
Tuan Seyn yang tidak tega melihat sepupunya, Beliau segera mendekatinya. Meski dengan perasaan takut akan mendapatkan sasaran emosi dari Lunika, Tuan Seyn berusaha untuk positif thinking bahwa sepupunya tidak akan melakukan penyerangan atas kekesalannya atas kabar buruk yang harus Lunika terima secara tiba tiba.
"Ini semua nyata, Lunika. Suami kamu sudah tidak ada lagi di dunia ini, doakan yang terbaik untuk suami kamu. Percayalah, kamu pasti bisa melewati ini semua. Panggil lelaki tua ini dengan sebutan Kakak, mau bagaimanapun kita adalah sepupu. Ingat, jangan panggil dengan sebutan Paman. Karena orang tua kita adalah kakak beradik, ingat itu Lunika. Sekarang masuk lah ke kamar, tidak baik terus terusan meratapi kesedihan. Tante Ellin akan menemani kamu, masuk lah ke kamar." Ucap Tuan Seyn mencoba untuk membujuknya, meski ucapannya sedikit memaksa. Namun itu semua hanya semata agar sepupunya tidak terus menerus larut dalam kesedihan.
Meski Lunika sendiri menyadari, jika dirinya lebih nyaman bersama lbu asuhnya ketimbang bersama Ibu kandungnya sendiri. Semuanya tidak dapat dipungkiri, Namun sikap Lunika tetap bersikap baik dan juga untuk tidak membedakannya, meski kenyamanannya hanya berada pada ibu asuhnya. Rasa cemburu dan kecewa pun tidak terbesit dibenak ibu kandungnya, istri Tuan Guntara sendiri dapat memakluminya.
Lunika yang mendengarnya pun hanya berdiam diri mematung tanpa bergeming sepatah katapun, bahkan ia sudah tidak kuasa untuk berucap dan juga bertanya kembali. Berkali kali Lunika mencoba untuk mencernanya, namun begitu sulit baginya untuk percaya begitu saja. Sedangkan istri kakek Dana segera mendekati putrinya. Mau bagaimanapun, Lunika lebih banyak menghabiskan waktunya dengan istri kakek Dana selama bertahun-tahun hingga sampai menikah. Disaat itu lah, Lunika tidak lagi tinggal bersama ibu asuhnya, melainkan ikut bersama suami tercintanya.
Mau bagaimanapun Lunika sudah bersuami, Lagi pun juga sudah saatnya Lunika menyambut kebahagiaannya. Tapi kini kebahagiaan yang sudah didepan mata harus lenyap begitu saja tanpa ada sesuatu yang Lunika pahami sedikitpun.
"Putriku, ayo masuk ke kamar bersama Ibu. Kamu pasti butuh untuk beristirahat, jangan kamu siksa diri kamu dengan kesedihan yang mendalam. Kasihan bayi Niko, Dia sangat membutuhkan kamu." Ucap istri kakek Dana berusaha untuk membujuk keponakannya.
Lunika hanya mengangguk pasrah, mau berteriak sekeras pun juga tidak akan membuahkan hasil, apalagi untuk menangis, Lunika tidak yakin jika orang orang yang ada disekitarnya akan mendatangkan suaminya yang sudah dikatakannya meninggal, pikir Lunika yang berusaha untuk berusaha kuat dan juga tegar. Meski ketegarannya harus digadaikan dengan rasa yang tiada guna, pikirnya sambil berjalan.
__ADS_1
Sedangkan yang lainnya termasuk Tuan Zayen dan istri, semua hanya bisa pasrah. Semua sudah takdir dan sesuatu yang sudah pergi untuk selama lamanya tidak mungkin untuk kembali, pikir Tuan Zayen dan yang lainnya.
Karena tidak ingin membuat Lunika semakin bersedih ketika keluarga yang lainnya masih berada di rumah Tuan Zayen, akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing masing. Namun tidak untuk istri kakek Dana dan juga ibu kandungnya, keduanya masih berada di rumah Tuan Zayen untuk menghibur Lunika agar tidak begitu kesepian.
"Zayen, Afna, sekarang lebih baik kalian berdua mandilah terlebih dahulu. Setelah itu, istirahatlah. Jika sudah cukup beristirahat, temani Lunika, hibur Lunika, dan beri perhatian kepada bayi Niko." Perintah Kakek Alfan, Kakek Tirta sendiri merupakan menghampirnya.
"Iya Zayen, Afna, yang dikatakan Papa Alfan ada benarnya. Sekarang, cepatlah bersihkan diri kalian berdua dan istirahatlah." Ucap kakek Tirta ikut menimpali.
"Iya Pa, kita tinggal dulu." Jawab Tuan Zayen, kemudian Beliau mengajak istrinya untuk segera membersihkan diri.
Sakit, benar benar sangat sakit untuk ia terima atas kabar duka suaminya yang telah meninggal dunia. Terlalu sakit untuk ia terima, Lunika hanya berdiam diri diatas tempat tidur dan bersandar pada ibu asuhnya.
"Putriku, kamu yang sabar ya sayang ... percayalah, kamu dan Niko pasti bisa melewatinya. Kamu wanita yang kuat dan juga tangguh, kamu mampu untuk menghadapinya. Ikhlaskan kepergian suami kamu, kita semua tidak dapat untuk mengelaknya. Apapun itu, yang sudah terjadi dan pergi tidak akan bisa untuk kembali lagi. Doakan saja untuk suami kamu, semoga tenang di alam sana." Ucap istri kakek Dana sambil mengusap lengan putrinya dengan posisi merangkulnya.
__ADS_1
"Tapi ... Lunika masih belum percaya jika suami Lunika pergi untuk selama lamanya. Baru juga kemarin itu dia pulang, lalu kenapa mesti pergi selama lamanya? ini pasti mimpi kan, Bu?" sahut Lunika yang masih tidak percaya.
"Tidak hanya kamu saja yang serasa bermimpi, bahkan kita semua masih tidak percaya akan kepergian suami kamu. Namun mau bagaimana lagi, kita tidak dapat memungkirinya. Semua telah terjadi, kita hanya bisa menemani dengan hati yang lapang selapangnya." Ucapnya yang terus mencoba untuk menguatkan hati putrinya.
"Bu, Lunika masih sangat merindukannya. Lunika masih ingin bertemu dengannya, masih banyak yang harus kita lewati bersama. Lunika dan suami belum juga memberi kasih sayang untuk Niko, Bu?"
"Lunika, jangan bicara seperti itu. Kepergian suami kamu sudah takdir, kamu tidak bisa memungkirinya. Terimalah dengan hati yang lapang, kamu pasti bisa untuk melewatinya. Sekarang fokuskan untuk putramu, Niko sangat membutuhkan kamu. Buktikan pada suami kamu yang tidak lagi terlihat, bahwa kamu mampu untuk menghadapinya dan membesarkan putramu dengan kebaikan." Ucap istri kakek Dana yang terus menerus untuk mengingatkan serta menasehati Lunika, yakni anak asuhnya yang sudah terasa anak kandung sendiri.
"Iya Bu, maafkan Lunika yang masih berat untuk merelakan kepergian suami Lunika. Dan mulai sekarang, Lunika akan mencoba apa yang ibu katakan. Lunika akan fokus dengan Niko, dia lah penerus ayahnya. Tanggung jawab Lunika masih panjang, semoga Lunika mampu untuk menghadapinya seorang diri." Jawab Lunika yang masih merasa sangat kehilangan sosok suaminya yang selalu menyemangatinya dan selalu memberi perhatian penuh kepadanya.
"Kamu tidak sendiri, ada Ibu dan yang lainnya. Jangan khawatir, kita semua akan selalu ada untuk kamu dan bayi Niko." Ucap istri kakek Dana kembali menyemangati.
"Iya sayang, kamu tidak sendirian. Ada Mama dan Papa yang akan menjadi pengganti suami kamu untuk bertanggung jawab atas kamu dan juga Niko." Ucap sang ibu ikut menimpali.
__ADS_1
Lunika hanya mengangguk dan tidak bergeming, dirinya masih terus teringat tentang suaminya. Bagaimana tidak teringat? baru saja pulang dari luar Kota, ketika pulang harus pergi untuk selama lamanya. Sakit, terasa sakit untuk diterimanya. Mau tidak mau, namanya takdir tidak dapat untuk ditolak. Sesuatu yang sudah dikehendaki, tidak akan bisa untuk dirubahnya.