
Waktu pun telah dilewati, kini tidak ada lagi sosok kedua orang tua Zicko dikediaman rumah orang tuanya. Hanya dirinya bersama sang istri yang tinggal dirumah dan asisten rumah serta para pelayan maupun yang lainnya.
Sepi, dan tidak ada lagi yang bisa untuk disapa ketika keluar dari kamar maupun pergi keluar.
"Aku sudah meminta asisten rumah untuk menyiapkan pakaian kamu, dan kamu tinggal bersiap siap untuk berangkat. Oh iya, pak Yitno yang akan mengantarkan kamu sampai di rumah. Ingat, aku melarangmu untuk menerima tamu laki laki sebelum aku datang." Ucap Zicko mengingatkan.
"Untuk apa membawa baju ganti? dirumah masih banyak baju bajuku yang bisa aku pakai. Lagian juga hanya satu hari, 'kan?"
"Aku tidak ingin kamu terlihat buruk dimata teman teman sekolah kamu, apa lagi kamu seorang istri dari keluarga Wilyam. Aku tidak akan membiarkan kamu untuk menjadi bahan hinaan." Ucap Zicko yang tidak menyukai penolakan.
"Tapi, bukankah pernikahan kita ini hanya keluarga kamu saja yang tahu? kenapa mesti teman temanku mengetahuinya?" tanya Lunika heran.
"Oooh, jadi kamu masih menginginkan pernikahan kita untuk disembunyikan? baik lah. Sekarang juga, cepetan berangkat. Aku tidak akan datang ke rumah kamu, biar pak Yitno yang akan menginap di rumah kamu." Ucap Zicko, kemudian ia segera pergi begitu saja meninggalkan Lunika dengan langkah kakinya yang lebar dan sambil menyimpan rasa kekesalannya pada sang istri.
Lunika yang mengerti maksud dari sang suami, ia segera mengejarnya dan mencoba untuk menghadangnya.
"Tunggu! berhenti." Ucap Lunika cukup keras sambil menghadang dengan cara merentangkan kedua tangannya.
"Norak! minggir, aku mau lewat." Jawab Zicko, kemudian mencoba menyingkirkan rentangan kedua tangan istrinya dengan paksa.
"Tidak! aku tidak akan membiarkan kamu pergi sebelum kamu mendengarkan ucapan dariku." Ucap Lunika bersikukuh pada sang suami.
"Mau apa lagi? bukankah kamu sudah tidak sabar untuk segera pulang ke rumah ibu kamu, 'kan?"
"Bukan itu yang aku maksud, aku tidak melarangmu untuk menunjukkan pada siapapun tentang aku siapanya dirimu. Tidak ada maksud yang lain, aku serius."
"Tidak penting, minggir! aku mau berangkat ke kantor. Ingat, aku melarangmu untuk bertemu dengan laki laki lain tanpa adanya aku disampingmu. Jika kamu melanggarnya, aku akan melakukan apapun terhadapmu." Ucap Zicko sedikit mengancam.
Lunika yang mendapat ancaman serta tatapannya yang tajam, dirinya hanya bisa mengangguk tanpa berucap sepatah katapun. Sedangkan Zicko sendiri segera pergi meninggalkan sang istri yang tengah berdiri mematung didepan rumah sambil menyaksikan sang suami hingga tidak lagi terlihat bayangan mobilnya.
__ADS_1
"Maaf Nona, apakah Nona sudah siap untuk berangkat?" tanya pak supir mengagetkan Lunika yang tengah memperhatikan sang suami sampai bayangannya menghilang serta bayangan mobilnya tidak terlihat lagi.
"Iya Pak, kalau begitu Lunika ambil tas selempang sebentar ya, Pak." Jawab Lunika, kemudian ia segera kembali masuk kedalam kamar dan segera mengambil tas nya.
Setelah mengambil tas miliknya, Lunika segera masuk ke mobil tanpa ada sesuatu yang tertinggal. Selama perjalanan, Lunika hanya menatap luar jendela sambil melamun akan nasibnya yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Karena bosan menatap luar, Lunika mencoba untuk memberanikan diri untuk mengajak pak supir mengobrol dengannya.
"Pak Yitno, bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya Lunika dengan berani dan tanpa ada rasa ragu sedikitpun.
"Tentu saja Boleh, Nona. Memangnya Nona mau menanyakan masalah apa?" jawab pak supir dan balik bertanya.
"Emmm ... saya mau bertanya soal suami saya, Pak. Tidak lebih, hanya penasaran dengan sosok suami saya sekarang ini. Maksud saya, apakah memang sudah dari dulu bahwa suami saya itu orangnya memang sangat dingin dan juga keras kepala, Pak?" tanya Lunika memberanikan diri. Meski yang sebenarnya sangat ketakutan jika sampai sang suami marah besar akan gerak geriknya.
"Dari dulu tuan muda sangat ceria, bahkan tuan muda begitu sangat dekat dengan sang ayah maupun dengan ibunya. Setelah beberapa hari pulang dari luar negri, tuan muda tiba tiba menjadi sosok laki laki yang disayangkan." Jawab pak supir menjelaskan.
" Tuan muda bukan lagi tuan muda yang dikenal, tetapi terasa asing dihadapan yang lainnya. Sikapnya yang dingin, suka nongkrong, dan sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat." Jawab pak Yitno sambil fokus dengan setirannya.
"Apakah karena seorang perempuan?" tanya Lunika yang semakin penasaran. Tanpa Lunika sadari jika dirinya telah sampai didepan rumahnya.
"Maaf Nona, kita sudah sampai." Ucap pak supir mengalihkan pembicaraannya bersama istri majikannya.
Lunika masih bengong tidak percaya, jika dirinya kini telah sampai dihalaman rumahnya. Tanpa pikir panjang, Lunika langsung keluar dari mobil. Saat turun dari mobil, dilihatnya sang ibu dan ibu Arum tengah duduk santai didepan rumah.
"Ibu ..." seru Lunika mencium tangan milik sang ibu dan memeluknya.
"Lunika, putriku ... bagaimana kabar kamu, sayang." Panggil sang ibu pada putri kesayangannya. Kemudian, keduanya saling bertatap muka. Lunika mencium kedua pipi ibunya secara bergantian.
"Kabar Lunika sangat baik, Bu. Ibu sendiri, bagaimana kabarnya? Lunika sudah kangen sama Ibu." Ucap Lunika senyumnya yang mengembang, ia berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihannya apapun itu demi kesehatan ibunya segera pulih kembali.
__ADS_1
"Kabar ibu seperti yang kamu lihat, ibu sudah banyak perubahan sekarang." Jawab sang ibu yang juga menunjukkan senyumannya pada putri kesayangannya.
Setelah itu, Lunika menoleh kearah samping yang juga sudah dianggapnya keluarga sendiri. Siapa lagi kalau bukan ibu Arum, ibunya Romi sahabatnya. Tanpa basa basi, Lunika langsung memeluk ibu Arum meski sebentar.
"Ibu Arum, apa kabarnya?" Sapa Lunika dengan ramah.
"Kabarnya ibu baik baik saja, Lun. Bagaimana pekerjaan kamu di sana? kamu betah 'kan? majikan bagaimana? baik semua 'kan?" jawab ibu Arum dan bertanya berbagai macam pertanyaan untuknya.
"Baik baik semua, Bu. Lunika juga betah tinggal di rumah majikan, karena semuanya baik baik." Jawab Lunika beralasan.
'Maafkan Lunika Bu, Lunika harus berbohong sama ibu. Disana, Lunika sudah seperti majikan. Makan, ini dan itu, serta mau apa saja sudah tersedia. Bahkan, Lunika tidak pernah menyentuh pekerjaan.' Batin Lunika sambil melamun.
"Maaf Nona, ini barang barang mau ditaruh dimana?" tanya pak supir sambil menenteng berbagai macam barang barang yang diperintahkan Bos mudanya.
"Lun, ditanya kok melamun." Ucap ibu Arum sambil menepuk punggung Lunika.
"Barang? barang apaan itu, Pak?" tanya Lunika penasaran dan menoleh barang barang yang sudah diturunkan dari bagasi mobil.
'Perasaan aku tidak membawa apa apa deh, kenapa begitu banyak barang yang dikeluarkan dari bagasi?' batin Lunika sambil menatap barang barang tersebut.
"Ini, tadi tuan muda yang menyuruh bapak untuk membawa semua pesannya." Jawab pak supir, Lunika hanya menarik nafasnya panjang dan membuangnya kasar.
"Taruh didalam rumah dulu, Pak. Biar nanti saya yang beresin, sekarang bapak istirahat didalam." Ucap Lunika yang merasa tidak enak hati karena sudah menyusahkan supir suaminya.
Sedangkan sang ibu dan ibu Arum heran melihat begitu banyak barang yang dibawa Lunika, pikirnya.
"Lun, ini beneran dari Bos kamu? atau ..." tanya sang ibu yang mulai mencirugai putrinya.
"Ibu jangan berpikiran yang aneh, aneh. Bosnya Lunika sangat baik, Lunika tidak bohong. Lebih baik sekarang kita masuk kedalam rumah, tidak baik berada di luar rumah, Bu ..." Ujar Lunika meyakinkan ibunya dan ibu Arum, setelah itu segera masuk kedalam rumah.
__ADS_1