Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Berusaha


__ADS_3

Zicko yang tidak mendapat respon dari putranya, ia berusaha untuk bersabar. Meski cukup menguras pikirannya, ia tidak gentar untuk melewatinya.


"Ah iya, aku ada ide." Ucap Zicko teringat sesuatu.


"Ide apaan, sayang?" tanya Lunika sambil menggendong putra kesayangannya.


"Bagaimana kalau hari ini kita puas puasin untuk jalan jalan, sayang? mulai hari ini aku tidak akan pergi ke Kantor sebelum Niko mengenaliku." Jawab Zicko penuh harap, Lunika yang melihat perjuangan suaminya untuk dekat dengan putranya pun dirinya merasa sedih saat melihat ekspresi pada suaminya yang begitu terlihat menyimpan kerinduan pada putra nya.


"Iya, aku setuju. Semoga dalam waktu dekat ini, Niko akan cepat mengenalimu dan lebih dekat lagi dengan mu. Bersabar lah, aku akan selalu ada untuk mu." Ucap Lunika menyemangati sang suami, Zicko yang merasa mendapat dukungan dari sang istri akhirnya tersenyum lega.


"Aku janji, aku tidak akan pernah meninggalkan kalian berdua lagi. Cukup lah masa lalu untuk dijadikan pelajaran, meski masih banyak lagi pelajaran yang harus kita ambil. Setidaknya kita bisa belajar dari masa lalu." Sahut Zicko, kemudian ia mencium kening milik istrinya lalu beralih mencium pipi kanan milik putra kesayangannya dan tersenyum.


"Ma ma, Ma ma." Kata Niko panggil panggil sebut ibunya, lagi lagi Zicko hanya tersenyum melihat putranya.


"Sayang, ini Papa. Coba panggil Pa pa, lagi coba, Pa pa." Ucap Lunika kembali mengajari putranya untuk memanggil ayahnya dengan sebutan Papa.


"Akek, kekek." Kata Niko dengan susah payah mengingat sosok laki laki yang selalu bersamanya.


"Kok Kakek sih, sayang. Pa pa, coba Niko ulangi lagi, ya. Pa pa, Pa pa." Lagi lagi Lunika mengajari putranya sambil menatap wajah yang begitu menggemaskan, sedangkan Niko terus mencoba mengikuti gerak gerik sang ibu yang tengah berucap.


"Ap pa, Akek." Lagi lagi Niko masih salah pengucapannya, yang diingatnya adalah sang kakek yang selalu bersamanya. Bukannya bersedih, kini Zicko mulai tertawa kecil saat melihat serta mendengarkan putranya mencoba memahami apa yang diucapkan ibunya.


"Jangan dipaksakan, aku akan bersabar sampai waktunya tiba. Wajar saja jika Niko tidak terbiasa memanggil sebutan Papa, karena dari kecil Niko selalu dekat dengan Papa, Mama, dan juga kamu. Jadi ya wajar saja, jika Niko masih sulit dalam pengucapannya." Kata Zicko yang mengerti dengan keadaan sebelumnya.


"Maafkan aku ya, sayang. Bukannya aku tidak mengenalkan kamu denga Niko. Aku sudah memperlihatkan nya dengan foto kamu untuk memanggilmu dengan sebutan Papa, tetapi dia tidak pernah mau. Bahkan foto kamu selalu di robek, jika sebuah video yang dilihat, Niko selalu melemparnya. Mungkin ini jawabannya, karena kamu telah merubah fisikmu lewat wajahmu. Mungkin perasaan anak lebih kuat dari pada orang dewasa, maka bersabar lah. Aku yakin jika nantinya Niko akan sangat dekat dengan mu, untuk sekarang kamu hanya berusaha untuk bersabar." Ucap Lunika menjelaskannya.

__ADS_1


"Iya sayang, aku akan terus bersabar sampai aku berhasil mendapatkan hatinya Niko. Kalau begitu, ayo kita keluar dan sarapan pagi. Agar nanti kita tidak kesiangan untuk jalan jalan, sudah lama juga kita tidak pernah pergi bersama walau hanya sekedar cari cemilan." Kata Zicko dan mengajak istrinya untuk segera sarapan pagi serta untuk mengajaknya keluar bersama anak dan istri tercintanya.


"Wah ... jagoan Omma udah ganteng aja nih, pasti mau jalan jalan kayak nya deh."


"Iya dong ganteng, siapa dulu Papa nya, Zicko Wilyam." Sahut Zicko dengan bangga.


"Nah! kan ... emaknya tidak disebut." Timpal Lunika menyindir, disaat itu juga Zicko menyadari akan ucapannya sendiri.


"Iya ya, kok lemes gini ngucapinnya." Kata Zicko yang baru menyadarinya.


"Hem, kepanjangan kali kalau di suruh sebut semuanya. Masa iya, iya dong ganteng, siapa dulu Papa Mama nya, kan gimana begitu." Kata Lunika ikut menimpali, Zicko hanya nyengir pasta gigi.


"Emma, Akek, maem. Ap pa, maem." Kata Niko sambil menunjukkan makanan yang ia pegang, Zicko yang mendengarnya pun tertawa kecil saat dirinya ikut disebutkan dengan sebutan Ap pa.


"Ap pa, Ap pa, maem." Panggil Niko sambil menyodorkan makanan yang ada ditangannya berniat untuk menyuapi ayahnya.


Zicko sedikit membungkukkan badannya, Niko pun menyuapi nya. Senyum bahagia sekaligus terharu saat putranya menyuapi makanan untuk dirinya.


"Ap pa, enak?" tanya Niko mengajak ayahnya untuk mengobrol tanpa ada rasa takut lagi.


Disaat itu juga Zicko menitikan air mata bahagia nya, yang dimana dirinya telah mendapat respon dari putranya sendiri.


"Enak, sekali. Anak pintar, jagoan Papa. Sekarang giliran Papa yang akan menyuapi Niko, ya? buka mulutnya, aaaa, aem." Ucap Zicko sambil mengajari untuk membuka mulutnya, Niko pun nurut dengan apa yang diajarkan oleh ayahnya, kemudian Niko menerima suapan dadi sang ayah.


Lunika dan kedua orang Zicko ikut bahagia ketika melihat Niko yang mudah untuk beradaptasi, dan mudah untuk mengenalinya.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain, yakni di Bandara xxx ada seorang laki laki yang sedang menunggu kepulangan seorang gadis cantik yang baru saja selesai mengenyam pendidikan nya di Luar Negri.


"Kenapa tidak ada satupun orang yang aku kenal sih? capek tau nunggunya, bagaimana ini? jangan jangan aku dikerjain lagi." Gumamnya sambil celingukan.


"Nona Vellyn? benarkah?"


"Iya, Anda siapa?"


"Saya sekretaris nya pak Deyzan, Arnal."


"Arnal? yang bener aja, bukankah Arnal mantan nya kak Lunika? lebih tepatnya orang kepercayaan nya kak Zicko. Terus kenapa kok bisa jadi sekretarisnya kak Deyzan? terus Romi nya kemana? bukankah Romi sama kak Deyzan."


"Itu dulu, lain lagi kalau sekarang. Mari Nona, saya akan antarkan pulang."


"Pulang kemana? ke rumah kak Dey?"


"Bukan, tetapi di rumah Tuan Zayen."


"Apa!! kok di rumah Paman? kenapa tidak di rumah kak Dey aja sih?"


"Maaf Nona, untuk soal itu Nona tidak diizinkan untuk protes, ini bukan ajang promo."


"Dih, siapa juga yang protes. Aku kan cuma tanya, itu saja sih. Lagian juga lebih nyaman di rumah Paman, ada Niko lagi. Tidak hanya itu, ada kak Zicko juga, pastinya sangat ramai. Tapi ... kasihan juga dengan kak Dey, sampai sekarang kak Vey dan kak Dey belum juga diberi momongan."


"Maka dari itu Nona, lebih baik Nona tinggal di di rumah Tuan Zayen untuk menghindari ucapan yang bisa saja terucap dari bibir Nona." Kata Arnal mencoba untuk mengingatkan, sedangkan Vellyn hanya bisa mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2