
Karena tidak ingin terlalu memikirkan soal perjodohan, Vellyn akhirnya memilih untuk segera beristirahat. Meski tidak ada kesibukan yang menguras energinya, tetap saja Vellyn merasa capek.
"Ah iya, bagaimana kalau aku hubungi Kalla saja. Siapa tahu aja, itu anak bisa diajakin buat ngobrol dan bertukar pendapat. Tapi ... kapan ya? kalau besok sepertinya tidak mungkin deh, aku kan harus menemani Kak Vey. Bagaimana kalau malam nya aja, apa ya? ah iya, aku bisa menginap dirumahnya." Gumam Vellyn sambil mencari ide, karena baginya tidak mungkin jika dirinya bercerita dengan kakak iparnya.
Karena tidak ingin kesehatannya terganggu, alih alih merebahkan tubuhnya diatas tempat sambil menatap langit langit.
Saat ingin memejamkan kedua matanya, tiba tiba Vellyn kembali teringat dengan sosok laki laki yang bernama Arnal.
"Arnal Arnal Arnal dan Arnal, ada apa dengan lelaki itu. Kenapa masih muncul juga dikepalaku, benar benar menyebalkan." Kata Vellyn dan langsung menggulung dirinya didalam selimut, berharap ia tidak terus memikirkan hal perjodohan.
Sedangkan di kediaman keluarga Tuan Zayen, Lunika tengah bersandar sambil meluruskan kakinya diatas tempat tidur. Sedangkan Zicko tengah tiduran dipangkuan istrinya sambil menatap istrinya, Lunika berulang ulang mengusap rambut milik suaminya.
"Sayang," panggil Zicko.
"Hem, ada apa sayang?" tanya Lunika.
"Aku minta maaf ya, sayang." Kata Zicko sambil memegangi tangan milik istrinya.
"Maaf, memangnya minta maaf kenapa sayang?" Lunika kembali bertanya karena rasa penasarannya.
"Maaf, jika selama ini aku belum pernah mengajakmu jalan jalan ke luar Negri sesuai janjiku dulu. Bagaimana kalau bulan depan kita berlibur ke Luar Negri, mau 'kan?" kata Zicko penuh harap.
"Tapi ... kamu kan harus bekerja, sayang."
"Selamanya tidak akan ada waktu untuk liburan, jika aku harus bekerja dan bekerja." Ucap Zicko yang masih menatap lekat wajah istrinya yang terlihat semakin cantik.
"Bukan begitu maksud aku, sayang. Kalau kita liburan, terus siapa yang akan menggantikan kamu di Kantor? kasihan Papa jika harus bekerja sendirian." Kata Lunika yang merasa takut jika suaminya akan mendapatkan cibiran yang lebih mementingkan liburan dari pada untuk mengurus pekerjaan nya.
__ADS_1
"Ada Arnal, iya kan? kenapa mesti bingung. Arnal sudah menjadi orang kepercayaan keluarga kita, dan juga sangat handal untuk melakukan pekerjaan di Kantor. Kamu tidak perlu khawatir, Arnal akan mendapatkan hadiah yang cukup layak untuknya. Papa dan Paman Viko sudah membicarakannya dari awal, kita hanya menunggu waktunya untuk Arnal mendapatkan kebahagiaannya."
"Maksud kamu? aku masih tidak mengerti, serius." Lagi lagi Lunika masih menyimpan rasa penasarannya, lebih lebih soal kebahagiaan untuk Arnal. Lunika semakin penasaran dibuatnya, bahkan dirinya pun tidak mampu untuk menebaknya.
"Ah iya, aku lupa belum memberitahumu soal Arnal. Sebenarnya Papa sengaja menjodohkan Arnal dengan Vellyn, entah dapat ide dari mana nya aku sendiri tidak tahu."
"Arnal dan Vellyn? yang benar saja, aku kira sama Romi."
"Romi? tidak, Papa tidak setuju. Kata Papa, Vellyn lebih cocok dengan Arnal. Sedangkan Romi dengan Kalla, itu yang aku tahu."
"Oooh gitu ya, aku hanya mengira saja."
"Memangnya Romi menyukai Vellyn?" tanya Zicko penasaran.
"Aku kurang tahu kalau soal itu, aku hanya menilai dari pandangan aku saja." Jawab Lunika.
"Aku kan cuman menilai dari segi pandanganku saja, soal benar atau tidaknya sih, aku tidak tahu. Namanya juga menebak, ada salah dan ada benarnya." Kata Lunika.
"Tau lah, mana yang benar. Semoga aja, pilihan Papa tidak salah. Tapi ... apa salahnya jika diberi pilihan, iya gak?"
"Hem, tidak semudah itu untuk mengungkapkan perasaannya dengan cara memilih. Perasaan, bukan macam beli baju. Ada hati yang dijaga, maksud aku perasaan." Kata Lunika membenarkan.
"Iya juga sih, untung saja dulu aku menolak perjodohan. Jika iya, mungkin aku bukan orang yang beruntung. Kalau saja aku tidak masuk dalam got, aku tidak bisa mendapatkan kamu."
"Berarti orang mendapat musibah itu belum tentu sial, bisa juga menguntungkan yang sangat banyak."
"Iya juga ya, masuk got masih dibilang untung, ya. Terus kalau rugi itu yang bagaimana, ya?"
__ADS_1
"Pikir aja sendiri, aku sudah ngantuk." Kata Lunika dan meraih selimutnya, sedangkan Zicko menahannya."
Tanpa meminta izin, Zicko langsung membenarkan posisinya. Dan kini dirinya sudah duduk bersebelahan dengan posisi menghadap ke arah istrinya. Semakin dekat, Zicko mulai mendekatkan wajahnya tepat ke wajah istrinya. Setelah itu, Zicko mendaratkan sebuah ci*uman mesra pada istrinya. Lalu, perlahan lahan ci*uman itu menyusuri kearah yang lainnya. Lunika maupun Zicko sama sama tidak terkendali hingga ruangan berubah menjadi gerah karena ritual nya.
Meski dengan raut wajah yang berbeda, lambat laun Lunika mulai terbiasa dengan sosok suaminya. Sedikitpun, Lunika sudah mulai tidak merasa aneh. Meski awalnya merasa ragu dan seakan telah berselingkuh, Lunika berusaha untuk menerimanya dengan hati yang terbuka. Memberikan celana untuk memberikan cintanya pada diri Lunika. Hingga tidak terasa, keduanya telah berhasil dengan ritualnya dalam kamar. Setelah selesai melakukan ritualnya, dengan lembut Zicko mencium kening istrinya.
"Sayang," panggil Zicko dengan suara lirihnya.
"Iya sayang, ada apa?" tanya Lunika masih dalam pelukan suaminya.
"Bolehkah aku aku meminta sesuatu sama kamu?" tanya Zicko dengan tatapan yang cukup serius.
"Sesuatu? memangnya apa yang ingin kamu minta, sayang?" Lunika sendiri semakin penasaran.
"Aku mau meminta sesuatu sama kamu, sesuatunya itu, mulai sekarang aku akan melarang kamu untuk tidak mengkonsumsi obat penunda kehamilan. Aku masih ingin memeliki penerus dari mu, sayang." Ucap Zicko penuh harap dan dengan tatapan penuh permohonan.
Lunika yang mendapati permintaan dari suaminya itu, ia tersenyum bahagia. Lunika tak perlu untuk memintanya, karena sang suami lah yang lebih dulu untuk memintanya.
"Aku akan menerima permintaan mu, mulai sekarang dan seterusnya aku tidak akan mengkonsumsi obat penunda kehamilan sampainya ada benih yang tumbuh di rahim ku dan lahir dengan selamat." Jawab Lunika, kemudian tanpa malu malu Lunika menc*ium suaminya lebih dulu.
"Sudah malam, waktunya untuk tidur dan beristirahat." Ajak Zicko dengan erat memeluk istrinya. Tidak memakan waktu lama, keduanya terlelap dari tidurnya.
Sedangkan di tempat yang berbeda, Arnal tengah sibuk dengan pekerjaannya. Tanpa mengenal rasa lelah, Arnal terus bekerja sambil bergadang. Meski itu dilarang oleh Tuan Zayen sekalipun, Arnal tetap bersemangat demi sesuatu yang dicita citakan.
"Akhirnya selesai juga pekerjaan aku ini, tinggal bersiap siap untuk pulang." Gumam Arnal sambil membereskan apa yang akan dibawa pulang.
Karena rasa kantuk yang hilang karena sibuknya dalam bekerja, Arnal mencoba untuk mengecek ponselnya. Alih alih untuk menghilangkan rasa penat yang ada dalam pikirannya.
__ADS_1