
Di Bandara, Romi tengah menunggu mobil jemputan nya. Sambil menunggu, Romi mencari tempat duduk yang bisa dijadikan tempat untuk beristirahat serta sambil menunggu seseorang yang akan menjemputnya.
Status Romi kini tidak kalah pentingnya dari Zicko, Romi memiliki peran penting untuk keluarga Tuan Zayen. Sama hal nya seperti Arnal, kedua lelaki yang sudah dijadikan bagian keluarganya.
Sambil berjalan, akhirnya Romi menemukan bangku kosong.
"Ini tempat duduk ku, enak aja kamu main duduk." Kata seorang perempuan yang bersikukuh atas apa yang ia dapatkan.
"Hem, benarkah? lagian juga masih cukup untuk kamu duduki." Sahut Romi yang juga tidak mau pindah.
"Males banget duduk didekat mu, jangan jangan kamu hanya seorang tukang hipnotis dan mau merampok bawaan ku." Ucapnya sedikit ketus.
"Mana ada aku pulang dari luar Negri mau merampok, jangan gila kamu Nona." Kata Romi yang tidak mau dituduh.
"Siapa tau aja, jaman sekarang kan harus menanamkan sikap kewaspadaan." Ucapnya, kemudian terpaksa duduk disebelah Romi. Ya ... walaupun saling buang muka, perempuan itu tetap duduk dari pada harus berdiri.
"Hem, gitu ya." Kata Romi dengan singkat.
Setelah cukup lama menunggu, keduanya tidak juga ada yang menjemputnya. Karena merasa bosan hanya duduk duduk saja, akhirnya Romi maupun perempuan yang ada disebelahnya segera menyibukkan diri dengan ponselnya masing masing.
"Apa!" teriak keduanya tanpa sengaja berteriak dengan kompak.
"Ngapain kamu ikut ikutan berteriak segala, berisik! tau." Kata perempuan itu dengan ketus.
"Cih! siapa juga yang ngikutin kamu, Nona."
"Buktinya, kenapa ikutan berteriak juga."
"Reflek, Nona. Reflek, diingat baik baik."
"Pak Yitno," panggil perempuan itu pada supir keluarga Tuan Zayen. Disaat itu juga, Romi menatapnya heran.
"Kamu kenal dengan pak Yitno?" tanya Romi penasaran.
__ADS_1
"Iya kenal lah, memangnya kamu itu siapa nya pak Yitno? supir kamu? ngimpi." Ucapnya, sedangkan Romi hanya mengerutkan keningnya.
"Maaf Nona, saya diperintahkan oleh Tuan Zayen untuk menjemput Nona Kalla dan Tuan Romi."
"Tuan Romi? orangnya mana?" tanya Kalla sambil melirik kearah Romi.
'Gile ini anak, tatapan nya tajam banget. Kek nya ini anak sebelas duabelas kek Lunika deh, mengerikan.'
"Ini orangnya, Nona." Jawab pak Yitno sambil menunjuk kearah Romi.
"What!! dia ini orangnya? ini pasti ulah Paman Zayen. Memangnya tidak ada supir lain nya, apa Pak? pakai satu mobil segala dengan nya, menyebalkan banget sih itu Paman Zayen. Awas ya Paman, kalau sampai ada udang dibalik batu." Kata Kalla dengan perasaan dongkol, kemudian menoleh kearah Romi dengan tatapan sangat tajam.
"Siapa juga yang mau satu mobil dengan Nona, mendingan juga naik ojek." Sahut Romi yang juga ikutan ketus.
"Dih, emangnya kamu doang." Kata Kalla sambil menyilangkan kedua tangannya tepat didepan dadanya.
"Jadi pulang atau tidak, Nona ... Tuan?" tanya pak Yitno sambil menatap satu persatu diantara keduanya.
"Tuan, lebih baik Tuan Romi temani Nona Kalla duduk dibelakang, kasihan Nona Kalla jika harus sendirian." Perintah pak Yitno sambil membukakan pintu mobilnya, lagi lagi Romi hanya bisa nurut.
Setelah duduk bersebelahan, Kalla memilih untuk bersandar dijendela kaca. Sedangkan Romi memilih menatap lurus kedepan dengan menyilangkan kedua tangannya tepat didada bidangnya.
'Sial banget sih hari ini, kenapa juga aku harus bertemu dengan nya. Memangnya siapa sih lelaki ini? perasaan keponakan Paman Zayen cuman Deyzan deh, apa iya laki laki ini bagian dari keluarga Wilyam? kek nya bukan deh. Aku paham banget untuk keluarga kakek Ganan, kek nya bukan deh.' Batin Kalla yang terus berpikir untuk mencari jawabannya.
'Semoga aja ini bukan bagian rencana Tuan Zayen.' Batin Romi sambil menerka nerka.
Setelah cukup lama dalam perjalanan pulang, tidak lama kemudian mobil yang di kendarai pak Yitno telah berada di halaman rumah orang tua Kalla.
"Nona, kita sudah sampai." Ucap pak Yitno dan segera turun dari mobil.
"Pak Yitno tidak perlu turun dari mobil, saya bisa melakukan nya sendiri kok Pak." Ucap Kalla untuk menolaknya.
"Biar saya saja pak yang mengambilkan kopernya didalam bagasi." Kata Romi ikut menimpali.
__ADS_1
"Eh, tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri, jugaan aku tidak mau merepotkan kamu." Sabit Kalla yang juga langsung ikutan turun.
"Ini kopernya, Nona. Kalau ada yang mudah, kenapa harus melakukan hal yang sulit."
"Iya deh iya, terima kasih atas bantuan nya. Tidak mau mampir dulu nih?" jawab Kalla yang masih merasa kesal.
"Sama sama, Nona. Terima kasih atas tawarannya, sepertinya saya harus segera pulang. Kalau begitu, saya permisi Nona." Ucap Romi langsung berpamitan dan membali masuk kedalam mobil, Kalla pun hanya mengangguk.
Setelah bayangan mobil tidak lagi nampak, Kalla segera masuk kedalam rumah dibantu salah satu pelayan rumah untuk membawakan kopernya.
"Mama ... Kalla pulang ..." panggil Kalla sambil berjalan menuju ruang keluarga.
Saat sudah berada didalam rumah, suasana terlihat sepi dan serasa tidak berpenghuni.
"Mbak Yunyun, kok sepi banget sih rumahnya. Mama dan Papa kemana, Mbak? Terus, Kakek dan Omma kemana mbak?" tanya Kalla sambil melepas sepatunya.
"Semuanya sedang ada urusan di luar, Nona. Apakah ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Tidak, tidak ada. Kakak kemana? kok tidak kelihatan juga bayangan nya." Tanya Kalla yang tiba tiba teringat dengan sang Kakak.
"Sedang tidak ada di rumah juga, Nona."
"Hem, setiap pulang selalu aja tidak ada orang. Sudah kek anak pungut aja aku ini. Vellyn mah mending, ada Paman Zayen dan Tante Afna. Aku ikutan tinggal bersama mereka aja apa ya, disana ramai banyak anggota keluarga." Gumam Kalla yang merasa kesepian.
Sedangkan di kediaman Tuan Zayen, semua tengah bersenda gurau sambil menikmati cemilan buatan Bunda Afna.
"Paman Zayen memang kebangetan banget deh, semua keponakannya sudah masuk didalam buku perjodohan nya. Udah kek tukang biro jodoh mah sekarang ini, udah bosan kali si Paman Zayen jadi Pak CEO." Kata Vellyn dan mengerucutkan bibirnya sambil mengunyah kueh buatan Tante nya.
"Iya juga ya, kasihan banget nasib kamu Vellyn." Ledek Bunda Afna sambil tertawa kecil, begitu juga dengan yang lain nya ikut tertawa mendengar ucapan dari Vellyn.
"Tapi berujung bahagia, 'kan? saling menerima dan saling mencintai serta saling menguatkan?"
"Iya juga sih, buktinya kak Dey dan kak Vella tetap saling menyayangi satu sama lain. Meski sampai sekarang juga belum memberi Vellyn keponakan yang lucu, tapi Vellyn salut dengan mereka berdua. Jika berjodoh dengan orang lain, belum tentu sekuat yang seperti sampai sekarang ini." Kata Vellyn yang melihat kebenarannya tentang hubungan pernikahan kakak nya sendiri.
__ADS_1