
Walaupun hampir gelap, Rayan yang sudah mulai bosan. Segera ia berpamitan untuk pulang, namun tidak untuk bersama Lunika.
"Tuan, saya izin untuk pulang lebih dahulu. Permisi, untuk malam ini saya tidak akan membawa putri Tuan. Saya mengerti akan statusnya yang memiliki sang buah hati, namun untuk hari kedepannya saya pastikan akan membawa cucu kesayangan milik Tuan." Ucap Rayan berpamitan, Lunika sendiri tidak peduli sedikitpun.
"Silahkan jika ingin pulang duluan, ditunggu kedatanganmu." Jawab Tuan Zayen. Dengan hormat santun, Rayan mencium punggung tangan milik Tuan Zayen dan sang istri, dan juga milik Tuan Seyn.
Setelah berpamitan, tinggal lah Lunika yang masih berdiam diri dan tidak bergeming. Nyonya Afna yang mengerti akan perasaan Lunika, segera menggandeng tangannya dan mengajaknya untuk pulang.
"Ayo kita pulang, sayang. Jangan berpikiran yang tidak tidak, nanti yang ada pikiran kamu akan bertambah runyam. Percayalah sama Mama, semua akan baik baik saja." Ucap sang ibu mertua meyakinkannya, Lunika sendiri hanya mengangguk lemas.
Selama dalam perjalanan, Lunika hanya melamun sambil bersandar pada jendela kaca mobil. Sekujur badannya seakan sudah tidak lagi berdaya, ditambah lagi harus tinggal bersama suami yang tidak ia kenali. Perasaan Lunika semakin tidak karuan, yang ada dalam benak pikirannya hanya Zicko dan Zicko.
"Jangan melamun, tidak baik buat kesehatan. Oh iya, bagaimana acara reuni bersama teman teman sekolahmu?" tanya sang ibu mertua membuka suara, tepatnya mengagetkan Lunika yang tengah melamun.
Seketika, Lunika teringat akan sebuah minuman yang ia minum hingga tandas.
"Dewi! iya, Dewi ikut dalam aksi jebakan itu yang mengarah padaku." Sontak Lunika dengan reflek, bahkan sang ibu mertua hanya mengernyit ketika Lunika berucap secara tiba tiba.
"Jebakan? maksudnya?" tanya sang ibu mertua sambil menatap Lunika dengan lekat. Sedangkan Tuan Zayen dan Tuan Seyn tetap diam dan tenang, bahkan Beliau hanya menjadi pendengar setia.
__ADS_1
"Iya Ma, waktu Lunika menghabiskan minuman yang disodorkan oleh temen Lunika, dan disitulah Lunika tidak sadarkan diri. Awalnya sih terasa pusing dan pandangan Lunika semakin kabur, lalu dengan mudahnya Lunika jatuh tidak sadarkan diri. Dan ketika sadar, Lunika sudah berada dalam satu kamar bersama lelaki tadi. Anehnya, kenapa ada barang yang menjijikkan itu." Jawab Lunika menjelaskan, sedangkan sang ibu mertua hanya tersenyum mendengarnya.
"Kok Mama senyum senyum gitu, ada yang lucu ya Ma?" tanya Lunika penuh keheranan.
"Tidak, tidak ada yang lucu kok sayang. Sudah lah, kamu jangan banyak pikiran. Yang terpenting sekarang ini kamu fokus dengan perjalanan hidupmu yang baru, semoga kamu mendapati kebahagiaan setelah lama berpisah dengan Zicko. Jangan menyiksa diri, kamu berhak bahagia bersama keluarga kecil kamu. Niko tidak hanya butuh kasih sayang darimu, tetapi juga sosok figur dari seorang ayah." Jawab sang ibu mertua menasehati, Lunika hanya mengangguk dengan perasaan yang sulit untuk dituangkan. Antara sedih dan kecewa, hanya itu yang sedang Lunika rasakan.
Setelah sampai dihalaman rumah Tuan Guntara, keempatnya segera turun termasuk Tuan Seyn yang mobilnya telah dititipkan dirumah sang Paman.
"Lunika, tunggu sebentar." Panggil sang ibu mertua.
"Mau ikut pulang bareng Mama, atau ... mau menginap di rumah kedua orang tua kamu. Karena besok pagi suami kamu akan menjemput kamu, maka kamu pilih untuk pulang bersama Mama atau menginap di rumah kedua orang tua kamu." Ucap Nyonya Afna memberi pilihan.
Terasa berat baginya untuk meninggalkan ibu mertuanya, terasa mimpi jika dirinya harus pergi dan keluar dari rumah yang menurutnya sudah membuatnya nyaman. Bukan karena kemewahan, melainkan terasa damai dan membuatnya merasa tenang. Meski tidak ada seorang suami yang mendampinginya, namun sosok seorang anak yang membuatnya mampu untuk bertahan dan terus berada dalam keluarga sang ayah dari anaknya.
"Sudah sudah, jangan menangis." Ucap nyonya Afna sambil mengusap punggung menantunya berulang ulang. Kemudian Beliau melepaskan pelukannya dan menatap wajah sendu milik Lunika. Ada rasa kasihan, namun harus bisa untuk melepaskan.
"Kamu jangan takut, semua baik baik saja. Mama dan Papa tetap menganggapmu sebagai anak Mama sendiri, sampai kapanpun kamu adalah bagian dari keluarga Wilyam. Tersenyumlah, karena kebahagiaan akan segera menjemputmu." Ucap sang ibu mertua yang berusaha untuk meyakinkannya.
"Bahagia yang bagaimana menurut Mama? Lunika tidak mencintainya, mana bisa bahagia Ma? jugaan lelaki itu belum tentu akan bertahan dalam ikatan pernikahan yang dibarengi dengan sebuah permainan. Bukankah pernikahan Lunika tidak jauh dari kata jebakan? mustahil, sangat mustahil." Jawab Lunika yang sulit untuk mempercayainya.
__ADS_1
"Kamu belum memulainya, mana bisa kamu mengetahuinya. Sudah lah, ayo kita masuk kedalam. Niko pasti sudah menunggumu, ayo masuk." Ucap sang ibu mertua dan mengajaknya untuk segera masuk ke rumah.
Sampainya berada didalam rumah, dengan senyum mengembang Lunika merentangkan kedua tangannya menyambut putra kesayangannya berada dalam pelukannya. Berkali kali Lunika mencium putranya dengan gemas, kemudian tanpa disengaja menitikan air matanya.
"Ma - Mama." Panggil Niko dengan suara khasnya, Lunika pun tersenyum mengembanh ketika mendengar sang buah hati memanggilnya. Namun tiba tiba perasaannya berubah menjadi sedih, yang dimana dirinya harus berpisah untuk sementara waktu.
'Apa aku bisa berpisah dengan Niko? terasa berat untukku meninggalkannya, aku tidak jauh dari putraku. Bagaimana kalau aku membujuknya untuk membawa Niko tinggal bersama? tapi ... sepertinya tidak mungkin. Em ... aku kan belum mencobanya, siapa tahu saja diizinkan. Jadi, aku bisa menghindar darinya.' Batin Lunika penuh harap, karena begitu berat bila harus berpisah dengan putranya.
"Lunika," panggil sang ibu mengagetkan.
"Mama, ada apa?" sahut Lunika dan bertanya.
"Selamat atas pernikahan kamu, putriku." Ucap sang ibu memberi ucapan selamat, kemudian memeluknya. Lunika hanya merasa aneh akan dukungan serta pemberian ucapan selamat dari keliarganya, seakan dirinya merasa dijebak oleh keluarganya sendiri.
'Apa semua rencana ini ada yang memulai? apa mereka semua berniat menjodohkanku dengan cara penjebakan? lihat lah ekspresi yang ditunjukkan padaku, semua terlihat bahagia. Bahkan tidak ada rasa empatinya padaku, aneh! sangat mengganjal.' Batin Lunika sambil menerka nerka, namun tetap saja tidak dapat menemukan jawaban.
"Loh, kok bengong?"
"Eh iya, Ma. Terima kasih atas ucapannya, kalau begitu Lunika pamit pulang ya Ma?" sahut Lunika dengan ekspresi datar. Ia memilih untuk segera pulang, karena tidak ingin pikirannya semakin tidak karuan.
__ADS_1