
Karena malas berdebat, Dey memilih untuk segera bersiap siap untuk pergi dari apartemen. Setidaknya dirinya tidak berada dalam satu ruangan bersama istri yang tidak diharapkan atas kehadirannya masuk dalam kehidupannya.
Vey yang melihat Dey berpenampilan santai, ia pun tidak begitu memperdulikan atas apa yang dilakukan Dey.
"Kalau kamu lapar, kamu tinggal pesan saja lewat online. Aku tidak bisa memastikan kapan aku akan pulang, yang jelas kamu tidak perlu tahu. Jaga diri kamu baik baik didalam Apartemen ini, jangan ceroboh. Awas aja kalau ada barangku yang rusak, aku pastikan akan meminta gantinya." Ucap Dey sebelum pergi meninggalkan Vey, sedangkan Vey hanya mengangguk.
"Bagus lah kalau kamu mengerti, aku pergi." Ucapnya lagi, kemudian segera pergi begitu saja.
Vey yang merasa sendirian, ia merasa kesal dengan apa yang dilakukan oleh suaminya. Vey sendiri akhinya memutar otaknya untuk mencari ide, berharap ia tidak merasa kesepian.
"Ahai! aku tahu sekarang, aku mau meminta Yeni untuk mampir ke Apartemen ini ketika dia pulang dari Kantor. Eh! iya, ini kan hari libur. Bagus lah, aku bisa memintanya untuk datang sekarang juga sekalian aku suruh bawa makanan. Sip! aku akan menghubunginya, enak saja dia yang bisa pergi keluar. Sedangkan aku terkurung bak seperti burung dalam sangkar." Gumam Vey sambil tersenyum mengambang saat idenya muncul ketika dirinya merasa kesepian dan tidak memiliki teman satupun untuk menemaninya.
Sedangkan di tempat lain, yaitu tepatnya di kediaman Tuan Zayen. Dengan teliti, Lunika memeriksa perlengkapan sang suami untuk pergi ke luar Kota.
Dengan wajah yang terlihat murung dan tidak bersemangat, Lunika berusaha untuk tetap terlihat tenang dan tidak menunjukkan wajah tegangnya.
Zicko yang mengerti akan perasaan sang istri, ia akhirnya meraih tangannya dan menuntunnya ketepi ranjang. Kemudian Zicko mengusap lembut perut istrinya yang terlihat sudah besar, Zicko pun mengecupnya dengan penuh kasih sayang.
"Untuk buah hatiku yang Daddy rindukan, kamu baik baik ya sayang. Baik baik bersama Bunda kamu, tunggu Daddy pulang, ok! Daddy akan bekerja keras untuk kamu dan Bunda." Ucap Zicko sambil mengusap lembut perut istrinya.
Seketika, Lunika menitikan air matanya. Seakan perasaannya berkata atas ketidakrelaannyw untuk melepaskan suaminya pergi jauh darinya.
Zicko yang melihat istrinya menitikan air matanya pun, segera ia mengusapnya dengan ibu jarinya dengan pelan. Kemudian mengecup keningnya, dan memeluknya.
__ADS_1
Tangis Lunika semakin terisak saat dirinya mendapatkan pelukan dari suaminya.
"Sayang, sudah dong nangisnya. Aku pergi hanya sebentar, lagian juga tidak jauh jauh amat. Aku ditemani oleh banyak pengawal, jadi kamu tidak perlu takut." Ucapnya mencoba menenangkan perasaan gundah pada istrinya.
"Aku takut, diantara kita akan ada yang berpisah. Aku sangat takut, aku tidak ingin ada nasib yang sepertiku. Kamu tahu? sakit rasanya harus berpisah dengan orang yang kita sayangi, aku tidak mau itu terjadi." Jawab Lunika yang tidak dapat memungkiri akan kekhawatirannya terhadap keselamatan suaminya maupun anak yang didalam kandungannya.
"Suda sudah, kamu jangan larut dalam kesedihan. Percayalah denganku, semua akan baik baik saja. Kamu cukup jaga diri dengan baik, doakan aku, itu sudah lebih dari cukup." Ucap Zicko meyakinkan sang istri agar tidak semakin terbawa dengan pikiran buruknya.
Lunika yang tidak mampu berucap sepatah kata hanya bisa berdiam diri tanpa menunjukkan muka cerianya, justru muka lesunya yang masih terlihat begitu sangat jelas didepan suaminya. Meski Zicko sudah berusaha menasehatinya, namun Lunika tetap saja masih terlihat gunda gulana.
"Zicko, apakah kamu sudah siap?" tanya sang Ayah ditemani sang ibu ketika masuk kedalam kamar putranya.
"Sudah siap semuanya, Pa." Jawab Zicko dengan benar. Sedangkan Lunika sendiri memilih untuk diam, ia takut membuat mertuanya merasa kecewa karena ulahnya yang merasa keberatan atas kepergian suaminya.
'Semoga saja hari ini bukanlah hari perpisahan yang sesungguhnya, aku benar benar tidak sanggup jika harus melewatinya.' Batin Lunika yang seakan mengerti akan ada sesuatu yang tidak baik untuk rumah tangganya.
"Permisi, Tuan. Apakah barang bawaannya sudah bisa untuk dibawa turun?" tanya seseorang yang sudah menjadi kepercayaan orang tuanya.
"Semuanya sudah siap, dan tidak ada satupun barang yang tertinggal." Sahut Zicko sambil mengenakan jam tangannya, sedangkan Lunika membantu suaminya untuk mengenakan dasinya.
"Baik lah, kalau begitu akan saya bawa turun." Ucap seseorang yang sudah menjadi kaki tangan yang sangat handal.
Ibu mertua yang begitu kasihan melihat menantunya terlihat sedih, segera Beliau mendekatinya.
__ADS_1
"Lunika, bersabarlah. Suami kamu pergi hanya sebentar, percayalah pada Mama. Zicko tidak akan lama diluar Kota, dan pastinya akan segera pulang. Kamu tidak perlu takut, Mama dan Papa yang aka bertanggung jawab atas keselamatan kamu sampai kapanpun." Ucap ibu mertua yang juga ikut menenangkan perasaan menantunya yang tengah gunda gulanya karena harus berpisah dengan suami tercintanya.
"Kamu harus bersemangat, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua. Disaat itu juga, kita tidak sendirian lagi. Kamu harus bisa demi buah hati kita, sayang." Ucap Zicko ikut menimpali.
"Iya, aku akan terus bersemangat demi buah hati kita. Aku akan selalu berdoa untukmu, aku percaya denganmu." Jawab Lunika, kemudian Zicko kembali memeluknya.
Setelah selesai berbicara dan tidak ada lagi yang akan di pertanyakan, semua segera khas dari kamar. Zicko sendiri menuntun istrinya untuk turun kebawah lewat jalan pintas, sedangkan kedua orang tuanya lewat anak tangga.
Kini telah berada didepan rumah, Lunika berusaha untuk tetap tegar saat melihat suaminya tengah memeluk kedua orang tuanya. Setelah itu untuk giliran dirinya saling berpelukan, lalu Zicko mencium lembut kening milik istrinya dan juga perut besarnya.
"Kesayangannya Daddy, baik baik dirumah, sayang." Ucap Zicko dan mengusap perut istrinya, Lunika pun berusaha untuk tersenyum.
"Jangan lupa, hubungi aku jika sudah sampai. Setidaknya ada kabar darimu, itu sudah membuatku tenang." Pinta Lunika, sedangkan Zicko pun mengangguk.
"Iya, sayang. Aku akan menghubungi kamu, percayalah denganku." Jawab Zicko dengan senyumnya.
Karena todak ingin banyak drama didepan rumah, Zicko segera masuk kedalam mobil sambil melambaikan tangannya. Lunika serta ayah dan ibu mertuanya pun tetap masih berdiri dengan posisinya hingga bayangan mobil yang dinaiki Zicko tidak lagi terlihat bayangannya.
"Lunika, ayo kita masuk. Sekarang Zicko sudah berangkat, kamu masih ada Mama dan juga Papa. Sebentar lagi Vellyn datang ke rumah untuk menjadi teman kamu, agar kamu tidak sendirian." Ajak sang ibu mertua.
"Iya Ma, terima kasih banyak atas semua perhatian dari Mama untuk Lunika dan sang buah hati.
Sedangkan di luaran, tepatnya dusebuah markas yang sulit untuk ditemukan. Ada seseorang yang tengah duduk dengan santai dengan orang yang sudah diajaknya bekerja sama, orang tersebut tengah membicarakan sesuatu sambil menatap layar pintarnya, dia seorang yang handal melakukan apapun.
__ADS_1
"Lihat lah, aku akan berhasil melakukannya. Semua tidak akan ada yang bisa menebak siapa aku dan nasibbya, semua akan diluar dugaannya." Ucapnya dengan yakinnya.