
Pagi yang cerah, namun tidak secerah pandangan Lunika ketika berada di taman belakang. Dengan lesu dan tidak memiliki rasa bersemangat, Lunika berjalan mengelilingi taman dibelakang rumah.
Diwaktu itu juga, tiba tiba Lunika merasakan sesuatu pada area pinggulnya. Kemudian menjalar keseluruhan pada perutnya.
"Aw! perutku, kenapa dengan perutku. Aduh! erutku sakit, aw! kenapa ini Vell, rasanya sakit banget." Jerit Lunika sambil memegangi area perut bagian bawah, sedangkan Vellyn berubah menjadi panik.
"Kak, Kak Lun kenapa?" tanya Vellyn dengan cemas.
"Tante! Kak Lun kesakitan, Tante cepetan datang kesini ke taman belakang." Teriak Vellyn sambil menangani kakak iparnya disertai kecemasan yang begitu besar, Vellyn terus membantunya untuk memapah kakak iparnya yang meringik kesakitan.
"Lunika! kamu kenapa, sayang?"
"Sakit, Ma. Perut Lunika sangat sakit, aw!" ringik Lunika sambil memegangi pinggulnya yang teramat sangat sakit.
Dengan cekatan, beberapa orang kepercayaan Tuan Zayen segera mengantarkannya ke rumah sakit dengan kondisi Lunika yang semakin melemah dan juga wajah yang semakin terlihat pucat. Vellyn maupun sang ibu mertua semakin khawatir akan kondisi Lunika yang terlihat sangat mengkhawatirkannya itu. Sedangkan Tuan Zayen segera menyusul ke rumah sakit dengan perasaan cemas serta khawatir, ketika mendapatkan kabar dari salah satu anak buahnya.
"Ma ...." panggilnya dengan suaranya yang semakin melemah.
__ADS_1
"Iya sayang, sabar Nak. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit, tahan sebentar ya sayang." Sahut ibu mertuanya sambil mengusap pucuk kepala menantunya dengan cemas.
"Suami Lunika, Ma ... dia baik baik saja, kan Ma?" tanya nya lirih dengan nafasnya yang berat akibat menahan kontraksi yang begitu hebat.
"Sayang, jangan berbicara seperti itu. Suami kamu baik baik saja, sayang. Tarik nafasmu pelan, atur dengan baik. Jangan pikirkan sesuatu yang membuatmu bersedih, tinggal beberapa hari lagi Zicko akan segera pulang. Percayalah dengan Mama, sebuah akan baik baik saja. Sekarang kamu fokus dengan untuk sang buah hati ya, sayang." Jawab sang ibu mertua mencoba untuk menenangkan pikiran buruk pada menantunya yang sedang merasakan kontraksi yang begitu hebat untyk dirasakan.
Tidak memakan waktu yang cukup lama, Lunika telah sampai di rumah sakit. Dan kini telah berada di ruang persalinan, perasaan tidak karuannya pun telah menghantuinya disetiap kontraksi berlanjut.
Dengan kuat, Lunika menggigit bibir bawahnya karena menahan rasa sakit yang teramat sulit untuk ditahannya. Berkali kali Lunika mencengkram pada seprei untuk menahan rasa sakitnya yang terus memburu.
"Ibu, sakit Bu ... perut Lunika sangatlah sakit." Ringik Lunika pada ibu asuhnya, sedangkan ibu kandungnya berada diluar bersama ibu mertuanya dengan Tuan Guntara dan kakek Dana.
"Anakku, ibu sudah mengenalmu begitu lama. Dan kamu Lunika, kamu adalah putri ibu yang sangat ibu banggakan akan ketangguhanmu dan juga anak Ibu yang kuat. Seberapa banyak ujian kamu, dan sudah seberapa banyak kesabaran kamu untuk melewatinya. Kamu mampu melewatinya, bahkan hinaan demi hinaan kamu mampu menghadapinya. Lalu kenapa kamu harus lemah, sayang? buktikan pada buah hati kamu jika kamu adalah seorang Ibu yang kuat dan tangguh, meski kamu harus berjuang sendiri. Namun percayalah pada Ibu, ada suami yang jauh disana tengah mendoakan kamu dengan tulus. Berjuanglah, sayang ... demi anak yang akan kamu lahirkan, dan juga demi suami yang jauh disana yang juga ikut menunggu kehadiran sang buah hati." Sahut sang ibu asuh sambil mengusap lembut pucuk kepala putri kesayangannya.
Meski Lunika bukanlah putri kandungnya, namun kasih sayang dari seorang ibu asuh sepenuhnya ada pada Lunika. Beritahun tahun hidup bersama suka maupun duka, bahkan kedekatan lebih banyak pada ibu asuhnya. Walaupun Lunika sendiri sudah dipertemukan dengan ibu kandungnya sendiri, namun kedekatan tidak dapat tergantikan.
"Bu, jangan tinggalkan Lunika. Temani Lunika sampai perjuangan ini berakhir bahagia, Lunika hanya ingin bersama Ibu. Lunika tidak ingin jauh dari Ibu, karena Ibu adalah segalanya untuk Lunika. Lunika tidak sanggup jika harus sendirian untuk berjuang, temani Lunika ya, Bu." Rengek Lunika sebagaimana ia masih kecil dahulu, hidupnya jauh dari kata manja. Bahkan ia harus menahan sesak ketika ingin bermanja manja seperti teman sebayanya, sedangkan Lunika harus menyimpannya dangan rapat rapat atas kerinduan kasih sayang dari vigur seorang ibu serta vigur dari seorang ayah.
__ADS_1
Begitu berat perjalanan hidup Lunika yang kurangnya kasih sayang seperti anak anak pada umumnya, sedangkan Lunika harus menghadapinya kehidupannya dengan keras. Dan kini ia harus menahan sesak didada saat buah hatinya tanpa ada seorang ayah ketika lahir.
Pikiran Lunika kembali di masa kecilnya yang harus berpisah dengan kedua orang tuanya, ia benar benar ketakutan jika sesuatu yang dikhawatirkan akan kembali pada sang buah hati. Semakin berkali kali kontraksi, kini jaraknya yang semakin lebih cepat disetiap beberapa detiknya kembali kontraksi.
Sekuat tenaga, Lunika berusaha untuk menahannya hingga sampai bukaan yang terakhir. Sedangkan sang ibu asuh yang tidak ada henti hentinya untuk selalu menasehati serta menguatkan putrinya untuk tetap kuat dan dapat melahirkan secara normal.
"Percayalah sama Ibu, anak kamu tidak akan mengalaminya hal buruk seperti yang kamu pikirkan. Tenangkan pikiran kamu, sayang. Buatlah bahagia untuk menyambut kehadiran sang buah hati yang sudah kamu nanti nantikan bersama suami kamu atas kehadirannya ke Dunia ini." Ucapnya untuk meyakinkan, berharap pikiran Lunika tidak dihantui dengan kecemasan yang dapat memicu sulitnya melahirkan dengan normal.
Sedangkan tidak lama kemudian, Tuan Zayen mendapatkan panggilan dari putranya. Kemudian Beliau segera menerima panggilan tersebut, lalu segera menyerahkan pada menantunya yang sedang berada di ruang persalinan untuk berjuang melahirkan cucu pertamanya.
"Lunika, ini ada panggilan video dari suami kamu. Terimalah, dan buanglah kekhawatiran kamu. Ini, Zicko yang sudah tidak bersabar untuk mendengarkan suara kamu." Ucap sang ayah mertua menyerahkan ponselnya, senyum mengembang terlihat jelas pada kedua sudut bibir Lunika. Meski senyumnya sambil menahan rasa sakit karena kontraksi yang hebat hingga tidak terkira rasanya. Bahkan sulit untuk dijelaskan lewat kata kata, hanya seorang ibu melahirkan yang dapat mengerti bagaimana rasanya itu kontraksi hebat.
Sambil menahan rasa sakit, Lunika berusaha untuk menyembunyikan. Ia sendiri tidak ingin sang suami melihat kelemahannya ketika akan berjuang untuk melahirkan sang buah hati, Lunika tetap menunjukkan sikap tenang dibalik layar ponsel yang ia pegang.
"Sayang ... maafkan aku, ya. Maafkan aku yang tidak bisa menemanimu tatkala kamu sedang berjuang demi buah hati kita. Aku janji, secepatnya aku akan usaha untuk segera pulang. Bersabarlah, aku pasti kembali. Jangan bersedih, aku akan menemanimu lewat video ini. Berjuanglah untuk buat hati kita, aku mendoakanmu dari sini." Ucap Zicko menyemangati, meski dirinya sendiri ingin rasanya berada disamping istrinya. Menemani dikala berjuang demi sang buah hati yang sudah dinanti nantikan kehadirannya.
Lunika hanya mampu tersenyum, meski rasa yang ia tahan sangatlah tidak karuan pada bagian pinggulnya yang teramat sakit. Bahkan begitu sulit untuk ia jelaskan rasanya kontraksi yang baru pertama kalinya ia rasakan, begitu dasyat yang tidak tidak pernah ia duga sebelumnya.
__ADS_1