
Lunika masih merasakan sakitnya kontraksi, rasa yang sulit untuk dijelaskan. Sakit dan tidak karuan rasanya, membuat Lunika terus mengerang kesakitan. Ia tidak lagi memiliki tempat untuk berkeluh kesah dan manja, suami yang diharapkan untuk bisa mendampinginya pun harus gagal karena suatu kendala yang tidak bisa ditinggalkan.
"Bu, sakit ...." rintih Lunika pada ibu asuhnya.
"Nak, berjuanglah. Ibu akan menemanimu hingga berakhir bahagia, kamu harus yakin dah kuat." Sahut istri kakek Dana, Lunika mengangguk sambil menahan rasa sakitnya. Bahkan untuk berpikir saja mulai kesulitan, ia terus memegangi perut bawahnya, samping, atas, semuanya Lunika usap untuk meredakan rasa sakit.
Namun rasa sakitnya itu bukannya mereda, tetapi semakin cepat dengan jarak yang hanya beberapa detik saja. Lunika semakin kalahan menahannya, berkali kali ia mencengkram seprei dan mengerang kesakitan.
Dengan nafas yang terengah engah dan memburu, Lunika terus dituntun untuk mengatur pernapasannya.
Sedangkan di tempat yang sangat jauh di sana, tepatnya Zicko yang sedang gelisah menunggu istrinya lewat video. Ditambah lagi Zicko yang tidak tega melihat istrinya mengerang kesakitan, membuat nafas Zicko ikut terasa sesak. Berkali kali ia mengusap wajahnya dengan kasar, dan tidak dapat dipungkiri jika Zicko mampu menitikan air matanya saat melihat istrinya tengah berjuang melahirkan buah hatinya hingga nyawanya yang dijadikan taruhan.
Karena terbawa suasana, Zicko tidak lagi dapat menahan kesabarannya. Tanpa harus berpikir panjang, Zicko langsung bergegas bangkit dari posisinya dan bersiap siap.
"Tuan, Tuan mau ke mana?" tanyanya penasaran.
"Kita harus pulang, cepat siapkan mobilnya." Perintah Zicko sambil mengenakan Jaketnya, meski hari ini Zicko masih ada pertemuan lagi dengan rekan kerjanya. Namun, Zicko tidak dapat menahan pikirannya yang tidak karuan tentang istrinya yang sedang mengerang kesakitan.
"Tapi, Tuan. Hari ini kita akan ada pertemuan penting, kalau sampai gagal bagaimana?"
"Tidak perlu khawatir, mereka akan siap kapanpun kita melakukan kerja sama." Sahut Zicko yang sudah tidak lagi sabar.
Sedangkan di ruang persalinan, Lunika masih merasakan sakit pada pinggulnya dan area keseluruhan bagian perutnya.
"Dok, sudah bukaan berapa Dok?" tanya istri kakek Dana yang sudah mulai mencemaskan kondisi Lunika yang terlihat sangat mengkhawatirkannya. Ditambah lagi baru pertama kalinya melahirkan, perasaan cemas takut, dan lainnya pun tengah menguasai pikiran Lunika.
"Aw!! sakit, Bu! sakit ..." ringik Lunika sambil menahan rasa sakitnya. Bahkan Ibu Dokter pun belum sempat menjawab pertanyaan dari istri kakek Dana, Lunika meminta mengejan. Ibu Dokter dengan sigap membantu Lunika untuk melahirkan dan dibantu oleh asistennya.
__ADS_1
Sambil menarik nafas panjang, Lunika berkali kali mengejan. Ia tidak pedulikan lagi dengan rasa sakit yang begitu besar, yang ia pikirkan hanyalah keselamatan buah hatinya. Lunika tidak peduli akan keselamatan dirinya, yang ia harapkan untuk melahirkan buah hatinya ke Dunia dengan selamat.
"Lunika, ayo Nak ... tarik nafasnya. Jangan terburu buru, ikutin jalannya buah hati kamu, Nak ... ayo tarik nafasnya lagi." Ucap sang ibu asuh berkali kali yang terus memberi kekuatan untuk putrinya.
Seketika itu juga, lahir lah seorang bayi dengan tangisan yang melengking ke udara. Semua yang mendengarnya terharu bahagia. Namun tidak untuk Lunika yang tengah terdiam membisu, ia menatap langit langit didalam ruangan persalinan. Lunika pun menitikan air matanya.
"Sayang, buah hati kamu sudah lahir dengan selamat, Nak ... bayi kamu Laki laki. Sayang, tersenyum lah. Kebahagiaan yang sudah kamu nantikan kini telah kamu dapatkan, sekarang kamu sudah menjadi seorang Ibu." Ucapnya sambil mengusap pucuk kepalanya, Lunika masih terdiam.
"Benarkah, Bu?" tanya Lunika yang akhirnya membuka suaranya.
"Benar, sayang."
"Ini bayinya, Nona. Sangat tampan, bukan?" ucap seorang perawat sambil mendekatkan bayinya didekat Lunika. Sedangkan Lunika sendiri tengah dibersihkan **** ************* untuk dijahit beberapa jahitan karena adanya kerobekan ketika menambah jalan untuk lahir.
Senyum mengembang dengan kebahagiaan terlihat jelas pada kedua sudut bibir milik Lunika. Setelah selesai, Lunika dipindahkan ke ruang rawat pasien bersama sang buah hati.
"Selamat Tuan Zayen, sekarang kamu sudah menjadi seorang Kakek. Semoga, cucu lelaki kita akan menjadi penerus kita dikemudian hari." Ucap Tuan Guntur selaku ayah mertua dari Zicko yang telah memberi ucapan selamat kepada besannya.
"Terima kasih, selamat juga untuk kamu, Tuan Guntara. Akhirnya, kita benar benar berbesanan. Aku tidak pernah menyangkanya, dan kini kita menjadi seorang Kakek." Jawab Tuan Zayen, keduanya akhirnya berpelukan.
Pertemanan dari masa sekolah, hingga berujung menjadi besan. Sesuatu yang tidak pernah diduga, kini telah menjadi nyata.
"Aduh! aku sampai lupa," ucap Tuan Zayen yang tiba tiba teringat pada putranya.
"Ada apa?" tanya Tuan Guntara.
"Aku sampai lupa untuk menghubungi Zicko, aku tinggal keluar sebentar." Jawabnya, Tuan Guntara pun mengangguk.
__ADS_1
Berulang kali Tuan Zayen menghubungi putranya, namun tidak ada jawaban darinya. Justru tiba tiba nomor ponselnya tidak aktif.
"Kemana Zicko? kenapa nomornya tidak dapat dihubungi? apa dia sedang melakukan pertemuan?" Gumam Tuan Zayen dengan gelisah.
"Sayang, bagaimana dengan Zicko. Apakah kamu sudah menghubunginya?" tanya sang istri yang tiba tiba sudah berada didekatnya. Tuan Zayen sendiri bingung dibuatnya.
"Aku tidak bisa menghubungi Zicko, nomornya tiba tiba tidak aktif. Apa mungkin sedang melakukan pertemuan, hingga ia abaikan ponselnya." Jawab Tuan Zayen.
"Coba kamu hubungi pak Yitno, atau yang lainnya." Pinta dari sang istri, Tuan Zayen pun mengangguk dan segera menghubungi anak buahnya.
Disaat akan menghubungi orang kepercayaannya, justru ada panggilan masuk ke nomor Tuan Zayen.
"Apa!! Zicko sedang dalam perjalanan pulang? kok bisa, kenapa kalian semua tidak mencegahnya? hah! kalau sampai terjadi sesuatu dengan putraku, bagaimana? sekarang juga kamu putar balikkan arahnya." Bentak Tuan Zayen dengan geram, setelah itu langsung memutuskan panggilan telfonnya dan segera menghubungi orang yang memiliki tanggung jawab atas putranya.
Perasaan panik kini tengah menghantui pikiran Tuan Zayen. Tidak hanya itu saja, rasa cemas dan gelisah juga dirasakan oleh istrinya.
"Sayang, kamu bilang apa tadi? Zicko sedang dalam perjalanan pulang? kamu tidak lagi bohong, 'kan? kenapa Zicko senekad ini."
"Sudah lah, semoga Zicko baik baik saja. Aku takut, kecerobohan Zicko akan menjadi bumerang untuknya."
"Maksud kamu?"
"Aku belajar dari kisahku, kisah menantuku, dan juga kisah dari istri paman Angga. Musuh, tidak akan pernah menunjukkan batang hidungnya. Sekalipun kita sudah merasa nyaman, sedangkan aku dapat merasakannya." Jawab Tuan Zayen yang mulai mencemaskan putranya.
"Sayang, kamu jangan menakutiku seperti ini."
"Aku bukan menakuti kamu, tapi setidaknya kita harus belajar dari pengalaman yang nyata kita lihat. Bahkan, aku tidak mengizinkan cucuku berbeda tempat dengan ibunya. Aku tetap membiarkan tante Elin untuk menemani Lunika 24 jam, dan satu kamar bersama cucuku. Begitu juga dengan Zicko, aku tidak akan membiarkan dia lengah dari penjagaan." Ucap Tuan Zayen menjelaskan.
__ADS_1