
Dey dan Arnal tengah dalam perjalanan menuju tempat yang akan dituju oleh keduanya, yakni hanya untuk menuruti permintaan dari sang istri yang meminta buah asam yang masih muda. Entah bagaimana rasanya memakan buah asam muda, pikir Dey yang terus menguasai pikirannya atas permintaan dari istri tercintanya.
Tidak memakan waktu lama, Dey dan Arnal telah sampai di tempat yang dituju.
"Kita sudah sampai, Tuan." Kata Arnal usai mematikan mesin mobilnya.
"Benarkah?" tanya Dey tidak percaya.
"Benar, Tuan. Mari kita turun, Tuan." Jawab Arnal dan mengajaknya untuk segera turun dari mobil. Dey pun mengikuti ajakan dari orang kepercayaan Pamannya.
Setelah turun dari mobil, Dey celingukan mencari pohon asam yang sedang ia cari buahnya.
"Arnal, mana pohonnya?" tanya Dey masih celingukan.
"Pohon nya ada di makam, Tuan." Sahut Arnal sambil menahan tawa, sebisa mungkin sekali kali ia dapat mengerjai Tuan nya, ujar Arnal dalam pikirannya.
"Apa kamu bilang! pohonnya ada di makam? jangan gila, kamu ini." Ucap Dey terkejut saat mendengar jawaban dari Arnal, tatapannya pun seakan ingin membu*nuh.
"Bukan bukan, bukan ... pohonnya ada dibelakang rumah, Tuan. Sebelumnya, kita meminta izin terlebih dahulu sama yang punya." Sahut Arnal sebelum menyapa pemilik pohon asam yang cukup besar.
"Cepetan, nanti keburu selera istriku tidak mau. Bisa bisa aku dikerjain lagi untuk mencari buah yang lain, menyedih sekali, bukan? hem."
"Tuan tidak perlu takut, orang ngidam kalau belum terpenuhi akan tetap ditunggu." Ucap Arnal mengira ngira, Dey hanya mengangguk pasrah.
Setelah itu, Arnal mengajaknya untuk menemui pemilik pohon asemnya. Dengan pelan, Arnal mengetuk pintunya. Sedangakan Dey hanya berdiam diri disebelah Arnal, sepatah kata pun tidak ia dengarkan.
"Nak Arnal, ya?" tanya sang kakek yang usianya lebih separuh abad. Namun, fisiknya masih terlihat segar bugar.
"Ya Kek, saya Arnal. Kedatangan saya kemari sengaja mengajak Pak Bos untuk datang ke rumah Kakek, lebih jelasnya lagi mau meminta buah asam yang masih muda, Kek. Apakah Kakek mengizinkan nya? jika tidak, saya tidak akan memaksanya Kek." Ucap Arnal penuh harap izinnya akan dikabulkan.
__ADS_1
"Memangnya buah asamnya untuk apa, Nak? hem." Tanya sang kakek yang ingin mengetahui dengan jelas alasan dari Arnal.
"Begini Kek, istri saya sedang hamil. Saat saya menemui istri saya, rupanya saya diminta untuk mencarikan buah asam mudanya, Kek." Jawab Dey dengan jujur.
"Ooooh, istri kamu sedang hamil? kenapa tidak bilang dari tadi?" tanya Beliau sambil menatap Arnal dan Dey secara bergantian.
"Lupa, Kek." Jawab Arnal dan Dey dengan kompak.
"Hem, istriku! bukan istrimu." Ketus Dey sambil melirik kearah Arnal.
"Ah ya, Tuan. Saya baru paham, maaf." Kata Arnal senyum pasta gigi.
"Ya udah, ayo ikut kakek ke belakang. Pohon Asam nya ada dibelakang rumah." Ajak sang Kakek, Arnal dan Dey menjawab bersamaan.
Saat berada di belakang rumah, pandangan Dey begitu terkejut saat melihat pohon Asam yang begitu besar dan juga sangat tinggi. Seketika, bulu kuduk milik Dey semuanya berdiri.
"Kek, metik nya pakai apa?" tanya Dey sambil memperhatikan pohon asam nya.
"Manjat. Tenang aja, ada tangganya kok." Jawab sang Kakek sambil menunjuk pada tangga untuk memanjat pohon besar.
Disaat itu juga, Arnal menoleh kearah Dey yang tengah berdiri tegak disebelahnya. 'Si*alan, pasti giliranku yang disuruh manjat. Apes banget sih hari ini, bisa bisanya aku yang harus mendapatkan kesialan. Yang ngidam siapa? yang manjat siapa? apes bener dah.' Batin Arnal sambil garuk garuk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Arnal, kamu ambil tangganya dan sekalian kamu yang manjat. Tenang aja, aku tambahkan gaji kali lipat untuk kamu." Perintah Dey pada Arnal.
Mau tidak mau, Arnal hanya bisa mengangguk dan mengambil tangga untuk memanjat dipinggiran rumah sang kakek.
Dengan teliti, Arnal meletakkan tangga tersebut pada pohon Asam yang cukup besar. Detak jantungnya berdegup bukan karena sedang jatuh cinta, melainkan jatuh dari pohon. Berulang kali Arnal berdoa, berharap tidak akan mendapatkan kesialan.
"Arnal, buruan manjat. Keburu sore, Nanti." Perintah Dey yang sudah tidak sabar.
__ADS_1
Disaat mau manjat satu anak tangga, tiba tiba ponsel milik Dey telah berbunyi dan menandakan ada yang menghubungi. Dengan gesit, Dey segera menerima panggilan telepon yang masuk.
Dengan perasaan gelisah, Dey menempelkan benda pilihnya didekat telinganya. Dengan seksama mendengar suara dari sebrang telpon.
"Apa! kamu memintaku untuk memanjat pohonnya? jang dong, sayang. Aku tidak bisa manjat pohon yang sangat besar, aku takut jatuh." Kata Dey beralasan, Arnal yang mendengarnya pun bersorak gembira. Berharap apa yang ia dengar tidak akan salah, pikirnya.
"Video call? aduh! jangan, sayang. Mendingan kamu matiin saja panggilan telponnya, aku akan segera pulang membawakan asam mudanya yang seperti kamu minta." Kata Dey bernegosiasi, sang istri tetap aja bersikukuh pada permintaannya itu.
Dey yang tidak bisa menolak permintaan sang istri, mau tidak mau dirinya mengabulkan apa yang diinginkan istrinya. Arnal yang mendengarnya bersorak sorak gembira didalam hatinya. Sebisa mungkin Arnal menahan tawanya, berharap Tuannya tidak menaruh curiga padanya.
Dey yang sedari mendengar permintaan dari sang istri, Dey hanya bisa mengiyakan.
"Tuan, bagaimana ini? jadi manjat gak nih." Tanya Arnal pura pura basa basi untuk bertanya, sedangkan Dey hanya melirik tajam pada Arnal.
"Kakek mana?" tanya Dey sambil celingukan mencari sosok pemilik pohon asemnya.
"Itu," jawab Arnal sambil menunjuk kakek yang sedang menyiangi rumput tidak jauh dari pohon asem. Arnal yang membutuhkan jasa sang kakek, ia terpaksa meminta bantuan Beliau.
"Kakek," panggil Dey dengan hati hati takut mengagetkan.
"Ya Nak, ada apa?" tanya sang kakek.
"Maaf sebelumnya Kek, saya mau minta tolong untuk memegangi ponsel saya untuk mengarahkan ke arah saya ketika manjat login asem." Jawab Dey penuh harap.
"Oooh, bisa. Memangnya untuk apa ya, Nak?" tanya sang kakek ingin tahu.
"Istri saya meminta saya untuk panggilan video, karena istri saya ingin melihat saya manjat pohon asamnya, kek. Jadi, saya meminta kakek untuk memegangi ponsel saya saat panggilan video sedang berlangsung. Sedangkan Arnal diminta untuk ikut manjat pohon awalnya juga, Kek." Jawab Dey menjelaskan sedetail mungkin.
"Ooh begitu, baik lah. Mari Kakek bantu kamu untuk melakukan panggilan video bersama istri kamu. Ada ada saja orang ngidam, ya. Semoga calon anak kamu sehat sehat selalu, dan juga istrimu selalu diberi kesehatan." Ucap sang Kakek, Dey pun tersenyum mengembang dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1