
Setelah berpelukan bak teletubis, Vellyn mengajak kakak iparnya untuk masuk kedalam rumah.
"Vey, Hai sayang ... apa kabarnya? sudah lama kamu tidak main ke rumah Tante. Sini, Tante peluk kamu." Sapa Bunda Afna dengan ramah dan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk keponakannya.
Setelah sudah cukup, Bunda Afna melepaskan pelukannya. "Tante Afna apa kabarnya? maafkan Vey yang jarang main ke rumah Tante." Kata Afna untuk balik menyapa.
"Tidak apa apa kok Vey, Tante bisa memakluminya. Oh iya, Dey, Vey, mari silahkan duduk. Kalian berdua datangnya terlambat sih, barusan kita habis berkumpul bersama keluarga Danuarta. Ya ... walaupun hanya segelintir orang, soalnya kasih kabarnya dadakan.Jadi Tante tidak bisa mengkonfirmasi keluarga yang lainnya." Ucap Bunga Afna.
"Wah ... rupanya keluarga Tante sangat besar jika diadakan Reuni, tidak dengan keluarga Vey."
"Hus, jangan bicara seperti itu. Bukankah kamu juga bagian keluarga Paman Zayen? maksudnya keluarga besar Wilyam, iya 'kan? jadi kamu tidak perlu berkecil hati, sayang. Sudah lah Vey, jangan terlalu dipikirkan. Kamu juga mempunyai seorang kakak perempuan, kamu tidak sendirian."
"Iya kak Vey, kan ada Vellyn. Kakak tidak sendirian kok, jugaan masih ada Kak Dey. Eh, ngomong ngomong kak Dey dan kak Vey ada perlu apa datang ke rumah Paman?"
"Duduk, lebih baik kita duduk dulu. Setelah itu, baru kita bicarakan apa yang sekiranya ada yang mau disampaikan atau ada yang mau di bicarakan." Ajak Bunda Afna kepada ketiga keponakannya.
"Kalau sudah seperti ini kan enak, kita mengobrol tidak harus sambil berdiri dan tidak membuat kedua kaki kita teras capek." Kata Bunda Afna.
"Iya Tante, maaf." Kata Dey, Vey, dan juga Vellyn dengan kompak.
"Maaf sebelumnya, Tante. Sebenarnya kedatangan Dey dan Vey kesini itu, mau ..." ucapnya tiba tiba menggantungkan kalimatnya.
"Mau apa, Dey? kok berhenti." Tanya Bunda Afna penasaran.
__ADS_1
"Kak Dey ini udah kek penulis segala deh, udah gitu pakai menggantungkan kalimatnya, lagi. Dih! biar pendengar setianya itu penasaran kali, ya. Udah deh Kak, buruan bicarakan pada pokok intinya." Sahut Vellyn yang tidak sabaran.
"Begini Tante, Vey ingin mengajak Vellyn untuk tinggal bersama kami. Apakah kamu mau, Vellyn? maksud Kak Vey untuk mengajak kamu tinggal satu rumah bersama Kakak. Jika kamu merasa keberatan dan tidak mau, Kak Vey tidak akan memaksa kamu." Ucap Vey menjelaskannya dengan jelas.
Disaat itu juga, senyum merekah terpancar pada kedua sudut bibir milik Vellyn yang semakin terlihat aura kecantikannya.
"Kak Vey serius nih?" tanya Vellyn dengan senyum yang merekah.
"Kak Vey tidak bohong, serius. Hari ini juga kita akan menjemput kamu, bagaimana?"
'Tapi ... kalau Papa marah, bagaimana? nanti kalau Kak Vey tidak juga hamil hamil? pasti aku yang akan mendapatkan batunya. Tapi ... aku pun juga ingin berkumpul dan tinggal bersama mereka berdua.' Batin Vellyn yang tiba tiba perasaannya menjadi sedih.
"Kamu kenapa Vellyn? kok wajahmu terlihat murung, ada masalah?" tanya Dey yang tiba tiba mendapati ekspresi adik perempuannya terlihat bersedih.
"Tidak, aku tidak apa apa kok Kak. Aku sangat bahagia sekali Kak, karena akhirnya Kak Dey dan Kak Vey menjemput ku." Sahut Vellyn beralasan, meski perasaannya sedikit tidak sedang baik baik saja.
"Sudah sana masuk ke kamar kamu, buruan diberesin baju baju baju kamu." Perintah Dey yang tidak sabaran.
"Iya ya ya Kak, kalau begitu Vellyn tinggal dulu ya Kak Vey. Tidak lama kok, palingan juga hanya beberapa setel baju doang." Jawab Vellyn, kemudian ia segera bangkit dari posisi duduknya menuju kamarnya.
"Dey, Vey, Tante tinggal sebentar, ya. Tante mau bantuin Vellyn sebentar, biasa ... anak itu kadang teledor dan suka pelupa. Jadi, Tante mau menjadi pengingat nya. Tidak apa apa 'kan? jika Tante tinggal dulu." Ucap Bunda Afna yang tahu akan perasaan keponakannya.
Sampainya didalam kamar, Vellyn duduk di sudut tempat tidurnya. Sesenggukan ia menangis sambil meremat ujung bajunya dengan napasnya yang terasa berat.
__ADS_1
"Vellyn, kamu menangis, Nak?" tanya Bunda Afna, kemudian langsung mengunci pintu kamar.
Vellyn masih diam, bahkan tidak merespon pertanyaan dari Tante nya.
"Sini, Tante mau peluk kamu." Kata Bunda Afna yang langsung duduk disebelah Vellyn dan memeluknya dengan erat penuh kasih sayang layaknya orang tua sendiri.
"Tante tahu, kamu pasti sedang memikirkan ucapan dari Papa Viko 'kan? lupakan saja ucapan itu. Jangan kamu diambil hati, semua akan baik baik saja." Ucap Bunda Afna mencoba untuk menenangkan pikiran keponakannya yang tengah bersedih.
"Vellyn takut, Tante. Papa tidak main main jika menghukum Vellyn, Papa orang nya sangat keras. Sangat jauh beda dengan Paman Zayen, meski kaku dan terkesan dingin, tapi masih bisa menyelipkan senda guraunya. Sedangkan Papa Viko, tidak."
"Jangan berkata seperti itu, sayang."
"Tapi memang kenyataannya begitu, Tante. Apa lagi itu murni kesalahan Vellyn, Papa akan terus menyalahkan Vellyn." Ucap Vellyn dengan napasnya yang cukup berat.
"Kamu jangan khawatir, Paman Zayen akan membantumu untuk mencari tahu kebenarannya. Siapa tahu aja ada yang sengaja iseng, iya 'kan? sekarang lebih baik kamu ikuti kemauan kakak ipar mu dan Kak Dey. Jangan kecewakan mereka berdua. Berdoalah, semoga kehadiranmu di rumah Kak Dey akan membawa hoki yang besar untuk pasangan suami istri yang sudah begitu lamanya menanti kehadiran sang buah hati." Ucap Bunda Afna mencoba untuk meyakinkan pada keponakannya agar tidak mudah menyerah dan menyalahkan diri sendiri.
"Baik Tante, Vellyn akan ikuti omongan dari Tante. Doakan Vellyn ya Tante, semoga Vellyn bisa membawa keburuntungan untuk Kak Dey dan Kak Vey. Jujur, Vey sangat menyayangi mereka berdua. Sudah lama Vey menginginkan untuk tinggal bersama kakak ipar dan kak Dey." Kata Vellyn berusaha untuk semangat, meski entah akan seperti hasilnya. Setidaknya Vellyn sudah berusaha untuk mencobanya.
"Ayo, Tante bantu kamu untuk membereskan bawaan kamu. Tidak perlu banyak banyak yang harus kamu bawa, memangnya kamu tidak ingin menginap di rumah Tante? ada Niko loh." Kata Bunda Afna sambil mengambil beberapa pakaian yang berada di kemari, sebelumnya Bunda Afna meminta kepada salah satu pelayan untuk mengambilkan satu koper didalam gudang khusus barang barang bepergian.
"Tante, memangnya mau sampai kapan sih Kak Zicko libur bekerja?" tanya Vellyn sambil membereskan bawaannya.
"Tante sendiri tidak tahu, sayang. Mungkin sekitar satu mingguan, agar Niko lebih cepat mengenali ayahnya."
__ADS_1
"Em ... kirain mau sampai satu bulan, tidak tahunya cuman satu minggu."
"Kelamaan dong, Vel." Kata Bunda Afna, kemudian Vellyn segera membereskan bawaannya dan juga kamar tidurnya.