
"Apa!!!! tidak, ini tidak mungkin."
"Pengawal!!! cepat antarkanku sekarang juga ke tempat tujuan, buruan." Teriak Tuan Zayen memanggil anak buahnya yang selalu siaga berada di dekatnya.
"Paman, ada apa? Paman mau kemana?" tanya Dey yang tiba tiba kaget dibuatnya.
"Zicko," sahut Tuan Zayen.
"Iya, Zicko kenapa? ada apa dengan Zicko, Paman?" tanya Dey ikut gelisah saat melihat Tuan Zayen dengan terburu buru segera pergi dari ruangan kerjanya. Sedangkan Dey sendiri segera mengikutinya dari belakang, ia pun takut ada sesuatu yang buruk menimpa sepupunya.
"Sekarang Zicko, Arnal dan pak Tama tengah dalam bahaya. Mobil yang dikendarainya jatuh kedalam jurang, mereka terhanyut bersama mobil yang dikendarainya." Sahut Tuan Zayen, kemudian Beliau berlari untuk segera naik mobil menuju ke lokasi.
"Kak, tunggu! mau kemana?" panggil Tuan Viko mengejarnya. Beliau juga merasa kaget saat melihat kakak iparnya yang tengah terburu buru untuk segera pergi tanpa berpamitan.
Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada kakak iparnya, Tuan Viko pun ikut masuk kedalam mobil yang di naiki kakak iparnya.
"Dey, kamu naik mobil kamu. Ajak beberapa anak buah untuk mengikuti kita." Perintah Tuan Viko pada putranya, kemudian Beliau segera masuk kedalam mobil.
"Iya Pa, Dey akan menyusul." Jawab Dey, kemudian ia segera meminta pengawal lainnya untuk mengikutinya.
Sedangkan didalam mobil, Tuan Zayen nampak gelisah saat memikirkan keselamatan putra semata wayangnya.
"Kak, tolong jelaskan ada apa? ada masalah apa yang sebenarnya?" tanya Tuan Viko yang semakin penasaran.
Sebisa mungkin, Tuan Zayen untuk memberitahunya. Meski dengan perasaan yang sedang tidak karuan rasa paniknya hingga ke ubun ubun.
"Zicko jatuh ke jurang bersama Arnal dan pak Tama."
"Apa!!! Zicko jatuh ke jurang? tidak, itu tidak mungkin. Ini pasti berita bohong, ini pasti ada sangkut pautnya dengan bayi Niko yang ada di rumah agar bisa diculik." Ucap Tuan Viko menebak. Sedangkan Tuan Zayen tidak meresponnya, Beliau tetap percaya dangan berita tersebut. Ditambah lagi yang menghubunginya adalah seorang Polisi yang sudah menjadi kepercayaan keluarga Wilyam.
__ADS_1
Dengan pasti dan yakin, Tuan Zayen tetap mempercayai berita tersebut.
"Kak, kenapa Kakak diam? kita mau kemana? kenapa kita tidak pulang saja?"
"Ini bukan lelucon, Vik. Ini benar adanya, Zicko mengalami sebuah kecelakaan tunggal. Lebih baik kamu diam, kita buktikan di lokasi." Jawab Tuan Zicko yang bercampur aduk akan jalan pikirannya.
Tuan Viko mendadak lemas mendengar keseriusan Tuan Zayen berkata jujur. Seketika, pikirannya tidak mampu untuk berpikir dengan normal. Bahkan Tuan Viko sendiri tidak lagi mampu untuk membuka suara, suasana didalam mobil pun menjadi hening dalam waktu yang sangat singkat.
Setelah memakan waktu yang cukup lama, tidak terasa Tuan Zayen dan Tuan Viko telah sampai ke tempat yang dituju. Dengan cepat, Tuan Zayen maupun Tuan Viko segera turun dari mobil. Kemudian Beliau langsung menemui beberapa Polisi yang sedang beroperasi.
"Pak Polisi, apakah ketiga korban sudah dapat diselamatkan?" tanya Tuan Zayen semakin panik saat melihat kedalaman jurang yang didapati arus deras dibawahnya.
Seketika, sekujur tubuhnya pun terasa lemas. Bahkan kedua kakinya pun terasa sulit untuk menopang berat badannya.
"Maaf Tuan, sampai sekarang masih dilakukan pencarian. Bahkan, mobilnya pun belum dapat ditemukan. Kemungkinan besar, mobilnya terseret arus yang begitu besar. Bersabarlah, semoga segera ditemukan dengan keadaan selamat semuanya." Jawabnya mencoba untuk menenangkan, meski kenyataannya pun sangat sulit untuk menerima kenyataan tersebut.
"Bersabar lah Kak, Zicko pasti dapat ditemukan. Sekarang juga aku akan segera melakukan pencarian yang lebih akurat, sekarang lebih baik kita kembali kedalam mobil."
"Aku bukan gila, tetapi kita memiliki alat canggih untuk memantau anak buah kita untuk mencari jejaknya."
"Zicko!!!!!!!" teriak Tuan Zayen sekencang mungkin sambil menjatuhkan ke jalanan.
"Ayo, kita kembali kedalam mobil. Kita memantaunya didalam mobil, itu jauh lebih baik lagi." Ajak Tuan Viko untuk menyudahi aksi dari Tuan Zayen.
Karena tidak mempunyai pilihan, Tuan Zayen terpaksa mengikuti permintaan dari adik iparnya.
Sedangkan di kediaman Tuan Zayen tengah dihebohkan dengan tangisan bayi Niko yang sangat histeris, bahkan suaranya pun begitu melengking untuk didengarnya.
Lunika yang berkali kali menghubungi suaminya pun sama sekali tidak ada jawaban, bakan nomornya pun tidak aktif. Lagi lagi Lunika kembali khawatir terhadap suaminya, didalam dadanya pun terasa tersayat dan sangat sakit ia rasakan. Nafasnya pun terasa sesak ketika memikirkan suaminya, entah perasaan apa, hingga begitu terasa yang dirasakan oleh Lunika.
__ADS_1
Bayi Niko masih terus menangis, bahkan sangat sulit untuk dikendalikan.
"Bagaimana dengan Zicko? apakah kamu sudah menghubunginya?" tanya sang ibu mertua dengan panik dan juga gelisah.
"Nomornya tidak aktif, Ma. Bagaimana kalau Mama menghubungi Papa, mungkin suami Lunika sedang bersama Papa." Jawab Lunika dengan gemetaran, bahkan otak dan hatinya tidak mampu untuk sinkron.
Lunika yang tidak mampu menenangkan bayi Niko, nyonya Afna pun langsung menghubungi suaminya.
Sedangkan di lokasi kejadian kecelakaan tunggal, tiba tiba Tuan Zayen mendapati panggilan dari rumah. Dengan cepat, Tuan Zayen langsung menerima panggilan telponnya.
"Apa!! bayi Niko menangis histeris? baik, baik, aku akan segera pulang."
"Aku akan menceritakan semuanya di rumah, aku pulang."
Panggilan telpon pun segera dimatikan oleh Tuan Zayen, kemudian Beliau segera berpamitan untuk pulang. Karena keselamatan cucu kesayangannya pun sangat berharga, Tuan Zayen memilih untuk segera pulang. Sedangkan soal Zicko, Tuan Zayen memberikan perintah kepada adik iparnya.
"Vik, sejarang juga aku harus pulang. Bayi Niko menangis histeris, bahkan Lunika tiba tiba pingsan dan belum juga sadarkan diri." Ucap Tuan Zayen berpamitan.
"Apa!! Lunika pingsan? bayi Niko menangis histeris? ini pasti ada hubungannya dengan Zicko. Semoga Zicko segera ditemukan dengan selamat, aku akan terus berusaha untuk menemukan Zicko. Sekarang juga pulang lah, bayi Niko sangat membutuhkan kamu." Sahut Tuan Viko dan menerima perintah dari kakak iparnya.
Tanpa harus berpikir panjang, Tuan Zayen segera pulang untuk melihat situasi di rumahnya.
Karena tidak ingin membuang buang waktu, Tuan Zayen mencoba untuk bersabar. Meski kesabarannya terasa sangat sulit untuk dijalaninya.
Tuan Zayen masih berada dalam perjalanan dengan pikirannya yang kacau, Beliau benar benar tidak mampu untuk menbayangkannya. Jangankan untuk kehilangan, membayangkannya saja Tuan Zayen tidak mampu.
Masih di rumah kediaman Tuan Zayen, semua yang ada di rumah tengah ricuh karena bayi Niko yang terus menerus menangis dengan kencang. Sudah berbagai cara dilakukan, namun tidak dapat untuk di tenangkan. Bahkan Dokter sendiri saja tengah kualahan untuk menenangkan bayi Niko.
Tidak lama kemudian, Tuan Zayen sudah sampai dihalaman rumah. Tanpa pikir panjang, Tuan Zayen segera masuk kedalam rumah fab mencari keberadaan cucu kesayangannya yang masih menangis histeris.
__ADS_1
"Sini, aku yang menggendongnya."
Seketika, bayi Niko langsung berhenti menangisnya. Semua tercengang seperti tidak percaya saat menyaksikannya langsung, termasuk sang Dokter sendiri.