Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Teringat sesuatu


__ADS_3

Vellyn dan Kalla akhirnya bertemu, keduanya nampak senang. Disatu sisi, Tuan Kazza dan istrinya segera menemui keluarga lainnya yang tengah berkumpul bersama didalam ruangan yang sudah dijadikan tempat untuk berkumpul bersama keluarga besar.


"Hai, Kazza. Baru datang, kamu? apa kabarnya?" sapa Tuan Reynan dengan ramah.


"Baik, kamu sendiri? dimana Zakka?" tanya Tuan Kazza sambil mencari keberadaan saudara lelakinya.


"Zakka sedang di luar Negri bersama anak anak, kabar aku baik. Mana anak dan istrimu? aku dengar sebentar lagi kamu akan menikahkan putrimu dan juga putramu, benarkah?"


"Tahu dari mana, kamu? Dari Zayen pastinya 'kan?"


"Tidak juga, dari Paman Tirta. Apa iya, mau dijadikan pernikahan massal?"


"Jangan gi*la, kamu. Siapa yang mengatakannya?"


"Papa kamu, kenapa?" sahut dari seseorang yang tidak lagi muda. Tuan Kazza pun segera menoleh ke sumber suara.


"Papa, kenapa setega itu sama Cucu Papa?" tanya Tuan Kazza dengan kening yang berkerut.


"Siapa yang setega itu, lagian juga kamu tidak mengharapkan isi amplop 'kan? hem."


"Isi amplop, ya tidak lah Pa."


"Tenang aja, massalnya tidak sendirian."


"Maksudnya Papa?"


"Ada Vellyn puterinya Viko."


"Hemat ongkos nih ceritanya, sejak kapan Papa balajar ilmu kalkulator? hem." Kata Kazza pada Kakek Tirta, yang tidak lain sang ayahnya sendiri.

__ADS_1


"Sejak kamu punya anak Dua." Jawab Kakek Tirta sambil menatap serius putranya, Tuan Kazza sendiri hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian ia memilih untuk langsung pamit agar bisa menghindari perdebatan dengan sang ayah.


"Pa, Kazza pamit dulu. Kazza mau menemui keluarga yang lainnya." Ucap Tuan Kazza yang sudah ingin melarikan diri sari ayahnya.


"Pernikahan macam apa, coba. Tega teganya cucu dua duanya disuruh nikah massal." Gumam Tuan Kazza sambil berjalan mencari keberadaan saudara yang lainnya. Sedangkan Tuan Rey yang mendengarnya pun tertawa kecil saat melihat anak dan orang tua yang tengah membuat lelucon.


Setelah semuanya berkumpul di kediaman Tuan Zayen, kini diantaranya tengah memilih berkumpul secara acak untuk mengobrol dan menikmati cemilan yang sudah disajikan oleh para pelayan.


Sedangkan di dalam perjalanan, Arnal dan Romi tengah mengendarai mobilnya masing masing.


Ssssssttttttttt


"Kenapa ini mobil, si*al!" umpat Arnal sambil memukul setirnya cukup kuat. Kemudian, Arnal segera turun dari mobil umtuk mengecek mobilnya.


Sedangkan mobil yang ada dibelakangnya pun telah berhenti karena paham siapa pemilik mobil yang Arnal kendarai. Secepatnya ia langsung menepikan mobilnya dan segera turun untuk menghampirinya.


"Arnal, kenapa dengan mobilmu?" tanyanya mengagetkan.


"Sudah lah, kamu tinggal hubungi orang bengkel. Kita berangkat bareng aja, jugaan nanti bisa terlambat kamu, bisa berabe nantinya." Ujar Romi memberi saran, Arnal pun menurutinya. Kemudian ia segera menghubungi pihak bengkel untuk mengurus mobilnya yang macet.


"Sudah? kalau sudah, ayo kita berangkat." Ajak Romi, Arnal pun mengangguk dan keduanya segera naik mobil.


Selama perjalanan, keduanya saling bertukar cerita mengenai pekerjaan nya masing masing.


"Sebenarnya ada acara apaan dirumah Tuan Zayen? sampai sampai kita diundang segala." Tanya Arnal penasaran.


"Mana aku tahu, orang aku aja dapat pesannya tadi siang. Mau tanya, tanya siapa? sekretaris ku aja judesnya minta ampun." Jawab Romi sambil fokus menyetir mobilnya.


"Awa, nanti jadoh loh." Ledek Arnal dengan tawa kecil.

__ADS_1


"Hem, mana ada bisa jodoh. Jauh banget perbandingannya, antara langit dan bumi." Kata Romi.


"Maksud kamu?" tanya Arnal penasaran.


"Maksud aku, yang jadi sekretarisku itu anaknya Tuan Kazza. Yang benar aja berjodoh denganku, yang ada juga orang yang sama tajirnya." Jawab Romi memberitahukannya.


"Kata siapa? buktinya aja Lunika, buktinya juga bisa diterima oleh keluarga Tuan Zayen. Satu lagi, bukan kah keluarga Wilyam dan keluarga Danuarta terkenal tanpa pandang bulu, buktinya aja tetap jadi orang kaya terus." Ucap Arnal mengingatkannya.


"Cih! kenapa kita membahas hal yang begitu halu, sudah lah jangan ngomong yang aneh aneh. Bayangin itu cewek aja udah bikin gedek, apa lagi bertemu dengan nya." Kata Romi berdecak kesal.


"Romi, Romi, gini amat ya kita. Kenapa juga kita jadi jomlo yang bersamaan, udah gitu masih betah dengan status kita ini. Elu sih, coba kalau ..." tiba tiba Arnal menghentikan ucapannya. Dirinya pun lupa, jika sekarang ini bukan lah masa yang dulu yang dimana sering bersenda gurau dan saling bercerita bersama.


Disaat itu juga, Romi menoleh kearah Arnal. "Kalau apa, Arnal? maksud kamu itu kalau saja kamu bisa menikah dengan Lunika, begitu? semua sudah berubah, Arnal." Kata Romi menyadarkan Arnal dari bayangan masa lalunya.


"Iya, aku tahu itu. Maafkan aku, mungkin karena rasa cintaku pada Lunika yang sudah begitu besar. Sampai sampai aku harus menjadi egois, dan lupa dengan waktu yang sekarang ini. Waktu yang begitu nyata untukku, bod*oh nya aku." Ucap Arnal dengan prustasi.


"Makanya, buruan menikah. Kamu tidak perlu mengingat masa lalu mu, simpan saja kenang kenangan mu itu. Tidak perlu kamu mengingatnya lagi, cukup menjadi pelajaran untuk kamu." Kata Romi mengingatkan, berharap sahabatnya akan menerima dengan lapang atas masa lalunya yang tidak sesuai harapan nya.


"Aku akan mencobanya, dan aku akan segera mencari perempuan yang mau menjadi istriku. Meski itu dari perjodohan sekalipun, aku akan mencobanya." Ucap Arnal dengan segala kepasrahannya, Romi yang mendengarnya pun langsung mengernyitkan keningnya.


"Tidak segitunya juga, kali. Pasrah sih pasrah, tapi juga harus dikoreksi benar benar, tidak asal menikah. Memangnya kamu mau, punya istri yang tidak sesuai selera mu. Jangan gi*la dong, Arnal. Gi*la sih gi*la, tapi jangan dibuat buat juga, kali." Sahut Romi sambil menyetir mobilnya.


Selama perjalanan dan banyak mengobrol, tidak terasa telah sampai di halaman rumah Tuan Zayen. Dilihatnya sudah banyak mobil yang berjejer jejer, semua mobil benar benar membuat Arnal dan Romi tercengang melihatnya.


"Arnal, yang benar aja nih. Mobilnya banyak banget, mobil Sultan, lagi. Kita kek mana masuknya, kita loh ini siapa? jadi minder gue."


"Iya juga ya, jadi masuk tidak nih? malu gue." Kata Arnal yang juga merasa bingung ketika mendapati banyak mobil yang berjejer di halaman rumah Tuan Zayen.


"Kita tanya aja dulu sama penjaga rumah, biar kita tidak salah masuk. Takutnya ada acara yang sangat penting, kan kita jadi malu nantinya." Ucap Romi yang juga berubah menjadi gelisah, bahkan bingung harus bagaimana, pikirnya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita temui salah satu diantara mereka. Agar kita tidak salah jalur, ayo cepetan." Ajak Arnal yang sudah tidak sabar.


__ADS_2