Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Makan di warung lesehan


__ADS_3

Setelah keduanya telah siap, Zicko meraih jaketnya yang berada di sofa. Kemudian, Zicko segera keluar dengan pakaian yang sederhana. Begitu juga dengan Lunika yang mengenakan pakaian sederhananya, keduanya tetap saja nampak serasi meski tanpa pakaian yang wah sekalipun.


Namun tiba tiba saat Lunika memperhatikan penampilan suaminya, ingatannya pun kembali dengan sesuatu yang pernah singgah diingatannya. Cukup lama Lunika terdiam sambil mengingat ingatnya, tetap saja ia sulit untuk menemukan jawabannya.


"Hei! jangan banyak melamun, ayo kita keluar." Ucap Zicko mengagetkannya.


"Aku sedang tidak melamun, hanya sedang berpikir saja. Itu baju yang kamu pakai seperti baju anak remaja saja, lucu tau." Jawabnya sedikit tersenyum, namun hanya sebentar.


"Hem, ini baju kenang kenangan masa mudaku dulu. Ini sengaja aku simpan, dan sekarang aku pakai lagi. Karena apa? karena aku sedang mencari wanitaku." Ucapnya asal, karena tidak memeliki topik yang lainnya.


"Oooh, perempuan tadi yang ada foto? kenapa kamu tidak menyusulnya? bukankah sudah menjadi model yang terkenal?" tanya Lunika dengan antusias.


"Hem, ingatan kamu itu sepertinya harus di servis dulu. Agar kamu tidak menjadi amnesia dadakan, apa yang baru saja aku katakan dan sekarang juga tidak kamu ingat lagi." Jawab Zicko dengan gregetan, kemudian segera ia keluar dari kamarnya untuk menghindari berbagai macam pertanyaan. Lunika sendiri hanya menggelengkan kepalanya dan mengikuti sang suami dari belakang.


Sesampainya di ruang keluarga, Zicko tidak mendapati kedua orang tuanya. sepasang matanya pun celingukan dan berharap menangkap bayangan kedua orang tuanya sebelum pergi, namun kenyataannya dengan keadaan rumah yang sudah sepi.


"Mbak Yuyun, Mama dan Papa sudah pergi?" tanya Zicko pada asisten rumahnya.


"Sudah, Tuan. Oh iya, tadi nyonya berpesan untuk mengajak Nona makan diluar." Jawab mbak Yuyun dan memberi sebuah pesan dari majikannya.


"Hanya itu, pesan Mama?"


"Benar, Tuan. Nyonya tidak berpesan apa apa selain mengajak Nona muda untuk makan diluar." Jawabnya.


"Ooh, ya sudah kalau begitu. Oh iya, jangan lupa kamarnya dibereskan." Ucap Zicko.


"Iya Tuan, nanti akan saya bereskan." Jawab mbak Yuyun. Setelah itu, Zicko segera berangkat dan diikuti langkah kakinya oleh sang istri dari belakang.


"Tunggu disini, aku mau mengambil motor digarasi." Ucap Zicko, Lunika hanya mengangguk tanpa bersuara. Tidak lama kemudian, Zicko sudah mengendarai motornya.


"Ayo, cepetan naik. Jangan banyak tanya, apa lagi protes." Perintah Zicko sambil mengenakan helmnya, Lunika pun hanya bisa nurut dan mengenakan helmnya.

__ADS_1


Lagi lagi Lunika teringat dengan aroma parfum yang tidak begitu asing pada indera penci*umannya.


"Pegangan, jangan malu. Kalau kamu tidak pegangan, jangan salahkan aku jika kamu jatuh." Ucap Zicko sambil melajukan motornya dengan kecepatan sedang, sedangkan Lunika masih tetap meletakkan kedua tangannya diatas pa*hanya.


Zicko yang tidak lagi sabar ingin menambah kecepatannya, Zicko langsung meraih kedua tangan milik Lunika secara bergantian dan melingkarkannya pada bagian pinggang miliknya. Dengan cekatan, Zicko langsung menambah kecepatannya hingga Lunika sendiri langsung melingkarkan kedua tangannya pada bagian pinggang milik sangat suami.


Lagi lagi Lunika semakin terasa pusing tatkala menghirup aroma parfum dibaju Zicko.


"Stop!! berhenti." teriak Lunika mendadak reflek. Seketika, Zicko menghentikannya secara mendadak.


"Kenapa? ada masalah?" tanya Zicko mendadak kaget. Kemudian, Zicko menepikan motornya dipinggiran jalan.


"Parfum yang ada dibajumu serta di jaket kamu itu telah membuat kepalaku terasa pusing tidak karuan, serius aku tidak bohong." Jawab Lunika sambil memegangi kepalanya.


"Benarkah? kenapa bisa begitu?" tanya Zicko yang semakin penasaran. Kemudian ia segera turun dari motornya, begitu juga dengan sang istri yang juga ikutan turun dari motor.


"Aku tidak tahu, tiba tiba kepala terasa pusing. Aku seperti mengingat sesuatu, tapi aku lupa. Entah lah, aku sendiri terasa pusing menc*ium aroma parfummu. Perasaan kemarin kemarin aroma parfummu tidak seperti ini, kamu ganti parfum?" jawab Lunika dan bertanya soal aroma parfum.


"Oooh, begitu." Jawab Lunika singkat.


'Maafkan aku, jika aku harus berbohong. Aku tidak mungkin langsung menjawab pertanyaan kamu pada pokok intinya.' Batin Zicko beralasan.


'Kenapa laki laki ini mendadak aneh begini? dia tidak lagi sedang menyimpan kerinduan yang akut, 'kan?' batin Lunika penuh heran.


"Hei, jangan melamun. Ayo, cepetan naik lagi." Ucap Zicko.


"Iya," jawabnya singkat. Sedangkan Zicko meraih tangan milik sang istri satu persatu untuk melingkarkannya di pinggang miliknya.


Selama perjalan, Lunika hanya pasrah. Meski kenyataannya masih terasa pusing karena aroma parfum milik suaminya itu. Pelan pelan, Zicko mengendarai kendaraannya dengan pelan.


"Kamu mau makan di mana? di Restoran, atau ... di tempat yang lainnya?" tanya Zicko mencoba memberi pilihan untuk istrinya.

__ADS_1


"Di warung makan lesehan, sepertinya akan jauh nikmat dari pada di Restoran, bagaimana?"


"Bukannya lebih nikmat di Restoran? tempat yang bagus dan menu makanannya pun enak enak."


"Bukan itu tujuanku, aku lebih suka dengan warung makan kecil yang sederhana. Apa yang kita beli bisa membuat pedagang kecil tersenyum bahagia. Tidak hanya itu, kita ikut membantu ekonominya." Jawab Lunika yang tanpa menyadari jika suaminya pun memiliki bagian dari sebuah Restoran dari keluarga ibunya.


"Baiklah, aku akan mencari warung makan yang kamu maksudkan." Ucap Zicko, kemudian melajukan motornya kembali.


Tidak memakan waktu yang lama, sepasang pengantin baru telah sampai di sebuah warung makan kecil dipinggiran jalan.


"Kita sudah sampai, ayo turun." Ucap Zicko, kemudian mematikan mesin motornya dan keduanya segera turun dari motor.


"Mau pesan apa, mas?" tanya pemilik warung lesehan.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Zicko pada istrinya.


"Emm ... bebek bakar kalau ada, kalau tidak ada bisa yang lainnya." Jawab Lunika.


"Kita pesan bebek bakarnya dua porsi, air minumnya air putih hangat saja." Ucap Zicko pada pemilik warung lesehan.


"Kalau begitu, dtunggu sebentar. Mari, silahkan masuk, mbak .. mas." Ucap pemilik lesehan dengan ramah.


"Terima kasih, Bu ..." jawab Lunika dan Zicko bersamaan. Lalu keduanya segera masuk ke dalam dan duduk bersebelahan.


"Oh iya, apakah kamu masih merasakan pusing?" tanya Zicko yang tengah teringat saat Lunika mengeluh karena merasakan pusing saat mencium aroma parfumnya.


"Lumayan berkurang, nanti juga sembuh sendiri." Jawabnya beralasan.


"Jika masih terasa pusing, kamu bilang saja denganku. Nanti aku akan mengantarkan kamu untuk berobat, jangan menyepelekan sesuatu hal yang kecil. Karena sesuatu yang besar itu berasal dari yang kecil." Ucap Zicko mengingatkan.


"Iya, kamu tenang saja. Jika aku merasa tidak kuat lagi untuk menahannya, aku akan memintamu untuk mengantarkanku berobat. Jawab Lunika sambil menerima bebek bakarnya.

__ADS_1


"Ya sudah, kita makan dulu. Jangan biasakan ketika makan untuk mengobrol, tidak baik. Nanti bisa tersedak dan membahayakan diri sendiri maupun lawan bicara." Ucap Zicko mengingatkan, sedangkan Lunika pun mengangguk dan menikmati bebek bakar sesuai yang dipesannya.


__ADS_2