
"Kita ada di kebon karet, hanya dengan cara ini kita bersembunyi untuk sementara waktu." Sahut Zicko sambil menggenggam erat tangan milik istrinya. Lunika hanya bisa pasrah akan hidup dan matinya sesuai yang dikatakan oleh sang suami.
"Tuan, apa lebih baik kita jalan kaki saja?" tanya nya memberi solusi.
"Apakah kamu membawa senjata? pistol, atau yang lainnya."
"Saya membawa beberapa pistol untuk berjaga jaga ketika kita sedang dalam keadaan darurat, Tuan." Jawabnya, kemudian menyerahkan 4 pistol kepada Zicko.
Zicko yang mengerti langsung memberikan dua pistolnya kepada sang istri. "Pegang lah, ini untuk berjaga jaga." Ucap Zicko, karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Lunika menerima dua buah pistol dari suaminya.
"Serius, jika kita akan keluar dari mobil ini?" tanya Lunika yang mulai gelisah dan juga was was memikirkan keselamatan dirinya dan juga sang suami serta anak buah yang sudah menjadi kepercayaan keluarga mertuanya.
"Kamu siap, 'kan? maafkan aku yang sudah membuatmu banyak penderitaan sampai sekarang ini kamu harus berurusan dengan sebuah pistol yang kedua kalinya. Aku janji akan menjadi penghalang dari orang orang akan mencelakai kamu." Sahut Zicko mencoba untuk meyakinkan istrinya.
"Kita akan berjuang bersama, hidup dan mati." Kata Lunika yang juga berusaha untuk meyakinkan suaminya.
"Tuan, hati hati jika kita akan keluar dari mobil ini. Saya sudah mendapatkan informasi mengenai jalan keluar, sekarang juga ayo kita keluar." Ucapnya memberikan saran pada Tuan nya. Setelah Zicko dan Lunika mengiyakan, ketiganya segera keluar dari mobil.
Dengan hati hati, sepasang matanya ikut bekerja mengawasi di sekelilingnya. Pelan pelan ketiganya berjalan agar tidak menimbulkan suara.
"Aw!! aaab." Teriak Lunika tanpa sadar, disaat itu juga Zicko membekap mulut istrinya.
"Diam, jangan berteriak." Ucap Zicko mengingatkan istrinya, Lunika hanya mengangguk dengan gemetaran.
"Sudah, jangan panik. Apakah ada yang sakit pada kedua kaki kamu? coba aku lihat."
__ADS_1
"Tidak, tidak ada. Aku hanya terpeleset ranting kayu tadi, maafkan aku yang sudah membuatmu khawatir."
"Tenangkan pikiran kamu, jangan panik dan jangan bersuara keras. Karena sudah ada yang mengikuti kita, yang harus kita lakukan yaitu mencari jalan keluar untuk mendatangi markas yang dijadikan tempat kumpulnya mereka." Ucap Zicko mencoba untuk menangkan istrinya.
DOR! DOR!
Suara tembak yang mengudara tengah mengagetkan Zicko maupun Lunika dan satu anak buahnya.
"Kita serius mau mendatangi Markas itu? bukankah akan bertambah bahaya dengan nyawa kita?" tanya Lunika yang merasa aneh dengan jalan pikiran suaminya.
"Disanalah kita akan menghadapinya, jika polisi yang tiba tiba datang mengepung nya itu akan sulit untuk menangkap mereka. Maka dari itu, kita harus masuk ke Markas itu untuk menjadikan mereka tidak mudah kabur." Jawab Zicko menjelaskan. Lunika yang mendengar penjelasan dari suaminya pun hanya bisa nurut dan pasrah dengan apa yang sudah menjadi keputusan suaminya.
'Benar juga kata suamiku, jika polisi yang mengepungnya, maka orang orang itu akan mudah untuk melarikan diri.' Batin Lunika sambil berpikir maksud dari perkataan suaminya.
Sambil mengendap endap, Zicko dan istri serta anak buahnya berjalan dengan sangat hati hati.
'Kenapa tenagaku tidak sekuat dulu, apakah karena aku selalu mengurung diri di rumah? rasa capek pun sangat aku rasakan. Bahkan aku ingin rasanya aku menyudahi perjalanan ini, tapi demi keselamatan untuk kedepannya aku harus berjuang demi putraku.' Batin Lunika yang merasa ada perubahan terhadap dirinya, terutama dengan rasa capek dan mudah lelah.
"Sayang, pegang tanganku jangan sampai lepas." Pinta Zicko sambil berjalan, sedangkan Lunika mengangguk dan nurut dengan apa yang diperintahkan suaminya.
Setelah cukup lama dalam perjalanan menuju Markas, kini telah sampai didepan Markas yang cukup besar dan bagaikan istana.
Tidak hanya itu, Lunika yang melihatnya pun tercengang seperti tidak percaya jika di tengah hutan ada sebuah bangunan yang begitu luas dan sangat besar. Lunika menatapnya dengan takjub dan benar benar tidak pernah disangkanya.
"Ini tempat apaan?" tanya Lunika yang menyimpan rasa penasaran.
__ADS_1
"Ini Mansion yang sudah lama tidak berpenghuni, kalau tidak salah ini tempat yang dimana dulunya dijadikan penyekapan serta pertumpahan darah di masa lalu." Ucap Zicko menjelaskan.
"Maksud kamu?" tanya Lunika penasaran.
"Aku tidak ada waktu untuk menjelaskan semuanya, sekarang ayo kita masuk kedalam Mansion. Ingat, jangan kamu perlihatkan senjatamu." Ajak Zicko, sedangkan Lunika mulai was was ketika dirinya hanya bertiga orang. Sedangkan yang didalam sana bisa saja lebih dari tiga orang.
"Kamu yakin jumlah kita hanya tiga orang? terus ... siapa yang akan menjadi penolong kita? ini sama saja menyerahkan nyawa dengan sia sia." Tanya Lunika merasa takut dan juga cemas.
"Tentu saja ada Papa dan juga paman Seyn dan juga yang lainnya yang akan menyusul kita. Kamu tidak perlu khawatir, kita akan baik baik saja." Jawab Zicko meyakinkan.
"Baik lah jika ini jalan satu satunya untuk menyelesaikan masalah, aku hanya berdoa dan berusaha." Ucap Lunika pasrah.
Sedangkan dalam perjalanan menuju Mansion, Tuan Seyn dan Tuan Zayen semakin tidak karuan untuk memikirkan keadaan putranya dan menantunya yang mungkin saja nyawanya sudah berada di ujung tanduk.
"Apakah kamu sudah siap untuk menghadapi mereka semua?" tanya Tuan Seyn untuk memastikan tekad dari adiknya.
"Siap tidak siap, semua harus dituntaskan. Aku tidak ingin akan ada korban yang kesekian kalinya, kita harus menyudahinya dan jangan sampai terulang kembali. Kita harus menutup masalah ini menjadi yang terakhir dan tidak ada lagi korban kepada anak cucu kita." Jawab Tuan Zayen yang penuh harap akan berakhirnya sebuah dendam kesumat dari turun temurun keluarganya.
"Ya sudah, ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Kasihan Zicko dan Lunika yang sudah menunggu kedatangan kita." Ucap Tuan Seyn.
Setelah tidak ada yang perlu dibicarakan, Tuan Seyn dan Tuan Zayen segera melanjutkan perjalanan menuju Mansion.
Sedangkan Zicko bersama sang istri dan juga satu anak buahnya masih belum beranjak pergi dari tempat bersembunyi nya.
"Sayang, katanya kita mau masuk ke Mansion itu?" tanya Lunika yang justru dirinya sudah tidak lagi sabar ingin melihat dengan jelas tentang apa yang ada didalam sana.
__ADS_1
"Kita menunggu aba aba dulu dari suruhan Papa, tidak semudah itu untuk masuk ke dalam Mansion itu." Jawab Zicko sambil menyiapkan diri untuk masuk kedalam Mansion, sedangkan satu anak buahnya masih mengintai lokasi sekitar.
Setelah dirasa cukup aman dan tidak banyak pengawasan, disaat itu juga Zicko mendapatkan pesan dari salah satu anak buahnya.