Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Bersiap siap


__ADS_3

Sampainya di rumah, Vellyn disambut hangat oleh sang kakak dan juga kakak iparnya.


"Sudah malam, jangan bergadang sampai lewat jam. Dijaga kesehatan mu, jangan terlalu memikirkan Papa mengenai masalah yang sudah lewat. Kamu fokus saja dengan masa depan kamu, kamu mengerti? masuk lah ke kamar." Perintah dari sang kakak, Vellyn pun mengangguk.


"Iya Kak, terima kasih sudah mengingatkan. Selamat malam Kak Dey, Kak Vey."


"Ingat Vel, jangan bergadang sampai larut malam." Kata Vey ikut menimpali.


"Siap, Kak Vey." Jawab Vellyn dengan lawakannya sambil hormat, Vey yang melihat tingkah adik iparnya pun kini bisa tertawa kecil.


Disaat itu juga, Dey seperti melihat keceriaan istrinya telah kembali. 'Vey yang pernah aku kenal, kini telah kembali. Entah kenapa, aku merasa Vey dan Vellyn orang yang sama.' Batin Dey tersenyum tipis ketika melihat tawa dari Vey, istrinya.


Vellyn yang sudah merasa lelah dan juga capek, ia segera masuk ke kamarnya yang dulu pernah ia tempati.


Saat membuka pintu kamarnya, Vellyn mendadak tidak percaya dengan isi didalam kamarnya. "Rupanya Kak Dey sudah menyiapkan semuanya." Gumam Vellyn sambil memperhatikan isi didalam kamarnya.


Saat mereka memperhatikan pada setiap sudut kamarnya, sepasang matanya pun tertuju pada sebuah meja yang terdapat selembar kertas yang ada tulisannya.


"Selamat datang dirimuah kita, adiknya Kakak yang tersayang. Maafkan Kakak kamu ini yang sudah sekian lamanya tidak pernah memperhatikan kamu karena keegoisan Kakak, dan maafkan Kakak kamu ini yang sudah mengabaikan mu. Semoga kamu nyaman untuk tinggal bersama Kakak lagi, dan menjadi kebahagiaan di rumah ini, Kamu, Kakak, dan Kak Vey."


"Aku sangat bahagia, meski ungkapan dari Kak Dey hanya lewat sebuah tulisan. Dari dulu Kak Dey tidak pernah berubah, selalu menuliskan sesuatu ketika meminta maaf." Gumam Vellyn sambil melipat kembali lembaran kertas yang ia pegang.


Disaat itu juga, sepasang mata Vey tertuju pada sebuah kotak kecil yang ukurannya tidak terlalu besar. Vey pun meraihnya benda kotak itu dan membukanya.


"Gelang, lucu sekali Kak Dey. Dari dulu tidak pernah berubah dan kalau bukan liontin, ya gelang. Sampai terkumpul banyak itu gelang sama liontinnya sejak kecil, Kak Dey lucu juga ya. Beruntung banget aku mempunyai seorang Kakak yang begitu menyayangiku, meski dingin dan kaku sekalipun." Gumam Dey sambil tersenyum bahagia.


Karena sudah merasa capek dan lelah, akhirnya Vellyn memutuskan untuk segera beristirahat. Sebelumnya Vellyn mencuci muka, kaki dan menggosok giginya sebelum tidur.


Saat melepaskan jam tangannya, Vellyn menatap lekat pada cermin. Tiba tiba ia teringat akan sebuah perjodohan yang bisa dikatakan tidak menunggu lama jadwal pernikahannya sungguh membuat pikiran Vellyn semakin tidak karuan. Antara perasaannya dan tekad bulatnya mengenai pilihan yang akan ia pilih.


"Sejak kapan Paman Zayen menjadi biro jodoh? ah! iya, sejak Kak Dey dipaksa untuk pulang ke Tanah Air. Dan Paman Zayen lah biang dari biangnya perjodohan, dan sekarang giliranku. Apa yang harus aku lakukan, jangan sampai aku mendapatkan kutukan seperti Kak Dey yang berujung kebucina. Ooooh! No! itu tidak boleh terjadi." Gumam Vellyn sambil berkacak pinggang di depan cermin.


Setelah mengganti pakaiannya dan sudah keluar dari kamar mandi, Vellyn menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dan berbaring sambil menatap langit langit kamarnya.


"Semoga besok akan aku jelang bahagia bersama Kak Dey dan Kak Vey. Tidak hanya itu, semoga aku akan segera mendapatkan keponakan yang lucu lucu dan pastinya menggemaskan. Bahagianya aku jika mendapatkan keponakan sekaligus tiga keponakan seperti kakek Ganan, sekali nembus dapat tiga." Gumam Vellyn sambil membayangkan ketika mendapatkan keponakan sekaligus tiga.


Lambat laun sambil membayangkan sesuatu, akhirnya Vellyn terlelap dari tidurnya.

__ADS_1


Sedangkan di kediaman Tuan Kazza penghuninya masih belum juga pada tidur. Apa lagi Kalla, ia paling sulit untuk memejamkan kedua matanya. Berbanding terbalik dengan Vellyn yang mudah mengantuk dan tidur disembarang tempat. Seperti yang sudah sudah, Vellyn sendiri sampai ketiduran dan sulit untuk dibangunkan ketika dalam perjalanan bersama Arnal.


"Kalla, sudah malam ini loh sayang. Ayo buruan masuk ke kamar kamu, mulai besok kamu akan aktif untuk duduk di Kantor. Besok kamu akan belajar dari seorang sekretaris, tepatnya sekretaris Kakak kamu."


"Apa! sekretaris Kak Daka? oh! no! Kalla tidak mau jadi sekretaris Kak Daka, yang ada Kalla jadi jantungan." Kata Kalla berusaha untuk menghindar.


"Terus ... kamu mau ngapain? mau duduk manis dan bersantai di rumah? berbelanja? jalan jalan? begitu mau kamu? ok! Papa akan kabulkan permintaan kamu sekarang juga." Sahut sang ayah yang tiba tiba ikut menimbrung ditengah tengah anak dan istrinya.


"Serius, Pa? Kalla mau banget deh, Pa."


"Serius, memang sejak kapan Papa tidak pernah serius? hem." Kata sang ayah dengan tatapan serius, sedangkan Bunda Vella hanya tersenyum mendapati jawaban dari suaminya.


"Baik lah, kalau begitu Kalla mau istirahat." Ucap Kalla dan langsung pergi meninggalkan ayah dan ibunya yang tengah duduk berdua di ruangan keluarga.


"Kamu ini apa apaan sih, Pa? masih aja ngerjain Kalla, kalau dianya marah, bagaimana?"


"Tenang saja, aku sudah menyiapkan pilihan untuk Kalla. Anak anak kita dua duanya sudah sama dewasanya, sudah waktunya diantara Daka dan Kalla untuk segera menikah. Lihat lah, Zayen sudah mempunyai cucu. Tidak hanya itu, Viko juga sudah mempunyai menantu. Sebentar lagi katanya si Vellyn juga akan segera menikah." Jawab Tuan Kazza bercerita.


"Tapi Pa... anak anak kita semuanya keras kepala, apa lagi Daka."


"Hem, sok tahu kamu, Pa."


"Daka, sudah pulang kamu Nak?" tanya sang ibu yang mendapati putranya baru saja pulang entah dari Restoran.


"Sudah Ma, ada apa?" sahut Daka sambil melepaskan sepatunya.


"Tidak ada apa apa, kalau mau istirahat, istirahat lah." Kata sang ibu, Daka pun mengangguk dan mengiyakan. Kemudian ia menapaki anak tangga menuju kamarnya.


Setelah bayangan Daka sudah tidak nampak, Tuan Kazza dan istri segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Semua telah tidur dengan lelapnya, begitu juga di kediaman keluarga Tuan Zayen yang dimana anggota keluarganya tengah tidur dengan pulasnya. Bahkan Niko yang sebelumnya susah untuk tidur lebih awal, kini sejak hadirnya seorang ayah telah membuat Niko jauh lebih tenang dan tidak mudah menangis secara tiba tiba. Bahkan ditengah malam pun Niko sering menangis histeris, hanya Tuan Zayen lah yang menjadi penenang dikala terbangun dari tidurnya seorang anak kecil bernama Niko.


Waktu begitu lama untuk berganti dengan pagi hari. Dan tidak terasa waktunya pun begitu singkat untuk bertemu lagi dengan terbitnya matahari.


Semua kembali disibukkan dengan aktivitasnya masing masing. Tidak hanya keluarga Tuan Zayen saja, bahkan semuanya tengah disibukkan dengan tugasnya masing masing.


Kalla yang sedari tadi sudah bangun dari tidur pulasnya, ia segera membersihkan diri karena badannya yang terasa gerah dan juga tidak nyaman.


Selesai membersihkan diri, cepat cepat Kalla segera keluar dari kamarnya. Sebelumnya ia berkali kali mengganti pakaiannya, tetap saja tidak ada yang membuatnya nyaman untuk ia kenakan.

__ADS_1


"Ah iya, bukannya tadi malam aku sudah menolak Papa untuk ikut pergi ke Kantor? lantas kenapa aku mesti sibuk dengan penampilanku. Dih! bo*dohnya kamu, Kalla." Gumam Kalla yang kemudian mengganti pakaiannya yang ala kasarnya, tepatnya dengan penampilan yang biasa biasa saja.


Karena perutnya sudah keroncongan, Kalla segera keluar dari kamarnya untuk sarapan pagi bersama keluarga.


"Kalla!" Semua terkejut, termasuk Daka yang lebih terkejut ketika melihat adik perempuannya yang selalu berpenampilan yang tidak jauh beda dengan masa mudanya sang ibu, yakni perempuan tomboy. Bahkan lebih mengagetkan nya lagi memakai rambut pasangan gaya lelaki.


"Kalla, kamu sudah gi*la ya. Cepat! kamu epas rambut palsumu itu, aku geli melihatmu." Perintah sang Kakak yang mulai greget ketika melihat gaya penampilan adik perempuannya jauh dari sebelumnya yang hanya mengucir rambutnya.


"Dih! biarin aja, kali. Kalla mau lari pagi disekitaran perumahan komplek yang tidak jauh dari rumah kita, biar gak ada yang main mata sama Kalla loh." Sahut Kalla sambil meraih selai kacangnya untuk dioleskan nya ke roti panggang miliknya.


"Tidak ada lari pagi lari pagian, sekarang juga kamu akan ikut Kakak kamu pergi ke Kanto, titik."


"Apa!! pergi ke Kantor? yang benar aja, Pa. Bukannya tadi malam itu Papa sudah mengizinkan Kalla untuk tidak ikut ke Kantor bersama Kak Daka?" kata Kalla mencoba untuk mengingatkannya lagi pada orang tuanya.


"Kalau kamu ingin apa yang Papa katakan semalam, maka menikahlah." Ucap sang ayah dengan santai.


"Apa!! menikah, kata Papa? oh! tidak, Kalla masih ingin kebebasan, Pa. Kalla masih ingin menikmati masa muda seperti yang lainnya. Kak Daka tuh yang nikah lebih dulu, habis itu baru Kalla, Pa."


"Enak saja main suruh menikah, aku kan laki laki. Gampang kalau untuk menikah, kamu duluan geh yang nikah. Kamu kan perempuan, gampang tua nya." Sahut Daka tidak mau kalah, sedangkan Kalla memasang muka masamnya.


"Sudah sudah, kenapa kalian berdua jadi berantem? sekarang juga buruan habiskan sarapan kalian berdua. Dan kamu Kalla, lepas itu rambut palsu kamu."


"Iya ya ya, Pa." Jawab Daka dan Kalla bersamaan. Kemudian keduanya segera menghabiskan sarapan paginya dengan roti dan segelas susu.


"Sudah lah, kalian semua ini kenapa mesti berdebat. Pilih lah mana yang terbaik untuk kalian berdua, masa depan berkeluarga atau selamanya untuk sendiri." Ucap kakek Tirta mengingatkan.


"Tuh, didengar jika Kakek mengingatkan kalian." Kata Bunda Vella mengingatkan. Disaat itu juga suasana tiba tiba berubah menjadi hening dan seketika itu juga ruang makannya mendadak menjadi sunyi. Setelah selesai sarapan pagi, Kalla maupun sang kakak dan kedua orang tuanya segera bersiap siap dengan aktivitas nya masing masing.


Kalla yang mendapatkan teguran dari sang ayah, ia kembali masuk ke kamarnya untuk melepaskan rambut palsunya. Soal pakaian, Kalla tidak merubahnya. Kalla tetap dengan penampilannya yang sederhana, yang tidak jauh dengan kebiasaan sang ibu di usia mudanya.


Tuan Kazza sendiri terkadang kualahan untuk menghadapi tingkah putrinya yang sulit untuk diberi nasehat tentang penampilannya yang tidak seperti perempuan pada umumnya yang lebih feminim.


"Putrimu tidak jauh beda dengan mu, kamu sih terlalu memanjakan Kalla. Kamu juga yang mengizinkan Kalla untuk ikut seni bela diri, begini nih jadinya." Ucap Tuan Kazza sambil bersiap siap untuk berangkat ke Kantor.


"Kok nyalahin aku, lagian juga tidak sendirian yang putrinya sama seperti Kalla tingkahnya. Ada Vellyn, ada istrinya Deyzan anak dari keluarga Burhan dan juga istri Zicko si Lunika yang tingkahnya sama persis dengan Kalla." Sahut sang istri mencoba untuk mengingatkan kembali pada suaminya.


"Ah iya, mungkin sudah menjadi turun temurun di keluarga Danuarta dan Wilyam, dan juga Burhan." Ucap Tuan Kazza yang teringat akan kebenarannya, disaat itu juga Tuan Kazza tersenyum pada istrinya.

__ADS_1


__ADS_2