Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Rasa penasaran


__ADS_3

Ketika Lunika sudah selesai membersihkan diri, dengan cekatan ia segera mengganti pakaiannya didalam kamar mandi.


Setelah dirasa sudah tidak ada lagi yang kurang, Lunika segera keluar dari kamar mandi. Sesampainya di dekat tempat tidur, Lunika merasa bingung dengan rambutnya yang basah, ditambah lagi ada sosok suaminya tengah duduk didekat cermin.


"Hei, cepat keringkan rambut kamu itu yang basah. Aku tidak suka sesuatu yang menunggu terlalu lama, membosankan." Perintah Zicko sambil melirik kearah istrinya dengan menyibukkan pandangannya pada layar ponselnya.


Lunika yang mendapat perintah dari suaminya hanya melenggangkan kakinya menuju tempat dimana dirinya harus mengeringkan rambutnya. Zicko yang tidak sabar melihat sangat istri terlalu lama, ia langsung merampas hairdryer yang dipegang istrinya.


"Sini, kelamaan aku menunggumu." Ucapnya, kemudian segera mengeringkan rambut istrinya.


"Jangan, berikan padaku. Aku bisa melakukannya sendiri, aku tidak ingin merepotkan kamu." Jawabnya sambil meraih hairdryer nya yang ada pada suaminya.


"Sudah, jangan banyak protes. Tinggal diam saja, apa susahnya." Ucap Zicko, Lunika hanya pasrah didepan cermin sambil menarik nafasnya yang terasa berat, kemudian membuangnya dengan pelan. Ia tidak ingin menambah masalah pada suaminya, dan lebih memilih untuk diam Serra nurut. Meski sebenarnya merasa geram saat mendapat perlakuan dari suaminya yang sedikit terlalu over, pikir Lunika sambil menikmati perlakuan dari suaminya yang terkadang seperti bocah yang kehilangan sesuatu yang berharga.


Lunika yang hanya bisa berdiam menatap cermin sambil memandangi wajah suaminya yang tidak dapat dipungkiri akan ketampanannya.


'Tampan sih, tapi sikapnya itu loh. Bikin sesak nafas, bahkan jantungan. Sedap sedap ngeri, dan tentunya menjengkelkan.' Batin Lunika sambil menatap pada cermin yang terlihat jelas akan sosok suaminya sendiri.


"Lanjutkan sendiri, aku mau mengganti bajuku. Ini terlalu tebal, tidak cocok untukku berlari." Ucapnya, kemudian menyerahkan hairdryer nya pada sang istri. Lunika sendiri hanya menarik nafasnya panjang dan membuangnya kasar tanpa sepengetahuan suaminya.


Setelah dirasa tidak ada yang basah, Lunika kembali menguncir rambutnya. Lagi lagi Zicko tergoda pada jenjang leher istrinya yang terlihat begitu menggoda, Zicko pun segera menepis pikiran kotornya. Tidak dapat dipungkiri, usia Zicko yang sudah terbilang memsuki usia dewasanya dan juga memiliki pemikiran yang normal. Wajar saja, jika dirinya tergoda dengan sesuatu yang dapat membuat pikirannya melancong kemana mana.


"Cepetan, nanti keburu siang. Yang ada sudah tidak ada sisa udara segar yang bisa dihirup, adanya polusi yang menyebabkan kesehatan menurun." Ucap Zicko sambil mengenakan handuk kecil diatas pundaknya.


Tidak hanya itu, Zicko pun memberikan handuk kecil yang satunya pada sang istri.

__ADS_1


"Sepatunya ada dibawah, ayo turun." Ucap Zicko dan mengajaknya untuk segera turun.


Dengan langkah kakinya yang cukup pelan, Zicko dan Lunika menuruni anak tangga. Kedua orang tua Zicko pun tersenyum bahagia tatkala melihat kekompakan pada putranya dengan menantunya.


"Nah, begini baru adem dilihatnya. Tumben jalan jalan pagi? tidak lagi kesambet bidadari cantik, 'kan?" ledek sang ibu pada putranya.


"Hem, tentunya dong, Ma. Bukankah sekarang ini Zicko tidak lagi sedang sendirian?"


"Ya sudah kalau mau jalan jalan pagi, Mama dan Papa jalan jalan paginya ditaman belakang saja." Sahut sang ayah menimpali.


"Lunika, jangan malu malu. Sekarang kamu sudah sah menjadi istri Zicko, dan kamu bagian dari keluarga Mama. Yang tidak lain sudah menjadi anak Mama dan Papa, kamu harus terbiasa." Ucap sang ibu mertua mencoba untuk selalu dekat pada menantunya.


"Iya, Ma. Kalau begitu, Lunika pamit untuk jalan jalan bersama suami Lunika ya, Ma." Jawab Lunika berusaha untuk membuang perasaan gugupnya di imbangi dengan senyum manisnya, ibu mertuanya pun membalasnya dengan senyuman manisnya juga.


Dengan kasar, Zicko langsung melepaskan genggaman tangannya pada tangan milik istrinya itu. Kemudian, Zicko lari lari kecil mengelilingi taman yang tidak jauh dari rumahnya. Jarak langkah kakinya semakin lebar dan dengan kecepatan ekstra Zicko mempercepat larinya. Lunika pun kualahan untuk mengejarnya, ia menyadari sudah sekian lamanya tidak pernah lari dengan kecepatan ekstra.


Dengan nafasnya yang tersengal sengal, Lunika terus mempercepat langkah kakinya untuk mengitari taman yang tidak begitu banyak orang.


Zicko yang merasa didahului oleh Lunika pun tercengang melihat tenaga Lunika yang jauh dari bayangannya, Zicko benar benar tidak menyangkanya. Jika sang istri rupanya lebih jago darinya, Zicko sendiri tidak lagi sanggup untuk mengejar kecepatan berlari yang dilakukan istrinya.


"Aku tidak lagi salah lihat, 'kan? sejak kapan dia sejago itu. Bukankah dia lembak lembek serba nurut dan pasrah, bahkan aku genggam erat tangannya saja tidak di responnya. Jadi penasaran akunya, dibalik sikapnya yang lembek itu kenapa? apa karena laki laki itu? ah! kenapa aku mesti memikirkannya." Ucapnya lirih penuh heran.


Sedagkan Lunika yang terasa sedikit terengah engah, ia memilih untuk beristirahat. Lunika duduk sambil meluruskan kedua kakinya, kemudian mengatur pernapasannya.


Setelah dilihat cukup lama, Zicko segera menghampiri dengan membawa sebotol air minum. Kemudian, Zicko duduk disebelahnya.

__ADS_1


"Minumlah, kamu pasti haus." Ucapnya dan memberikan botol minumnya pada istrinya.


"Awas!!!" teriak Lunika sambil menangkis sebuah bola tendang yang melayang kearah suaminya.


BUG!!!


Suara bola yang tengah mengenai lengan Lunika, Zicko tercengang melihatnya.


Lunika segera bangkit dari posisinya dan menendangkan kembali bola tendangnya kearah bocah remaja yang tengah berdiri tidak jauh dari pandangan Lunika.


Lagi lagi, Zicko tercengang melihat sang istri dengan tenaganya yang super ekstra. Zicko yang melihatnya hanya menelan ludahnya kasar, dirinya benar benar masih tidak menyangka akan kekuatan tenaga super ekstra pada istrinya itu.


Tanpa memikirkan apa pun, Lunika langsung menenggak minuman yang diberikan oleh suaminya hingga tandas tanpa sisa.


"Terima kasih air minumnya. Maaf, jika minumannya sudah aku habiskan." Ucapnya, kemudian ia membuang botol minumnya pada tempat sampah yang sudah disediakan.


"Rupanya kamu jago olahraga, baru tahu aku. salut aku dengan kemampuanmu dalam berlari dan ketika menangkis sebuah bola yang hampir saja mengenaiku. Belajar dari mana, kamu?terima kasih sudah menolongku dari tendangan bola yang melayang kearahku. Ucap Zicko berterima kasih dan bertanya soal kemampuan istrinya karena penasaran.


"Aku hanya belajar dari tempat yang menurutku nyaman, itu saja." Jawabnya.


"Oooh, apakah sejenis bela diri? atau ... ada yang lainnya?" tanya Zicko lagi yang masih menyimpan rasa penasarannya.


"Tidak penting, lagian kamu juga jauh lebih jago dariku." Jawab Lunika yang tetap pada pendiriannya yang tidak ingin membeberkan tentang jati dirinya, bahkan orang orang yang mengenalnya pun tidak ada yang tahu tentang sosok Lunika.


"Terserah kamu, aku tidak akan memaksamu. Ayo kita pulang, Mama dan Papa pasti sudah menunggu kita." Ucapnya dan mengajaknya untuk segera pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2