Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Merasa dikerjain


__ADS_3

Dengan pelan, Zicko membuka pintu kamarnya. Dilihatnya sang istri tengah sibuk dengan layar laptopnya dengan posisi duduk di sofa sambil meluruskan kakinya. Lunika pun tidak menyadarinya, jika suaminya sudah berada di belakangnya sambil memperhatikan jari jemarinya tengah sibuk dengan laptopnya.


"Kelihatannya sangat sibuk, sampai sampai suami pulang pun tidak kamu sadari." Ucap Zicko tengah berdiri didekat istrinya, seketika Lunika kaget mendengarnya.


Dengan geraknya yang refleks, Lunika menoleh kearah samping dan mendongakkan pandangannya pada sang suami. Cepat cepat, Lunika mematikan laptopnya dan meletakkannya kembali diatas meja.


"Maaf, aku tidak tahu jika kamu sudah pulang." Jawab Lunika dengan perasaan gugup, sedangkan Zicko sendiri segera melepas jaketnya dan mengganti celananya tanpa rasa malu sedikitpun dengan istrinya. Lunika sendiri segera memalingkan pandangannya ke arah yang lain.


'Padahal masih ada kamar mandi, kenapa mesti mengganti celananya diruangan ini? bukankah aku ini istri sandiwaranya? apa sudah menjadi kebiasaannya tanpa rasa malu dengan perempuan? ngeri sekali laki laki macam dia.' Batin Lunika sambil menyangga dagunya dengan kedua tangannya.


"Pikiran kamu jangan ngeres kemana mana, nanti pusing kepala kamu itu." Ucap Zicko sambil melepaskan jam tangannya dan meletakkannya di atas meja.


"Siapa juga yang pikirannya ngeres, palingan juga kamu sendiri." Jawab Lunika dibuat jutek.


"Kamu sudah makan?" tanya Zicko pura pura tidak tahu.


"Belum, kenapa?" jawabnya dan balik bertanya.


"Tidak kenapa kenapa, aku hanya bertanya saja. Kenapa kamu belum makan? bukankah mbak Yuyun sudah memasakkannya untuk kamu?"


"Tadi aku masih kenyang, kenapa?"


"Oh! berarti tadi mbak Yuyun fitnah kamu, dong." Jawab Zicko sambil melirik kearah sang istri, Lunika sendiri mulai mencoba mencerna kalimat fitnah dari sang suaminya. Berkali kali dirinya mencoba mencernanya, tetap saja tidak ada hasilnya.


"Mbak Yuyun fitnah aku? memangnya fitnah apaan?" tanya Lunika yang masih penasaran.


"Hem, serius? jika kamu tidak mengatakan apa apa pada mbak Yuyun?"


"Serius, aku tidak bohong. Aku memang tidak mengatakan apa apa sama mbak Yuyun." Jawab Lunika yang masih tidak menggerti maksud dari suaminya sendiri.


"Ya sudah, nanti kita jelasin ke mbak Yuyun. Jika kamu benar benar di fitnah, aku akan memecat mbak Yuyun." Ucap Zicko, kemudian ia segera keluar dari kamarnya. Lunika yang masih belum mengerti, ia mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Sesampainya di ruang makan, keduanya duduk saling berhadapan. Lunika masih terus mencoba mencerna ucapan dari suaminya itu.


'Mbak Yuyun fitnah aku? memangnya fitnah apaan sih? jadi penasaran. Aku yang di fitnah, atau ... dianya yang di fitnah. Apa mbak Yuyun nya, aaah! kenapa serumit ini jadinya.' Batin Lunika sambil melamun.


"Hei, jangan melamun. Buruan, cepat! layani aku."


"Aku tidak sedang melamun, aku hanya sedang bingung dengan ucapan kamu tadi. Memangnya fitnah apaan sih? siapa yang difitnah? aku masih tidak mengerti, serius." Jawab Lunika, kemudian ia menanyakan lagi soal tentang fitnah.


"Mbak Yuyun, cepetan kesini." Seru Zicko memanggil asisten rumahnya.


Dengan langkah kakinya yang terburu buru, mbak Yuyun segera menemui majikannya.


"Iya, Tuan. Maaf, ada apa Tuan?"


"Tadi istriku menolak makan siang kenapa, mbak?" tanya Zicko pada mbak Yuyun.


"Oooh, tadi Nona muda bilang jika makan sendiri terasa hambat tanpa suami."


"Bagaimana? benarkah mbak Yuyun telah memfitnah kamu? jika iya, katakan saja. Nanti, aku akan mencari penggantinya. Tapi, jika ucapannya mbak Yuyun benar adanya, kamu harus menyuapi aku sampai habis." Tanya Zicko pada istrinya dengan santai, sedangkan Lunika dan mbak Yuyun sama sama tegangnya.


Mbak Yuyun takut, jika istri majikannya telah melempar batu sembunyi tangan. Sedangkan Lunika sendiri, takut dengan rasa malunya. Ditambah lagi jika dirinya harus menyuapi sang suami, benar benar dilema diantara keduanya.


'Mampus, aku. Rupanya ucapan seperti apapun akan direkam olehnya dan dijadikan senjatanya, sialan.' Batin Lunika dengan menatap sang suami dengan sadis, Zicko sendiri tetap menahan tawanya saat melihat ekspresi sang istri yang terlihat cemas dan gugup.


'Kalau sampai Nona muda tidak mau berkata jujur, habislah aku dari pekerjaanku ini. Tuan Zayen, nyonya Afna ... ayolah cepat pulang. Anak dan menantumu lama lama bisa buatku banyak pikiran.' Batin mbak Yuyun penuh harap akan adanya majikannya segera pulang.


Lunika masih diam, ia mencoba untuk menata kalimatnya agar tidak salah berucap.


"Kenapa masih diam? ayo katakan, yang dikatakan mbak Yuyun itu benar atau salah?" tanya Zicko sambil meraih mangkok yang berisi sup.


"Ben -- nar," jawabnya sedikit kaku.

__ADS_1


"Jadi ... apa yang dikatakan mbak Yuyun itu benar, ya .. sekarang, ayo suapin aku." Ucapnya dan menepuk nepuk kursi yang ada disebelahnya.


'Dih ... kenapa mesti duduk disebelahnya, sih ... yang benar saja dianya.' Batin Lunika sedikit geram.


"Ayo, cepetan. Kamu tidak perlu mengambilnya, aku sudah mengambilnya banyak. Jangan mengotori banyak piring, jika satu piring saja masih bisa untuk digunakan." Ucap Zicko, kemudian meraih satu sendok yang ada didepannya.


Sedangkan Lunika sendiri berusaha untuk tenang, sebisa mungkin ia tidak mudah terpancing emosi ketika menghadapi sikap aneh suaminya itu. Dengan cara mengingat akan pengobatan ibunya, Lunika berusaha untuk mengingat akan sebuah perjanjian yang telah disepakatinya.


Dengan perasaan sedikit gugup, Lunika mendekati sang suami. Kemudian ia segera duduk disebelahnya, detak jantungnya pun terasa mau copot dan tangan juga terasa gemetar. Sebisa mungkin Lunika berusaha untuk tetap tenang dan tidak gugup.


Dengan sangat hati hati, Lunika mengarahkan sendoknya didepan sang suami dan menyuapinya.


"Kamu duluan, nanti baru aku." Ucap Zicko, Lunika hanya mendelik pada suaminya.


"Aku nanti saja, jika kamu sudah benar benar kenyang." Jawab Lunika mencari alasan.


"Jangan banyak protes," ucap Zicko.


Mau tidak mau, Lunika terpaksa menyuapi dirinya sendiri. Setelah menyuapi dirinya sendiri, Lunika kembali mengarahkan suapannya pada sang suami. Zicko pun menerima suapan dari Lunika.


Berulang ulang, Lunika menyuapinya secara bergantian. Tanpa disadari oleh keduanya, satu piring penuh telah habis.


"Wah ... sepertinya ada bau bau pengantin baru nih ..." Ledek sang ibu yang tiba tiba sudah ada berada di rumah.


Lunika mendadak panik tatkala mertuanya sudah berada di ruang makan.


"Mama, Mama sudah pulang?" sapa Lunika seramah mungkin.


"Iya, sayang. Oh iya, ini mama belikan cemilan untuk kamu. Jangan sungkan sungkan dirumah ini, sekarang kamu sudah menjadi bagian keluarga Mama." Ucap ibu mertua.


"Dan kamu Zicko, ikut papa ke ruangan kerja Papa. Ada yang mau Papa bicarakan dengan kamu, ini mengenai tanggung jawabmu." Perintah sang ayah pada putranya.

__ADS_1


__ADS_2