Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Jalan jalan


__ADS_3

Saat dalam perjalanan menuju Restoran milik Tuan Kazza, Vellyn merasa canggung saat duduk didekat kakak iparnya. Sejak insiden itu, hubungan Vellyn mulai merenggang dan jarang melakukan aktivitas bersamaan. Tawa ceria yang dulu sudah seperti sahabat sendiri, kini semuanya telah berubah karena perintah dari seorang ayah nya sendiri. Dan kini Vellyn mulai merasa bingung untuk membuka suara, ditambah lagi sudah sekian lamanya jarang bepergian bersama dan bersenda gurau bersama.


"Oh iya Vell, bagaimana kabar Papa dan Mama dan juga Omma da Kakek di Amerika? baik baik saja, 'kan?" tanya Vey membuka suara.


"Iya kak Vey, Mama dan Papa maupun Kakek dan Omma, semuanya baik baik saja. Kakak kapan ke Amerika? Omma kangen, katanya." Jawab Vellyn.


"Kenapa sekarang ini kamu menjadi pendiam? masih takut sama Papa?" tanya Vey akhirnya membuka suara. Sedangkan Dey tetap fokus dengan setirnya, ya ... walaupun sedikit dapat mendengarkan pembicaraan sang istri dan adik perempuannya.


"Em ...." Vellyn pun bingung untuk menjawabnya.


"Kamu tidak perlu takut, Kak Vey dan Kak Dey tidak mempermasalahkan nya. Semua sudah takdir, tidak ada yang perlu untuk disalahkan. Mulai sekarang kamu tidak usah memikirkan kekesalan dari Papa, nanti biar Kak Dey dan Kak Vey yang akan menjelaskan nya sama Papa dan Mama."


"Tapi ..."


"Yang dikatakan Kakak ipar kamu itu benar, Vell. Kak Dey sudah tidak menyalahkan kamu lagi, semua sudah takdir. Kamu tenang saja, ada Paman Zayen yang akan mengatasinya. Kamu cukup berdoa saja, semoga Papa bisa terbuka hatinya untuk kamu." Ucap Dey ikut meyakinkan adik perempuannya.


"Sudah lah, yang harus kamu lakukan itu fokus dengan masa depan kamu selanjutnya. Bukankah Paman Zayen sudah memberimu waktu untuk menentukan jawaban tentang Arnal? pikirkan itu baik baik. Menikah hanya sekali, jangan kamu anggap pernikahan adalah lelucon." Kata Dey kembali mengingatkannya.


"Iya Vell, lebih baik kamu fokus dengan masa depan kamu. Pikirkan baik baik pilihanmu, jangan sampai penyesalan yang akan kamu dapatkan. Ikuti apa kata hati kecilmu, jangan paksakan diri jika hati kecilmu menolaknya." Ucap Vey ikut menimpali.


Vellyn hanya mengangguk, ia tidak tahu kalimat apa yang harus ia tuangkan untuk mengatakannya.


Vey yang mengerti akan situasi adik iparnya yang terlihat sedang dilema, Vey akhirnya memeluk adik iparnya untuk menenangkan pikirannya yang sedang tidak baik baik saja.


Vellyn yang mendapatkan pelukan dari kak iparnya pun merasa begitu nyaman, bahkan pelukan nya terasa hangat.


"Kita satu umuran, tetapi kamu tetap adikku Kamu tetap adik kecil dimata kami. Tetaplah seperti yang dulu, yang selalu ceria dan selalu berbagi cerita." Kata Vey sambil memeluk Vellyn.


"Kamu tahu?" Vellyn pun langsung merespon dan menggelengkan kepalanya.


"Kak Vey sangat merindukan mu, hari hari Kakak sangat sepi tanpa adanya kamu. Kejenuhan, kesepian, kebosanan, itulah yang Kak Vey rasakan tanpa adanya kamu." Ucap Vey sambil mengusap punggung milik Vellyn berulang ulang dengan pelan.


Setelah cukup lama mengobrol, akhirnya telah sampai di sebuah Restoran yang cukup megah dan juga mewah tentunya.

__ADS_1


Dey dan istri serta adik perempuannya segera turun dari mobil. Semua yang melihatnya tidak ada yang tidak memperhatikannya, semua memperhatikan kedatangan bagian keluarga Wilyam memasuki Restoran milik keluarga Danuarta.


Dey yang tak lepas menggandeng tangan istrinya, semua fokus dengan perhatian Dey pada sang istri.


"Sayang, Vellyn, kita duduk disudut sana aja ya. Sepertinya sangat cocok untuk menikmati makan malam. Sambil menunggu malam, kita bisa istirahat dan berbagi cerita disana. Kebetulan aku belum memesan tempat itu, jadi aku pesan dulu ya."


"Tidak perlu memesan, kalian tinggal meminta kode sama salah satu pelayan dan tunjukkan identitas kalian. Semua akan dilayani dengan baik, cobalah meminta kodenya. Aku sendiri lupa, karena bukan aku yang memegang Restoran ini. Restoran ini sudah ada yang mengendalikan, yakni pemuda dingin dan angkuh. Siapa lagi kalau bukan Kak Daka, noh orangnya." Ucap Kalla yang tiba tiba sudah berada di Restoran.


"Bukannya kamu masih di Amerika? oh iya, apa kabarnya?" tanya Vellyn.


"Aku baru aja pulang, bosan di rumah tidak ada orang. Oh iya, apa kabarnya Vell? sudah lama kita tidak pernah bertemu, makin betah aja kamunya di rumah Paman."


"Kabar aku sangat baik, mulai sekarang aku sudah tidak tinggal lagi di rumah Paman. Kak Dey sudah jemput aku, dan aku dilarang keras untuk menginap di rumah Paman."


"Mending lah masih ada Kakak yang perhatian, gak kaya aku. Punya Kakak sibuknya minta ampun dah, bikin kesal tau gak. Pinginnya tuh, punya Kakak kek sahabat sendiri, jadi kayaknya tuh bahagia banget. Bisa dijadiin teman curhat, teman berantem, dalan lain lainnya deh." Kata Kalla yang akhirnya berterus terang dengan keluhannya sendiri.


"Jangan disama ratakan, tidak baik. Nasibmu dan nasibku jika di total akan sama hasilnya, kita syukuri aja." Sahut Vellyn yang tidak suka untuk dibandingkan.


"Iya Vell, yang kamu katakan ada benarnya. Oh iya, aku pamit duluan ya. Kak Vey dan Vellyn, sampai ketemu lagi dilain waktu." Kata Kalla berpamitan.


Setelah bayangan Kalla tidak lagi nampak, Vey mengajak Vellyn untuk menyusul suaminya yang sudah lebih dulu untuk menuju ke tempat yang di pilih.


"Kak Vey, ternyata sudah lama juga ya, kita tidak pernah bepergian bareng kek gini. Aku juga sangat merindukan Kak Vey, lama banget tidak berbagi cerita." Ucap Vellyn membuka suara dan kemudian menggandeng tangan kakak iparnya.


Sesampainya didalam ruangan yang sudah dipilihkan oleh Dey, selanjutnya Vey dan Vellyn segera masuk kedalam ruangan yang dikhususkan untuk orang orang yang tidak ingin terganggu oleh orang lain yang lalu lalang kesana kemari.


"Wah ... ruangan ini sekarang sudah didesain sangat apik, bahkan bisa bikin ketagihan dan malas untuk pulang." Ucap Vellyn memuji sambil memperhatikan di sekelilingnya, kemudian ia segera duduk didepan kakak iparnya.


Tidak lama kemudian, beberapa pelayan membawakan makanan yang sudah Dey pesan.


Setelah semuanya tersajikan, Dey dan istri maupun sang adik perempuan nya pun menikmati makan malam nya.


Hening, didalam ruangan berubah menjadi hening ketika tengah menikmati makan malam nya. Tanpa malu malu Dey menyuapi istri yang dicintainya dihadapan adik perempuan nya.

__ADS_1


"Cie ... yang lagi nyalain kompor, biar panas dingin nih Aku nya, hem." Kata Vellyn yang mendapati sang Kakak begitu perhatian terhadap istrinya.


'Aku bisa gak ya, dapetin suami kek Kak Dey. Rasanya itu bahagia banget, nyaman juga sepertinya. Aaaa ... kenapa aku jadi pingin nikah, masa iya dengan Arnal. Yang bener aja itu Paman, kasih jodoh gak tanggung tanggung resehnya.' Batin Vellyn sambil mengunyah makanan nya.


Setelah selesai menikmati makan malam nya, kini lanjut menikmati irisan buah yang sudah tersaji diatas meja. Selanjutnya, Vellyn maupun kakak iparnya menikmati irisan buah yang sangat segar.


Setelah dirasa sudah cukup kenyang, akhirnya Dey membuka suara. "Malam ini mau pulang atau mau jalan jalan dulu? mumpung belum sampai di rumah nih." Tanya Dey pada adik dan istrinya.


"Jalan jalan dong, sayang ... sudah lama loh kitatidak pernah jalan jalan bareng." Jawab Vey setelah mengelap mulutnya dengan tissue.


"Aku nurut aja deh sama Kakak, mau pulang atau mau jalan jalan pun ok ok aja sih." Kata Vellyn ikut menimpali.


"Ya sudah kalau gitu, ayo kita lanjutkan perjalanan kita." Ajak Dey, kemudian ketiganya segera bangkit dari posisi duduknya.


Sedangkan di tempat lain, yakni tepat nya di luar Kota. Arnal tengah beristirahat ketika menghabiskan waktunya dengan pekerjaan nya, kini tinggal lelahnya.


Sesekali ia membuka ponselnya, niat hati ingin membuka gallery nya, namun ia urungkan. Ia pun menyadarinya, jika dirinya harus bisa untuk melupakan kenangannya dimasa lalunya.


"Lunika, mungkin kita hanya ditakdirkan hanya untuk saling mengenal. Sampai disini aku baru memahaminya, cinta mu bukan untuk ku. Mulai sekarang aku akan melupakan kamu, dan aku akan menata kehidupan ku yang baru. Ini pilihan masing masing, kamu bahagia bersama nya, dan aku bahagia dengan caraku." Gumam Arnal, kemudian ia mulai menghapus satu persatu foto Lunika yang ada di gallery nya.


Setelah tidak ada lagi beban yang cukup berat, akhirnya Arnal dapat bernapas dengan lega. Bayang bayang kegagalannya kini lambat laun telah berubah, rasa cinta, tidak rela, mencoba bertahan, namun berakhir untuk tetap bersabar dan lapang dada.


Karena waktu yang sudah malam, Arnal yang sudah merasa lelah dan sangat mengantuk pun langsung memejamkan kedua matanya untuk tidur.


Berbeda dengan Vellyn yang masih menikmati jalan jalan Malam hari bersama sang kakak dan kakak iparnya. Setelah dirasa cukup melelahkan, Dey mengajak istri dan adiknya untuk pulang ke rumah.


Karena tidak ingin kesehatan kakak iparnya terganggu, Vellyn pun mengiyakan ajakan dari sang kakak.


"Kak Vey, kita pulang aja yuk Kak ... aku ngantuk banget nih, soalnya besok harus bangun pagi dan olahraga." Ajak Vellyn beralasan dan mengajak kakak iparnya untuk pulang.


"Yakin nih?"


"Yakin lah, jugaan hampir larut malam. Tidak baik bergadang sampai larut malam, jugaan sudah ngantuk banget deh Kak." Jawab Vellyn dengan anggukan, Vey pun menyetujuinya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita pulang." Ajak Dey pada adik dan istrinya.


Setelah sepakat untuk pulang, akhirnya memutuskan untuk segera pulang.


__ADS_2