
Malam pun telah tiba, di kediaman keluarga Tuan Zayen tengah disibukkan untuk menyambut keluarga yang akan datang. Tidak hanya itu saja, semua yang mendapatkan undangan dari Tuan Zayen, kini tengah bersiap siap untuk berangkat.
"Ma ... sebenarnya ada acara apaah sih dirumah Paman Zayen?" tanya Kalla sambil mengenakan sandalnya.
"Acara kumpul keluarga aja seperti biasanya, kenapa?"
"Tidak kenapa napa sih Ma, Kalla cuma tanya aja. Soalnya Paman Zayen kan tidak mempunyai anak perempuan, pikir Kalla sih mau ada acara apa ... gitu."
"Kirain Mama ada apa, dari dulu kan memang begitu. Keluarga kita selalu ada acara berkumpul bersama, hanya saja ini berbeda."
"Kok berbeda, emangnya ada apa Ma?" tanya Kalla penasaran.
"Biasanya kan di kediaman kakek Ganan, tapi sekarang berada di keluarga kakek Alfan, tepatnya Paman Zayen." Jawab Bunda Vella sambil membenarkan penampilan takut ada yang kurang rapi.
"Oh iya ya Ma, Kalla sampai lupa. Habisnya sudah lama banget tidak pernah kumpul bersama seperti dulu." Kata Kalla yang juga sambil memakai tas kecilnya.
"Sudah siap semuanya?" tanya sang ayah sambil berjalan mendekati anak dan istrinya.
"Sudah dong, Pa ..." sahut Kalla yang dirinya merasa sudah siap.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat. Takutnya nanti terlambat, kasihan mereka yang sudah menunggu kita." Ajak Tuan Kazza yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan keluarganya.
"Tunggu tunggu, Kakek sama Omma dimana?" tanya Kalla yang baru menyadari jika sedari tadi pulang tidak mendapati keberadaan Kakek Tirta dan juga Omma Nessa.
"Omma dan Kakek sudah berangkat dari tadi, Kalla." jawab sang ibu sambil berjalan keluar.
__ADS_1
"Pantes aja tidak kelihatan, terus Kak Dana dimana?" tanya Kalla yang juga baru teringat jika ia sendiri belum juga bertamu langsung dengan sang Kakak.
"Kakak kamu ada acara di Panti asuhan, jadi tidak bisa ikut dengan kita. Ditambah lagi calon istrinya sudah pulang dari rumah sakit, maka dari itu Kakak kamu tidak bisa ikut bersama kita." Kata sang ibu sesuai yang dimana putranya berpamitan.
Karena sudah tidak ada yang tertinggal, akhirnya Kalla dan keduanya orang tuanya segera berangkat menuju rumah Tuan Zayen.
Begitu juga dengan Arnal yang tengah sibuk bersiap siap untuk datang ke rumah Tuan Zayen. Meski masih terasa capek, Arnal tidak bisa untuk menolaknya. Bisa tidak bisa, Arnal tetap akan segera berangkat.
"Maaf ya, Ma. Jika Arnal ingkar janji, nanti pesanan untuk Mama dan Papa datang kok. Kalau begitu, Arnal pamit." Ucap Arnal berpamitan dengan perasaan tidak enak hati.
"Tidak apa apa, tidak baik menolak undangan dari Tuan Zayen. Berangkat lah, hati hati dijalan." Kata sang ibu, Arnal pun mencium tangan ibunya.
Setelah berpamitan, Arnal segera berangkat menuju ke kediaman Tuan Zayen. Begitu juga dengan Romi, dirinya pun tidak kalah sibuknya untuk bersiap siap segera berangkat. Meski ia juga merasa capek dan ingin istirahat, namun tidak bisa untuk menolak undangan dari Tuan Zayen. Mau bagaimana pun, selama ini Tuan Zayen sudah membuatnya sukses.
"Ma, Pa, Romi mau berangkat." Ucap Romi berpamitan.
"Iya Rom, kamu harus berangkat. Jangan sampai tidak, karena Tuan Zayen sudah mengubah kehidupan kita jauh lebih baik dari sebelumnya." Timpal sang ayah yang juga meminta putranya untuk datang ke kediaman Tuan Zayen.
"Baik lah, kalau begitu Romi pamit untuk berangkat." Ucap Romi, kemudian mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
Setelah meminta izin dan berpamitan, Romi segera berangkat. Selama perjalanan, Romi masih penasaran dengan undangan makan malam dari Tuan nya.
"Ada Arnal juga, kira kira ada acara apa ya? jadi penasaran. Semoga aja ini hanya makan malam mengenai pekerjaa, aku harap sih begitu." Gumam Romi sambil menyetir mobilnya.
Sedangkan di rumah Deyzan, Vellyn dan kakak iparnya kini tengah bersiap siap untuk menerima undangan makan malam bersama keluarga.
__ADS_1
"Lama banget lah mereka berdua ini, dandan dari tadi tidak kelar kelar." Gumam Dey sambil berkacak pinggang, disaat itu juga sang istri keluar dari kamarnya menuruni anak tangga diikuti oleh adik perempuannya. Dey yang melihat penampilan istrinya pun terlihat sangat cantik, bahkan Dey sedikitpun tidak berkedip.
"Dih! Kak Dey, pandangannya udah kek baru bertemu saja sama Kak Vey."
"Biarin aja, wek ...." sahut Dey sambil menjulurkan lidahnya. Sedangkan Vellyn sendiri sengaja tidak peduli dan memilih untuk mengenakan sandalnya, begitu juga dengan Vey yang ikut mengenakan sandalnya.
Setelah ketiganya telah siap untuk berangkat, Dey bersama istri dan sang adik segera keluar dari rumahnya untuk berangkat menuju ke kediaman Tuan Zayen.
Saat dalam perjalanan, Vellyn masih menyimpan rasa penasarannya. "Kak, sebenarnumya ada acara apaan sih di rumah Paman Zayen?" tanya Vellyn penasaran.
"Acara keluarga, seperti biasanya. Hanya saja, acaranya di rumah Paman Zayen. Sayangnya, Papa, Mama dan Omma maupun Kakek tidak bisa ikut." Jawab Dey sambil fokus dengan setirnya.
"Rame banget pastinya ya, Kak. Duh! kenapa tiba tiba aku jadi males ya, Kak. Kirain sih makan malam seperti biasa, ini acara besar." Kata Vellyn yang tiba tiba tidak bersemangat.
"Soalnya bentar lagi Kak Zicko mau liburan ke Amerika bersama anak dan istrinya, jadi malam ini diadakan makan malam di rumah Paman." Sahut Dey menjelaskan.
"Mau pergi jalan jalan aja pakai acara makan malam segala, anak Sultan."
"Hus! kalau ngomong dijaga, seharusnya kamu itu ingat kejadian yang sudah dilewati keluarga Paman. Acara ini, acara mengenai keselamatan Kak Zicko dan bukankah wajah Kak Zicko sudah berubah? nah! disitulah acara makan malamnya. Ngada ngada kamu ini, acara jalan jalan pakai makan bersama keluarga besar." Ucap Dey menjelaskan secara detail.
"Ah iya, aku baru ingat. Kak Zicko kan udah berubah kek Oppa Oppa, gantengnya udah kek bayi aja sekarang mah." Kata Vellyn disertai tawa kecil, bagaimana tidak tertawa, Zicko yang dulunya mempunyai brewok tipis dan terlihat keren, kini berubah jadi mulus udah seperti bayi baru lahir.
"Makanya, kalau ada sesuatu yang mengganjal itu dicerna lagi. Jangan main menebak, apalagi menuduh, tidak baik." Ucap Dey, sedangkan istrinya menjadi pendengar kakak beradik yang tengah mengobrol.
"Kak Vey kok diam sih, ngobrol kek atau gimana gitu." Kata Vellyn pada kakak iparnya.
__ADS_1
"Kakak mah mending jadi pendengar setia kalian berdua aja, itu sudah cukup dan asik kok. Meski tidak ikut mengobrol, iya 'kan?"
"Duh, aku jadi malu deh." Kata Vellyn dan langsung menutup kedua matanya dengan telapak tangannya.