Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Ingin bebas


__ADS_3

Tiba tiba panggilan telfonnya pun mati, Vey hanya menarik nafasnya dan membuangnya kasar.


"Kakak kamu sudah didepan Kantor? yang benar aja Vey, kamu mau izin pulang nih?" tanya Yeni penuh tanda tanya.


"Mau tidak mau, Yen. Permintaan kakak aku tuh tidak bisa dibantah, kesel gue." Jawabnya dengan cemberut dicampur kesal.


"Tidak apa apa jika kamu mau pulang, nanti aku yang akan mengatakannya langsung pada Bos besar jika kamu dijemput oleh kakak kamu." Ucap Vellyn ikut menimpali.


"Terima kasih ya Vell, kalau begitu aku pamit pulang. Dan kamu Yeni, tolong jagain saudaraku ini ya."


"Vey, bagaimana nanti kalau Bos besar marah?" tanya Yeni yang takut jika Vey membolos kerja.


"Tenang saja, Bos besar tidak akan memarahiku." Sahut Vey, kemudian ia segera mengambil tasnya di ruang kerjanya.


Sedangkan Vellyn tersenyum pada Yeni yang mukanya berubah terlihat cemas.


"Kamu tidak perlu khawatir, Yen. Semua akan baik baik saja, percayalah denganku." Ucap Vellyn meyakinkan, sedangkan Yeni tetap saja masih terasa takut jika sesuatu hal buruk menimpa sahabatnya.


"Kalau ngomong sih enak, aku kasihan dengan Vey. Kalau sampai dia mendapat hukuman dan dipecat dari Kantor ini, bagaimana?"


"Kamu terlalu takut, santai aja sih. Vey tidak bakal dipecat, kalaupun harus naik jabatan juga bisa. Gampang mah kalau buat Vey, percaya saja denganku." Jawab Vellyn yang terus meyakinkannya, Yeni sendiri semakin bingung mendengarkan penuturan dari Vellyn.


"Dari pada bingung, mendingan kita beli ice cream. Sepertinya suasana akan jauh lebih baik lagi, percayalah denganku." Ucap Vellyn dan mengajaknya, Yeni pun hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Vellyn.


Sedangkan Vey kini tengah berjalan menuju ruang kerjanya, disaat itu dia mendengar kehebohan oleh para karyawan lainnya. Lagi lagi si pembuat heboh tersebut yang tidak lain Selwy lah orangnya, siapa lagi kalau bukan dia orangnya.


"Don, heboh amat mereka semua. Ada artis lewat, 'kah?"


"Mana aku tahu Vey, yang aku denger sih ada cowok tampan di depan Kantor ini. Tapi entah lah aku sendiri tidak melihatnya." Jawabnya seadanya.


"Oh! ya sudah kalau begitu, aku pulang duluan."


"Vey, kamu serius mau pulang. Nenti kalau Bos marah, bagaimana? wah."


"Tenang aja, sekarang juga aku mau menemui Pak Bos." Jawab Vey dengan santai, kemudian segera meraih tasnya dan segera pergi meninggalkan ruang kerjanya.


"Kak Denra apa apaan lagi sih, pakai tebar pesona lagi di depan Kantor." Gumam Vey sambil berjalan.


"Vey, mau kemana?" panggil Zicko mengagetkan.

__ADS_1


"Em ... Kak Denra sudah pulang, dan sekarang sudah berada didepan Kantor. Aku meminta maaf, jika haari ini aku izin untuk tidak masuk kerja." Ucap Vey sambil menunduk.


"Ya sudah jika kamu mau pulang, ayo aku antar sampai depan. Kebetulan, aku pun ingin menyapanya, sudah lama aku tidak pernah bertemu dengannya."


"Memangnya kak Zicko masih ada masalah ya, sama kak Denra."


"Tidak ada, masalah apaan? hem. Sudah, jangan banyak pertanyaan. Nanti yang lainnya pada dengar, bukankah kamu sedang bersembunyi tentang jati diri kamu?"


"Ah iya, aku sampai lupa. Baik lah, ayo kita temui kak Denra." Ajak Vey untuk segera nemui sang kakak.


Sambil berjalan beriringan dengan Zicko, lagi lagi semua karyawan tengah membicarakan medekatan Vey dengan Bosnya. Sedangkan Vey tidak begitu peduli dengan orang orang yang suka membicarakan keburukan yang tidak ada kebenarannya sedikitpun.


"Vey, cie ... mulai lagi deh. Asik ... jangan lupa traktirannya besok, ok." Ledek salah satu karyawan lainnya. Vey hanya tersenyum tipis untuk membalas ucapan tersebut.


"Kak, sekali kali istri Kakak itu di ajak ke Kantor sih kenapa. Biar tidak salah paham, gitu. Lihatlah, semua pada heboh menggosipiku. Memangnya aku ini perempuan apaan, berjalan sama Kakak selalu dikatain perempuan penggoda." Ucap Vey sambil berjalan beriringan, Zicko hanya tersenyum mendengarnya.


"Dih! cuman senyum senyum gitu, tidak lucu." Ucapnya lagi dan mempercepat langkah kakinya, Zicko pun ikut mengimbanginya.


"Iya ya, besok Kakak ajak istri Kakak datang ke Kantor. Tapi nunggu si kecil lahir dulu, Kakak tidak ingin terjadi sesuatu. Sekarang perutnya sudah semakin membesar, kata Dokter sebentar lagi lahiran. Kamu, kapan nyusul?"


Seketika, Vey menatap Zicko dengan mimik wajahnya yang sulit untuk Zicko artikan.


Setelah berada didepan Kantor, sepasang mata Zicko melihat sosok laki laki yang tidak asing dimatanya. Zicko pun mengekori Vey dengan jalannya yang pelan.


"Hei! Bro, apa kabarnya?" sapa Zicko dengan ramah. Meski dalam ingatannya kembali mengingatkan pada sesuatu.


"Baik, seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?" jawabnya dan balik menyapa.


"Baik, seperti yang kamu lihat. Ya sudah kalau begitu, aku pamit. Aku masih ada pekerjaan didalam, Dey sudah kembali."


"Aku sudah tahu semuanya dari kakek, ya sudah kalau kamu mau melanjutkan pekerjaan kamu. Aku pun diminta kakek untuk segera membawa Vey pulang." Jawabnya, Zicko pun hanya mengangguk dan pergi meninggal kakak beradik didepan Kantor.


Kini, tinggal lah Vey dan sang kakak yang masih berdiri didekat mobil.


"Kak, ada apaan sih pakai jemput Vey segala." Sambil memasang muka cemberut, dengan berharap untuk digagalkannya rencana dari sang kakek.


"Sudah jangan banyak tanya, ayo cepetan naik ke mobil. Kita bicarakan di rumah, sekarang lebih baik kamu diam." Jawab sang kakak, Vey tidak bergeming sedikitpun. Vey memilih untuk segera masuk kedalam mobil dan duduk sambil bersandar di jendela kaca.


Saat perjalanan pulang, suasana didalam mobil pun seketika hening tanpa ada yang bersuara diantara keduanya. Riuh tawa pun seakan tidak ada lagi tercipta oleh kakak beradik ini.

__ADS_1


"Kak, apakah Kakak akan kembali lagi ke luar Negri?" tanya Vey memberanikan diri untuk bersuara.


Sang kakak pun menoleh kearahnya, kemudian menepikan mobilnya.


"Kakak tidak tahu, keputusan ada pada kamu. Bukankah kakek sudah memberimu pilihan, kenapa kamu mesti tanya lagi." Jawabnya dan mengernyitkan dahinya setelah kalimat terakhirnya.


"Jika Vey tidak memilih diantara keduanya, bagaimana?"


"Terpaksa, Kakak dan kakek akan membawamu ke Luar Negri dan menetap disana."


"Pilihan macam apa itu, sama aja menyiksa Vey." Ucap Vey dengan kesal, kemudian memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"Terus apa yang kamu inginkan, Vey?"


"Bebas!"


Dengan emosi yang memuncak saat mendengar penuturan dari sang adik, dengan cepat kilat sang kakak melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Tidak peduli dengan lalu lalang bermacam kendaraan dari arah berlawanan maupun arah lainnya.


"Kak! hentikan, turunkan kecepatannya. Vey mohon, hentikan! kak." Teriak Vey yang ketakutan saat mobil yang dikendarai sang kakak melaju begitu hebat.


Sssttttt


DUG.


"Aw!" pekik Vey meringis kesakitan dan mengusap pada keningnya.


"Kakak kenapa sih! kenapa kakak tiba tiba emosi begitu. Kakak ada masalah dengan kak Zicko? iya."


"Kenapa kamu membahas Zicko? hah. Bukankah kamu tadi jawab Bebas! hem, lupa? iya."


Ctak!!!


"Sakit, tau." Lagi lagi Vey harus merasakan sakit pada keningnya yang kedua kalinya.


"Kamu mau kebebasan? kebebasan yang bagaimana? hah." Tanya sang kakak sambil menatap adiknya dengan lekat.


"Mau mengejar cita cita? ingin menjadi wanita karir?" tanyanya lagi.


"Ya setidaknya Vey dapat menikmati hidup dengan cara yang sederhana, seperti yang lainnya. Bekerja dengan tepat waktu, dan pulang menikmati istirahat." Jawab Vey sambil menujukkan muka masamnya.

__ADS_1


__ADS_2