pemilik kantin yang kesulitan untuk menebaknya.
"Saya itu ... Aden, Bu." Ucap Aden menyebutkan namanya.
"Aden? maksudnya itu Aden yang sering bersama Lunika gadis cantik dan pintar itu, ya?" tanyanya yang teringat akan sosok Lunika. Aden pun tersenyum dan mengangguk, sedangkan ibu pemilik kantin tersenyum lebar tatkala teringat sosok Aden yang sering menikmati jam istirahatnya ke Kantinnya.
"Rupanya kamu sudah tumbuh menjadi sosok yang sudah dewasa, tampan dan sukses. Lalu, kenapa kamu datang sendiri? dimana Lunika, kok sendirian." Ucapnya lagi dan bertanya, namu tiba tiba Aden menunjukkan ekspresi yang membuat ibu kantin merasa heran dengan raut wajah milik Aden yang terlihat begitu sedihnya.
"Loh, kenapa kamu jadi bersedih? apa ada sesuatu pada Lunika? apakah Lunika sudah menikah dengan Arnal?" tanyanya mencoba menebaknya. Karena hanya ibu kantin lah yang tahu akan perasaan Aden pada Lunika selain Romi.
"Tidak, Lunika tidak jadi menikah dengan Arnal. Karena Arnal sudah menikah dengan sahabatnya Lunika, yaitu Hana." Jawab Aden berterus terang.
"Apa! Hana sudah menikah dengan Arnal? lalu, bagaimana dengan Lunika? ibu jadi gemetaran. Semoga saja, Lunika masih dengan keadaan baik baik saja." Tanya ibu Kantin dengan perasaan takut dengan keadaan Lunika, ditambah lagi Aden tidak kunjung menyimpulkan tentang Lunika.
"Lunika baik baik saja, Bu. Haanya saja, saya yang sedang tidak baik baik saja." Jawab Aden dengan lesu.
"Ibu masih tidak mengerti, apa yang kamu maksudkan. Sadari tadi kamu berbicara, terapi ibu tidak maksud dengan ucapan kamu itu." Ucap ibu kantin yang masih belum bisa menangkap ucapan dari Aden.
__ADS_1
"Lunika sudah menikah, Bu. Lunika menikah dengan teman dekat saya, bahkan masih memiliki persaudaraan dengan keluarga kakek saya. Entah lah, Bu. Aden sedang prustasi, Aden sengaja mendatangi kantin ini untuk mengobati rasa rindu yang sudah lama tidak akan pernah bisa terulang lagi." Jawab Aden masih dengan menunjukkan muka sedihnya.
"Bersabar lah, kamu pasti bisa untuk mendapatkan seorang perempuan yang jauh lebih baik dari Lunika. Mungkin saja, Lunika memang ditakdirkan bukan untuk kamu. Tetapi untuk orang lain yang sudah ditakdirkan hidup bersama Lunika." Ucap ibu kantin mengingatkannya, sedangkan Aden sendiri hanya mengangguk pasrah mendengarnya.
"Ya sudah ya Bu, saya mau pamit pulang. ini, saya mau bayar teh hangatnya."
"Tidak usah, lagian juga hanya minuman teh. Sudah, anggap saja kamu adalah tamu ibu."
"Terima kasih ya, Bu. Saya pamit pulang, Bu."
Setelah berpamitan untuk pulang, Aden segera beranjak pergi untuk meninggalkan tempat yang sudah dijadikan tempat kenangan bersama teman temannya serta kenangan bersama perempuan yang disukainya.
BRUGG!!!
"Aw!!"
"Maaf, Bu guru. Saya tidak sengaja untuk menabraknya, sekali lagi saya meminta maaf." Ucap Aden yang merasa canggung terhadap seorang guru perempuan yang telah ditabraknya.
"Iya, Bu. Anda siapa, ya? maaf saya sedikit lupa."
"Aku Erly, teman sekolah kamu dulu. Yang pernah kamu tolong karena bola yang mengarah ke aku." Ucapnya mengingatkan pada masa lalu, Aden pun mulai mengingatnya kembali.
"Ah! iya, aku ingat. Kamu anaknya ibu kantin kan, ya? yang rambutnya suka dikepang dua." Seketika, Aden teringat akan masa masa disekolahnya.
"Iya, itu dulu. Kamu, apa kabarnya?" jawab Erly menyapa.
"Kabar aku baik, kamu sendiri apa kabarnya? apakah kamu mengajar disini?" jawab Aden dan balik bertanya.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik baik saja. Oh iya, kamu ada perlu apa datang ke sekolahan? kok, sendirian." Jawabnya kembali bertanya.
__ADS_1
"Aku hanya rindu dengan masa masa sekolah, kebetulan saja aku lewat. Akhirnya aku memutuskan untuk mampir. Oh iya, aku mau langsung pamit. Sampai jumpa, dan sampai bertemu kembali." Jawab Aden berpamitan.
"Tidak mampir dulu nih?"
"Lain waktu saja, aku masih ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Kalau begitu, aku pamit pulang. Sampai bertemu lagi, Erly." Jawab Aden dengan terpaksa menolaknya, meski membuat Erly sendiri merasa kecewa.
Setelah berpamitan, Aden segera pergi untuk mengurus keberangkatannya ke luar Negri. Sedangkan Erly hanya bisa melihat Aden hingga bayangannya pun menghilang sampai tidak terlihat lagi.
'Ah! iya, kenapa tadi aku tidak bertanya dengannya. Hana bagaimana kabarnya, ya? aaah! aku jadi merindukan Lunika. Gara gara Hana, Lunika menjadi salah paham terhadapku. Semoga saja, aku masih bisa diberi kesempatan untuk bertemu dengannya.' Batin Erly yang tiba tiba teringat akan sosok Punika yang pernah dekat dengannya.
Karena sudah waktunya jam istirahat, Erly berjalan menuju kantin ibunya.
"Erly, sudah selesai mengajarnya? ibu ada kabar baru nih untuk kamu." Tanya sang ibu sambil membereskan meja.
"Kabar apaan sih, Bu? sepertinya heboh gitu."
"Aden, Aden tadi datang ke kantin ibu."
"Apa! Aden ke kantin ibu? ada apa memangnya, Bu?"
"Dia merindukan masa masa sekolahnya, dan ada kabar baru dari Aden. Bahwa Arnaldo sudah menikah dengan Hana."
"Apa! Hana menikah dengan Arnal? tidak mungkin, terus ... Lunika menikah dengan Aden, begitu maksud ibu?" seketika, Erly dibuatnya kaget oleh ibunya. Ia seperti tidak percaya, jika Hana telah menikah dengan Arnal. Laki laki yang sudah menjalin hubungan begitu lama. Meski Erly tidak pernah bertemu Lunika, Erly selalu dapat pesan dari Romi sahabat dekat Lunika.
"Kenapa Romi tidak pernah memberiku kabar, lalu bagaimana dengan Lunika? apa Lunika menikahnya dengan Aden? tapi, kenapa Aden tidak bersama Lunika." Tanya Erly memberondong berbagai macam pertanyaan.
"Tidak, Lunika tidak menikah dengan Aden. Tetapi Lunika menikahnya dengan sahabat dekat Aden serta masih bersaudara." Jawab sang ibu menjelaskannya.
"Kok bisa begitu sih, Bu?"
__ADS_1
"Mana ibu tahu, Erly." Jawab sang ibu yang tidak mengerti.