Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Meminta maaf


__ADS_3

Ketika suasana berubah menjadi hening, Romi segera mencari ide untuk melerai dengan kepala dingin. Karena tidak ingin melihat suasana semakin gaduh dan ricuh, Romi segera mendekati Aden.


"Aku mengerti perasaan kamu saat ini, alangkah baiknya jika kamu segera pulang. Tenangkan pikiranmu terlebih dahulu, setelah itu baru kamu bicara baik baik dengan sahabatmu. Tidak baik kamu menunjukkan kegaduhan di rumah Lunika, kasihan ibunya yang sedang sakit. Untuk saat ini, terimalah dengan hati yang lapang. Aku yakin jika kamu masih bisa untuk mengendalikan emosimu, aku percaya denganmu." Ucap Romi berusaha untuk melakukan solusi menghindarkan sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Aku pulang, sampai jumpa." Jawab Aden dengan singkat tanpa berpamitan dengan ibunya Lunika, semua yang ada disekelilingnya pun tidak mempermasalahkannya. Semua mengerti akan kondisi yang sedang dihadapi.


Setelah tidak terlihat bayangan Aden, kini giliran Romi mendekati Zicko yang tengah prustasi.


"Kamu tahu? semua sudah terungkap tentang sandiwara kamu didepan kami. Dan, kamu tidak bisa mengelaknya lagi. Bahkan, kamu tidak bisa untuk lari dari kenyataan yang ada. Aku dapat memahami dengan posisi kamu saat ini, mau tidak mau kamu harus pulang sekarang juga. Biarkan aku dan Lunika yang akan menjelaskannya, kamu cukup tenangkan pikiran kamu dan ambillah keputusan yang kiranya menurutmu itu benar. Kamu masih ada waktu untuk menemui ibunya Lunika ketika pikiran kamu tidak lagi dikuasai oleh emosi dan egomu yang tinggi." Ucap Romi berusaha untuk tidak membuat suasana menjadi ricuh.


Zicko yang selaku suami sah Lunika, ia menatap lekat wajah istrinya dengan seksama. Dengan pelan, Zicko menarik nafasnya dan membuangnya dengan perlahan.


"Aku pulang, maafkan aku yang sudah mengacaukan keluarga kamu. Bahkan, aku sudah membuat kesalahan yang sangat besar terhadap ibumu. Jaga diri kamu baik baik, aku pulang." Ucap Zicko berpamitan pada istrinya, kemudian ia maju selangkah untuk mendekati ibu mertuanya.


"Bu, maafkan saya yang sudah sangat lancang tanpa ada rasa hormat sedikitpun pada ibu untuk menikahi Lunika. Saya benar benar menyesalinya, saya janji untuk tidak mengulangi kesalahan yang kedua kalinya. Saya siap menerima hukuman dari ibu, tapi mohon jangan meminta saya untuk menceraikan Lunika. Sungguh, saya tidak akan pernah melakukannya." Ucap Zicko penuh penyesalan.


"Pulang lah, aku sedang tidak ingin berbicara denganmu. Kamu renungi sendiri atas perbuatanmu itu, pantaskah kamu melukai perasaan seorang ibu? setelah kamu menyesali atas perbuatan kamu, siapkan diri kamu untuk menceraikan Lunika." Jawab ibu Ruminah dengan tatapan yang sulit untuk dimengerti.


"Baik Bu, saya akan segera pulang. Tapi, saya tidak akan pernah menceraikan Lunika sampai kapanpun. Saya akan mempertahankan rumah tangga saya, sebagaimana kedua orang tua saya mempertahankan pernikahannya." Ucap Zicko dengan serius, kemudian membalikkan badannya dan meninggalkan sang istri yang masih berdiri mematung tanpa berucap sepatah katapun ketika sang suami pergi meninggalkanannya.

__ADS_1


Setelah kepergian Zicko tidak lagi nampak bayangannya, kini tinggal lah Lunika yang masih berdiam diri sambil berdiri. Sedangkan Romi mendekati Lunika, berharap semua akan baik baik saja.


"Lun, duduk lah. Kita akan selesaikan masalah kamu dengan kepala dingin, kamu jangan takut." Ucap Romi meyakinkannya.


"Putriku, sini duduk lah disebelah ibu. Ada banyak hal yang harus kamu ketahui, duduklah." Panggil ibunya sambil menepuk tempat duduk yang ada disebelahnya.


Romi pun menganggukkan kepalanya, ia memberikan isyarat pada Lunika untuk mendekati ibunya.


Dengan langkah kakinya yang pelan, Lunika mendekati ibunya dan duduk disebelahnya.


Dengan lembut, sang ibu mengusap punggung milik putrinya berulang ulang. Kemudian sang ibu tersenyum pada putrinya.


"Bu, maafkan Lunika. Jika Lunika telah melukai perasaan ibu, Lunika benar benar menyesalinya. Lunika siap menerima hukuman dari ibu, meski harus bercerai dengan suami Lunika. Tapi ..." Jawabnya dan menggantungkan kalimatnya.


"Tapi kenapa?" tanya sang ibu sambil memperhatikan raut wajah putrinya yang terlihat gelisah.


"Tapi ... Lunika masih menjalani kontrak pernikahan, Bu. Maafkan Lunika, jika Lunika terpaksa melakukan pernikahan sandiwara dengannya. Karena Lunika sangat membutuhkan biaya untuk pengobatan ibu, Lunika terpaksa melakukannya. Maafkan Lunika, Bu ... maafkan Lunika." Jawab Lunika kemudian bersimpuh dikaki ibunya.


"Sudah, sudah ... bangun lah. Kamu tidak pantas bersimpuh dikaki ibu, dan kamu tidak perlu menyesalinya. Ibu sudah mengetahuinya dari Romi, ibu tidak menyalahkan kamu. Justru, ibu sangat berterima kasih kepadamu. Karena kamu rela mempertaruhkan kebahagiaanmu demi kesembuhan ibu, maafkan ibu." Ucap sang ibu, kemudian menarik Lunika untuk kembali duduk disebelahnya.

__ADS_1


Setelah itu, ibu Ruminah memeluk erat putri kesayangannya. Tanpa diminta, keduanya sama sama menitikan air matanya hingga membasahi kedua pipinya. Kemudian, sang ibu melepaskan pelukannya dan menghapus air mata putrinya dengan ibu jarinya.


"Maafkan ibu, jika ibu terpaksa mengusir suami kamu dengan kasar. Ibu terpaksa melakukannya, ibu hanya ingin tahu perasaan suami kamu yang sebenarnya terhadapmu. Tidak hanya itu, ibu hanya memberi pelajaran pada suami kamu. Agar tidak semena mena melakukan kesalahan tanpa ditimbangnya terlebih dahulu." Ucapnya lagi.


"Lunika tidak begitu memikirkannya, yang Lunika pikirkan hanya kesembuhan ibu. Soal pernikahan, Lunika pasrah. Lagian juga, pernikahan ini hanya sandiwara demi dirinya bisa lari dari perjodohan. Lunika sadar diri, jika Lunika bukan dari keluarga yang bermartabat." Jawab Lunika dengan tenang, meski dirinya sendiri tengah dilema akan perasaannya.


Ditambah lagi, Lunika teringat saat dirinya melihat perdebatan sengit antara Aden dengan suaminya. Perdebatan yang benar benar sangat menakutkan dan membuatnya kembali gelisah, Lunika sendiri tengah kesulitan untuk menenangkan pikirannya. Dirinya terus teringat akan sesuatu hal buruk yang kapan saja bisa terjadi pada dirinya maupun sang suami dan temannya, yaitu Aden.


"Lun! jangan banyak melamun, tidak baik. Sekarang, cepat ganti pakaian kamu. Lihatlah, penampilan kamu masih berantakan, buruan mandi." Ucap ibu Arum mengingatkan, Lunika hanya tersenyum malu.


"Iya Bu, terima kasih sudah mengingatkan Lunika. Kalau begitu Lunika titip ibu dulu, ya Bu. Dan, kamu Romi. Kalau kamu mau pulang, pulanglah. Terima kasih, kamu sudah banyak membantuku dikala aku sedang membutuhkan pertolongan. Sekali lagi, terima kasih banyak." Jawab Lunika, kemudian segera ia masuk ke kamarnya.


Sedangkan dalam perjalanan pulang, Zicko masih berdiam diri didalam mobil sambil menatap luar dengan sejuta lamunannya.


"Maaf Tuan, kita mau kemana lagi? waktu sudah hampir gelap." Tanya pak Yitno.


"Kita pulang saja, Pak. Aku mau istirahat, aku capek." Jawab Zicko tidak bersemangat.


"Baik Tuan, kalau begitu kita putar balik." Jawab pak Yitno.

__ADS_1


'Rumit juga ya, masalah tuan muda. Sepertinya tuan muda sudah jatuh cinta dengan sang istri, semoga saja.' Batin pak Yitno sambil fokus dengan setir mobilnya.


__ADS_2