Pernikahan Bayaran

Pernikahan Bayaran
Tommy and Jerry


__ADS_3

Acara pernikahan pun telah usai, semua keluarga kembali ke rumah masing masing. Namun tidak untuk Vey dan Dey, keduanya pulang ke apartemen.


Seperti yang diminta Dey, ia tidak ingin rumah tangganya diikut campuri oleh siapapun. Dey memilih untuk tinggal hanya bersama istrinya, entah apa alasannya hanya Dey lah yang tahu.


Kini, sampai lah keduanya di Apartemen. Dey langsung masuk ke kamarnya, sedangkan Vey mengekorinya dari belakang. Karena dirinya sendiri tidak tahu harus beristirahat dimana, Vey hanya mengikutinya dari belakang.


Dey yang merasa diikuti sampai didalam kamar, ia langsung menoleh ke sumber suara.


CTAK!!


"Aw! sakit, tau. Itu tangan apa palu lah, menyakitkan sekali." Pekik Vey sambil mengusap keningnya dan memasang muka kesalnya pada Dey.


"Kamu ngapain ngikutin aku, hah?"


"Aku mau istirahat lah, memang mau ngapain lagi."


"Mau istirahat? kamar kamu bukan disini, tapi noh! di sana. Ini kamar pribadiku, kau! dilarangnya untuk masuk."


"Dih, awas ya kalau kamar punyaku tidak sama dengan kamar kamu. Aku pastikan kamu akan mendapat balasan dariku, lihat saja." Ucap Vey sambil berkacak pinggang, Dey sendiri hanya tersenyum sinis.


"Siapa takut, sudah sana kamu keluar dari kamarku." Tantang Dey tidak takut, kemudian ia mengusir Vey dari kamarnya.


"Baiklah, aku juga tidak sudi satu kamar dengan kamu. Yang ada sekujur tubuhku banyak tanda yang tidak jelas yang kamu berikan." Ucap Vey menyindir Dey saat menciumnya sudah dua kali.


"Cih! kepedean banget kamu, yang ada tuh aku sial menciummu. Rasanya aja hambar dan tidak ada manis manisnya, jangan kepedean kamu. Sudah sana kamu keluar, bikin mataku sepet aja." Sahut Dey, sedangkan Vey langsung keluar begitu saja dari kamar suaminya tanpa berpamitan.


Dey tersenyum puas, ia berhasil untuk tidak satu kamar bersama istrinya. Begitu juga dengan Vey, ia pun merasa lega karena bisa lepas dari pria mesum, pikirnya.


Sambil berjalan menuju kamarnya, Vey tersenyum bahagia. Entah lah, dua pasangan yang aneh. Bukannya bersedih pisah kamar, justru keduanya sama sama bahagia ketika tidak satu kamar. Benar benar malam pertama yang paling aneh bin konyol, keduanya seperti orang yang tengah bebas dari jeratan yang menyiksanya.

__ADS_1


"Dih! kenapa ini pintu, lol tidak bisa dibuka. Aduh! bagaimana bisa dibuka coba, pintunya aja pakai kode. Bodoh sekali kamu Vey, jadi balik lagi deh. Benar benar sialan, sial banget deh nasibku. Mana menikah dengan pria mesum, lagi. Dih! amit amit kalau sampai dia menciumku lagi, aku tidak segan segan untuk memberinya tendangan untuknya." Gumamnya berdecak kesal saat dirinya tidak dapat membuka pintunya.


Karena tidak bisa membuka pintunya, Vey terpaksa kembali menemui Dey untuk memberinya kode.


BRAK BRAK BRAK BRAK.


Vey menggedor gedor pintunya cukup kuat, Dey sendiri merasa terganggu. Segera ia beranjak membuka pintunya dengan kesal.


"Mau ngapain lagi, hah? takut tidur sendirian? minta ditemani? cih! aku tidak sudi menemani kamu tidur." Tanya Dey sambil berdiri diambang pintu, Vey sendiri berkacak pinggang terlihat tengah menantang suaminya.


"Dih! siapa juga yang minta ditemani kamu, jugaan aku ogah ditemani kamu. Kamu tuh mesum, jadi sangat menakutkan. Bisa bisa sekujur tubuhku banyak ciuman dari kamu, bahkan digigit. Yang ada bagian tubuhku banyak luka sama kamu." Jawab Vey yang tidak mau kalah dari suaminya.


"Terus, kamu ngapain datang ke kamarku? bocah tengil."


"Berapa kodenya, kamar yang akan aku tempati tidak bisa dibuka. Cepetan! aku tidak mau lama lama didepan kamar kamu, aku sudah sangat capek dan juga sangat mengantuk. Aku ingin secepatnya beristirahat, buruan berikan kodenya." Jawab Vey dengan sungut.


"Oooh, kode pintu. 1112, sudah sana pergi." Ucap Dey yang lagi lagi mengusirnya, sedangkan Vey kembali berpikir. Karena tidak mau dikerjai Dey, akhirnya memilih untuk menarik suaminya sampai didepan pintu kamarnya untuk membukakan pintunya.


"Buka pintunya, aku tidak mau mendapat sial yang kedua kalinya. Cepetan kamu kamu buka pintunya dengan kode yang kamu tahu." Ucap Vey dengan tatapan tajam, Dey hanya bisa nurut dan membuka pintunya dengan kode yang dia tahu.


"Iya ya ya, bawel banget sih kamu." Sahut Dey dengan kesal, Vey tidak mempedulikannya.


Karena tidak ingin berlama lama berada di dekat Vey, secepatnya segera membukakan pintu kamar istrinya.


KREK!!


Pintu pun terbuka sangar lebar, disaat itu juga keduanya sama sama tercengang melihatnya.


"Apa!! Kamar mandi?"

__ADS_1


Kemudian, keduanya saling menatapnya dengan kesal. Vey yang merasa dikerjai, segera ia menarik kopernya dan berjalan dengan cepat menuju kamar suaminya.


"Bawel! mau kemana kamu, hah!"


Vey tidak menghiraukan nya, ia terus berjalan sampai didalam kamar suaminya.


"Enak saja aku disuruh tidur dikamar mandi, yang benar saja. Bodoh amat, aku mau tidur dikamarnya. Mau dia marah juga terserah, aku bisa adukan pada Paman Zayen." Gumamnya sambil berdecak kesal, kemudian melemparkan tas kecilnya diatas meja dan menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Dey yang merasa sial dan kesal, segera ia menahan Vey untuk tidak tidur satu kamar. Apapun caranya, Dey mencoba berpikir untuk mencari ide.


Sampai didalam kamar, Vey sudah berbaring diatas tempat tidurnya. 'Cih! dengan santainya dia tidur ditempat tidurku, kurang ajar sekali itu anak.' Batin Dey sambil berkacak pinggang didekat pintu.


"Woi! bangun, enak saja kamu tidur ditempat tidurku. Tidur noh dilantai, sembarangan saja kamu ini."


Vey yang merasa pendengarannya terganggu, ia segera bangkit dari posisinya. Hingga keduanya terlihat adu menantang, Vey maupun Dey sama sama berkacak pinggang saling menatapnya tajam.


"Kalau aku tidak mau, mau apa? apa perlu aku adukan ke paman Zayen? baik lah Kelau begitu. Jadi, aku bisa keluar dari kamar ini, dan secepatnya aku dijemput oleh paman Zayen. Dan kamu, siap siap mendapat hukuman dari Papa kamu." Ucap Vey menantang, seketika Dey bingung dibuatnya.


"Ok ok ok, kamu boleh tidur dikamar ini. Aku yang akan tidur di lantai, puas! kamu." Jawa Dey dengan suara membentak, Vey sendiri tidak perduli.


"Akhirnya, aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini." Gumamnya, Dey sendiri hanya bisa berdecak kesal menghadapi sikap Vey yang tidak pernah menunjukkan rasa ketakutannya saat mendapat bentakan atapun kekerasan yang lainnya.


Karena tidak ada pilihan, akhirnya Dey memilih untuk tidur dilantai hanya beralaskan tikar dan dilapisi dua selimut.


'Cih! kenapa aku seperti anak yang kurang kasih sayang, menyedihkan. Eh! bodoh banget akunya, kenapa aku harus tidur dilantai. Kenapa juga tidak ti atas tempat tidur, kan ada guling untuk menjadi penghalang.' Batinnya yang tidak mau kalah dari istrinya, idenya pun seketika muncul.


Dengan pelan, Dey naik ke tempat tidur dan memberi penghalang guling ditengah tengah. Kemudian, Dey segera berbaring disebelahnya.


"Akhirnya, aku bisa berbaring ditempat tidur." Gumamnya dan bernafas lega.

__ADS_1


BRUK!!


"Aw!!! sialan." Pekik Dey sambil menahan sakit pada bagian punggungnya.


__ADS_2