Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Bertanya tanya


__ADS_3

Rayan yang mendengar pengakuan dari istrinya pun hanya terdiam tanpa bergeming, ia sendiri bingung untuk melanjutkan kata katanya.


"Kamu lapar?" tanya Rayan mengalihkan pembicaraan.


"Tidak, aku masih kenyang." Jawabnya datar, Rayan pun menoleh kearah istrinya. Ditatapnya dengan intens, sebuah beban terlihat jelas pada aura wajah istrinya.


"Bagaimana kalau aku mengajakmu keluar, aku tahu jika kamu merasa sangat suntuk berada di rumah ini." Ajak Rayan yang mengerti dengan apa yang tengah dirasakan sangat istri.


"Tidak perlu repot repot, katakan saja apa yang kamu mau." Jawab Lunika yang tidak menyukai sesuatu yang berbau santai, Rayan kembali tersenyum mendengarnya.


"Yang aku mau itu, banyak sakali." Kata Rayan yang masih menatap istrinya dengan lekat, Lunika yang merasa diperhatikan suaminya merasa risih dan serasa tidak nyaman.


"Katakan saja salah satunya, mumpung aku lagi ingin beraktivitas." Ucap Lunika yang sudah tidak lagi sabar.


"Ikut denganku, aku akan mengajakmu kesuatu tempat." Ajak Rayan, kemudian meraih tangan istrinya. Seketika, Lunika bengong menatap suaminya.


"Ini hanya sekedar menggandeng, jangan memikirkan yang tidak tidak." Ucap Rayan menyakinkan, ia tahu jika suaminya tidak suka untuk disentuh. Dengan kilat, Lunika segera melepaskannya. Kemudian, ia bangkit dari posisi duduknya dan berdiri didepan suaminya.


"Jangan banyak drama, ayo kita berangkat." Ajak Lunika untuk menyingkir, Rayan pun mengerti akan maksud dari istrinya.


"Tunggu sebentar, aku mau ambil kunci mobil dulu." Ucap Rayan, Lunika hanya mengangguk tanpa bersuara.


Dengan sigap, Rayan membawa sesuatu yang tersembunyi dibalik pakaian yang ia kenakan. Takut, sesuatu yang tidak diinginkannya akan menyakiti dirinya ataupun sang istri.


"Ayo, kita berangkat." Ajak Rayan yang terlihat sudah siap untuk segera berangkat, lagi lagi Lunika terkesima dengan penampilan suaminya.


Dengan tatapannya yang menyelidik dari ujung kaki sampai ujung kepala, Lunika begitu tidak asing melihatnya. Dari cara berpakaian, dari segi postur, semua teringat jelas dalam ingatannya.


"Kenapa bengong? apakah aku kurang tampan? jika ia, katakan saja. Nanti aku akan merubah penampilanku sekeren mungkin, bagaimana?"


"Tidak perlu, aku tidak menyukai sesuatu yang berlebihan, termasuk ketampanan. Tapi itu terserah kamu, aku tidak mempunyai hak atas kamu."


"Hem, begitu ya? sudah ah! ayo kita berangkat. Nanti kita tidak mendapatkan tempat yang bagus, sayang pemandangannya." Ajak Rayan yang sudah tidak lagi sabar, lagi lagi Lunika hanya mengangguk.


Selama perjalanan, kedua nampak tidak nergeming dengan pandangannya masing masing lurus kedepan.

__ADS_1


Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya keduanya telah sampai ditempat yang dituju. Yakni, warung sederhana menghadap ke sebuah Danau kecil yang terlihat begitu indah dengan berbagai macam tanaman bunga yang benar benar menyejukkan mata yang melihat.


"Kita sudah sampai, ayo kita turun. Aku berharap kamu menyukai tempat ini, dulunya ini tidak seperti ini penataannya. Kalau tidak salah sekitaran sudah satu tahun ini dirubah menjadi tempat yang nyaman untuk didatangi kapanpun waktu nya, tidak malam maupun pagi sekalipun. Warung ini buka 24 jam, hanya saja di jam tertentu hanya bisa menunggu sambil menikmati secangkir kopi dan teh." Ucap Rayan menjelaskan.


Lunika yang mendengar penjelasan dari Rayan, dirinya hanya menatap bengong lewat kaca mobil bagian depan. Sekilas ia teringat lagi akan kenangan masa lalunya bersama sangat suami, serasa sesak didalam dadanya untuk mengingatnya lagi. Dengan berat, Lunika menarik napasnya sambil memejamkan kedua matanya.


"Mau turun atau tidak?" tanya Rayan sambil melambaikan tangannya tepat didepan wajah istrinya.


Lagi dan lagi, Lunika hanya mengangguk mendengarnya. Kemudian ia mengikuti sang suami turun dari mobilnya dan mengekor dari belakang.


Rayan yang tidak ingin menjadi bahan bicaraan orang orang di warung makan, ia segera meraih tangan sang istri dan menggandengnya layaknya seorang suami yang memperlakukan baik pada istri tercintanya. Meski kenyataannya berbanding terbalik, namun Rayan tetap menjaga keharmonisan.


Setelah menemukan tempat duduk yang sudah di pesan sebelumnya, Rayan dan Lunika segera duduk saling berhadapan. Sedikit ada rasa canggung pada Lunika, segera ia menipisnya.


"Mbak, aku mau pesan makanan." Panggil Rayan pada salah satu karyawan warung makan.


"Iya Tuan, mau pesan apa?" sahutnya dan bertanya.


"Bebek bakar dengan minumnya teh hangat, itu saja." Jawabnya sambil menyebutkan pesanannya, sedangkan Lunika hanya diam dan tidak bergeming saat suaminya memesan makanan.


"Kamu suka bebek bakar, 'kan?" tanya Rayan.


"Iya," jawabnya singkat dan datar.


"Aku kira tidak suka, baik lah kita tunggu pelayan datang." Ucap Rayan tetap bersikap tenang, tidak lama kemudian seorang pelayan telah datang membawa nampan berukuran besar yang terdapat bebek bakar dan minuman teh hangatnya.


Dengan sangat hati hati, seorang pelayan meletakkan bebek bakarnya serta minumannya.


"Silahkan menikmati bebek bakarnya, Tuan ... Nona." Ucap seorang pelayan mempersilahkan dengan santun, Rayan pun mengangguk. Lunika hanya tersenyum tanpa bersuara.


"Ayo, kita makan. Waktu kita tidak banyak, aku masih ada kerjaan yang belum aku selesaikan."


Lunika mengangguk, kemudian ia memulai untuk menikmati makan siangnya dengan menu bebek bakar pesanan dari suaminya. Didalam benaknya masih terus memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan suaminya, yaitu Zicko.


'Perlakuannya tidak lepas dari suamiku Zicko, apa yang sebenarnya Mama dan Papa rencanakan untukku?' batin Lunika sambil mengunyah makanan. Kemudian ia menoleh kearah suaminya sambil memperhatikan gerak geriknya.

__ADS_1


Disaat itu juga, Rayan menoleh kearah istrinya. Keduanya pun saling menatap satu sama lain.


Dilihatnya pada sudut kanan bibir milik Lunika terdapat sisa makanan yang menempel, Rayan segera mengambilnya.


DEG!!


Detak jantung Lunika terasa bergemuruh hebat saat jari tangan milik suaminya menyentuh sudut bibirnya.


"Kalau makan itu yang benar, belepotan gitu. Nih, aku suapin. Buka mulutmu, aaaaa! cepetan buka mulutmu." Ucap Rayan sambil menyodorkan tangannya yang berisi suapan, mau tidak mau Lunika menerimanya karena orang disekelilingnya. Lagi lagi Lunika terasa geram, seakan akan suaminya di copy paste oleh suami barunya. Segala yang dilakukan oleh Rayan benar benar tidak beda jauh dengan apa yang dilakukan suaminya ketika masih hidup.


Karena semakin terasa kesal, Lunika mempercepat untuk menghabiskan makanannya. Tidak lama kemudian, keduanya telah selesai makan.


"Ayo, kita pulang." Ajak Rayan, lagi lagi Rayan menggandeng tangan istrinya. Semua pengunjung tidak ada yang tidak membicarakan keserasian diantara keduanya.


Selama perjalanan pulang, Lunika tetap berdiam dan tidak bergeming. "Apakah ada sesuatu yang ingin kamu beli?" tanya Rayan membuka suara.


"Tidak, aku tidak ingin membeli apapun." Jawabnya tanpa menoleh, Rayan sendiri tidak mempermasalahkannya.


Karena tidak ingin lama diperjalanan, Rayan menambah kecepatannya. Ia sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah dan ingin cepat cepat menyelesaikan tugas yang belum terselesaikan.


"Kita sudah sampai, kamu yakin tidak ada yang ingin kamu beli? karena setelah ini aku harus pergi untuk menyelesaikan pekerjaanku."


"Tidak, aku hanya ingin istirahat." Sahutnya, kemudian ia langsung turun tanpa basa basi apapun.


"Baik lah, jika tidak ada yang kamu butuhkan. Ayo masuk, aku harus bersiap siap untuk berangkat."


Saat didalam rumah, Rayan segera membereskan sesuatu yang ada di ruangan privatnya. Kemudian memasukkannya ke dalam tas untuk ia bawa, lalu ia berpamitan pada istrinya.


"Jangan pernah keluar rumah, apapun alasannya. Aku akan segera pulang setelah urusanku selesai, istirahatlah sesuai yang kamu inginkan." Ucap Rayan, lalu menyambar sebuah pistol yang tergeletak di atas nakas.


Seketika, Lunika membulatkan kedua matanya saat melihat suaminya membawa sebuah pistol.


"Tunggu!"


"Ada apa?" tanya Rayan, kemudian Lunika mendekatinya.

__ADS_1


Rasa kesal yang baru saja reda, kini harus ditambah kekesalannya saat melihat suaminya membawa sebuah pistol.


__ADS_2