Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Berpisah


__ADS_3

Lunika yang malas menanggapi ucapan dari suaminya, segera ia menyelesaikan sarapan paginya. Setelah selesai sarapan pagi, Lunika segera membersihkan bagian mulutnya dengan tissu. Kemudian dengan entengnya tanpa peduli pada suaminya, Lunika beranjak pergi dari ruang makan. Sedangkan Rayan memilih untuk mengikuti langkah kaki istrinya kemana berhenti.


"Iiiih! ngapain sih ngikutin aku terus, sudah sana diruang tamu saja kamu. Aku tidak mengizinkan kamu untuk masuk ke kamarku, yang tidak lain kamar suamiku. Kamu tidak mempunyai hak untuk masuk, ngerti."


"Iya ya ya, bawel."


"Bo*doh amat, emang aku pikirin. Jangan kepedean, aku tidak akan berpaling dari suamiku yang lebih tampan dan penuh perhatian." Ucap Lunika mencoba untuk menghindarinya, ia takut kedekatannya pada suami barunya akan menjadikan seorang pengkhianat untuk suaminya, yakni Zicko.


Rayan yang mendengar pengakuan dari istrinya pun tersenyum mengembang, lagi lagi Punika dibuatnya geram dan juga kesal.


'Da*sar! lelaki super aneh, dimarahin cuman senyum. Dia kira aku ini bercanda kali, ya. Hem, benar benar bikin tensi ku naik drastis, menjengkelkan.' Batin Lunika penuh kekesalan.


"Loh loh loh, kenapa kalian berdua masih berdiri disitu? Lunika, ayo cepetan bersiap siap. Suami kamu mau mengajakmu untuk pulang ke rumahnya, siapkan mentalmu." Ucap sang ibu mertua sudah seperti ibu kandungnya sendiri.


"Eh iya Ma, hampir saja Lunika lupa." Sahutnya dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.


"Bagaimana? kalian berdua siap?" tanya Tuan Zayen yang sudah terlihat sangat rapi.


"Saya sudah siap, entah dengan istriku ini." Jawab Rayan dengan tenang, kemudian menoleh kearah Lunika yang cukup terlihat menyimpan ketidaksukaannya.


Karena ingin terlihat mesra, Rayan meraih tangan sang istri lalu menggandengnya. Lunika sontak kaget dibuatnya, ingin melepaskannya tapi takut ada mertua dihadapannya. Mau tidak mau, Lunika hanya nurut dengan pasrah.


"Ma, Ni -"


"Niko, maksud kamu?"

__ADS_1


"Iya Ma, Lunika ingin memeluknya sebentar." Pinta Lunika penuh harap.


"Temui ditaman belakang bersama suami kamu, perkenalkan pada cucu kesayangan Mama. Katakan pada Niko, jika Niko mempunyai seorang ayah." Ucap sang ibu mertua yang terlihat begitu santai. Sedangkan Lunika langsung menoleh kearah Rayan, suaminya.


"Iya Ma, Lunika akan memperkenalkan suami Lunika pada Niko." Jawab Lunika sembari mengangguk, Rayan hanya mengikutinya dari belakang. Dengan malas dan berat hati, Lunika terpaksa menuruti permintaan ibu mertuanya.


Sampainya di taman belakang, dilihatnya Niko yang tengah asik bermain dengan permainannya.


"Tampan juga ya, anak kamu." Ucap Rayan membuka suara, Lunika segera menoleh kearah samping.


"Iya dong, siapa dulu ayah dan ibunya." Sahut Lunika dengan bangga, lagi lagi Rayan hanya tersenyum.


"Jadi penasaran dengan sosok suami kamu dulu, sayangnya sudah dikabarkan meninggal." Ucap Rayan dengan santai.


"Yang jelas lebih sempurna suamiku yang dulu ketimbang kamu, yang sok kenal dekat denganku." Jawabnya dengan sungut.


"Sudah, jangan sering sering menatapku dengan tajam. Nanti kamu bisa tergila gila akut dengan laki laki tampan sepertiku." Sahut Rayan, kemudian mempercepat langkahnya.


"Iiiih! sialan banget sih laki laki itu, bikin kesal saja dari kemarin. Lagian juga siapa yang akan tergila gila dengannya, jangan mimpi." Gumam Lunika berdecak kesal sambil berkacak pinggang.


Rayan yang tidak peduli pada istrinya yang tengah berdecak kesal, ia memilih untuk mendekati dan merayu Niko untuk diajaknya.


"Niko, benarkah nama kamu Niko? benar benar menggemaskan." sapa Rayan sambil mencubit pipi gembilnya dengan gemas.


"Sudah tahu namanya Niko, masih bertanya juga." Sahut Lunika yang sudah berada dibelakang suaminya.

__ADS_1


"Diam, atau aku akan menculiknya." Ancam Rayan menakuti, Lunika hanya terdiam.


Dengan lekat, Lunika menatap putranya dengan seksama. Dilihatnya wajah yang begitu mirip dengan suaminya, membuat Lunika tidak ingin meninggalkan putranya walaupun hanya satu hari dia hari. Karena waktu yang sudah tidak lama lagi, Lunika segera menggendongnya. Kemudian Lunika memeluknya dengan erat, serta mencium wajahnya berulang ulang, dari kedua pipinya dan juga keningnya dan juga pucuk kepalanya.


Rayan yang memperhatikannya pun hatinya tersentuh dan terasa teriris perih saat menyaksikan betapa rasa kasih sayang seorang ibu pada putranya. Sungguh, disaat itu juga Rayan tanpa ia sadari tengah menitikan air matanya. Perasaan bahagia bercampur sedih saat dirinya tak mampu untuk menggapainya.


Napasnya yang terasa berat, ia mencoba untuk tetap tenang. Dengan cepat, Rayan menghapus air matanya. Tanpa disadari, pemandangan yang mengharukan telah tertangkap jelas oleh Tuan Zayen dan istrinya.


"Kamu yakin?" tanya Tuan Zayen sambil memperhatikan Lunika yang tengah menggendong putra kesayangannya.


"Aku yakin, semua pasti akan baik baik saja. Setidaknya ikut berusaha, selebihnya kita hanya bisa pasrah dan berdoa." Jawab sang istri dengan yakin.


Setelah cukup lama mengobati kerinduannya sebelum meninggalkan putranya, dengan sedih ia harus melepaskan pelukannya. Rayan yang tidak sanggup melihat pemandangan yang mengharukan, ia segera mendekatinya lebih dekat lagi.


"Berhentilah untuk menangis, karena tidak selamanya akan berpisah dengan putramu. Palingan juga satu minggu, bahkan tidak sampai. Sekarang lebih baik tenangkan pikiran kamu sejenak, setelah itu aku akan mengajakmu untuk pulang bersamaku." Ucap Rayan memberanikan diri, Lunika masih tidak bergeming.


"Bukannya aku tidak mengizinkan kamu membawa anakmu, aku hanya tidak ingin putramu akan menjadi pelampiasanmu ketika kalian berdua berada di dalam rumahku dengan tekanan batin. Aku hanya ingin kamu untuk beradaptasi terlebih dahulu denganku, dan juga dilingkungan rumahku. Jika kamu merasa tidak ada beban berada dirumahku, kamu berhak untuk membawa Niko ke rumahku." Ucap Rayan menjelaskannya, Lunika pun mengangguk.


Karena masih diselimuti perasaan dongkol dan kesal, Lunika tidak memperkenalkan Rayan dengan putranya. Namun tidak membuat Rayan sakit hati ataupun apa lah. Rayan sendiri dapat mengerti dengan apa yang dirasakan istrinya, apapun itu tetap untuk bersabar menghadapinya.


Setelah dirasa sudah cukup, Lunika menyerahkan putranya ke seorang pengasuh yang dipercaya dengan perasaan begitu berat. Mau tidak mau, Lunika tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti kemauan mertuanya. Entah apa yang terjadi selanjutnya, Lunika tidak ingin memikirkannya lebih jauh lagi.


Pasrah, hanya itu yang dimiliki Lunika. Baginya tiada guna untuk memohon mohon, semua hanya sia sia, pikirnya.


Setelah mencium putranya, Lunika berbalik arah dan berjalan beriringan dengan sang suami. Lagi lagi Rayan kembali menggandeng tangan istrinya dengan erat.

__ADS_1


Seketika, Lunika merasa ada sebuah magnet pada tangannya saat suaminya menggandengnya. Genggamannya terasa hangat dan begitu nyaman untuknya, bahkan seakan dirinya telah terhipnotis oleh suaminya.


'Kenapa aku merasa nyaman saat dia menggenggam tanganku, bahkan terasa hangat dan pas genggamannya.' Batin Lunika seperti tidak percaya dengan apa yang rasakan.


__ADS_2