ROMAYA

ROMAYA
Persalinan Monalisa


__ADS_3

100


Maafkan aku mas, aku hanya merasa tak sempurna sebagai istrimu. Penantian kita sudah cukup lama. Tapi cintamu tak berkurang sedikit pun untuk ku.


Mungkin ini hukuman atas segala dosa dosa ku.


Tuhan memberikan kesenangan dalam hidup ku beberapa waktu belakangan ini. Semua usaha ku sukses dan maju pesat. Mertua, suami dan ipar ku sangat menyayangiku. Dan aku harus melatih kesabaran untuk mengharapkan seorang anak dalam rumah tangga kami.


"Sayang kita sudah sampai.."


Maya tersentak dari lamunan panjangnya saat Pramana memegang lengannya untuk segera turun.


Buru buru mereka kedalam rumah Mona. Terlihat Romi sudah sangat panik. Ditemani oleh beberapa orang tetangga yang membantu Mona meredakan rasa sakitnya.


"Romi .. kita bawa langsung Mona kerumah sakit. Aku takut terjadi apa apa padanya."


Maya langsung mendekati Mona dan mengusap pinggangnya yang terasa nyeri. Ia terlihat kasihan terhadap adik iparnya itu.


"Ya mbak .. aku ambil tas dulu kekamar."


Buru buru Romi masuk kamar dan kemudian keluar lagi. Sementara Mona sudah dibawa oleh Maya dan suaminya untuk duduk didalam mobil.


Romi bergegas mengunci pintu. Dan pamit pada tetangga mereka. Dia minta didoakan agar persalinan Mona lancar dan bayi mereka juga sehat.

__ADS_1


Pramana melajukan mobilnya lebih kencang. Sementara Maya terus membantu Mona mengusap pinggang nya saat rasa nyeri itu kembali datang. Rintihan terdengar dari mulut Mona menahan rasa sakit.


Tak berapa lama mereka tiba didepan UGD. Romi segera turun dan berlari kedalam rumah sakit untuk memanggil perawat.


Sementara itu Mona dibantu Maya untuk naik keatas kursi roda yang dibawa seorang perawat keluar.


"Kenapa malah bawa kursi roda sih...?" Gumam Maya kesal dengan perawatnya yang santai berjalan.


"Iya buk... Karna ini pasien mau bersalin bukan nya karna kecelakaan. Justru nyerinya akan membuat bayi nya segera keluar..." Jawab perawat ramah pada Maya.


"Maksudnya gimana? Apa adik saya tak langsung dioperasi sus?" Tanya Maya heran.


"Tidak buk, sebentar lagi air ketuban ibu ini akan pecah, saat nya bayi akan lahir. Jadi tidak perlu adanya tindakan operasi. Karna proses ibu bersalin normal akan lebih baik dan lebih cepat pulih."


Perawat kembali keluar memanggil Romi untuk menemani persalinan Mona. Dengan buru buru Romi masuk kedalam.


Ia menenangkan Mona. Didalam ruang persalinan Romi diberi masker dan sarung tangan.


"Dok, air ketubannya sudah pecah. Kepala bayi sudah nampak."


Dengan dada yang berdebar debar Romi menemani istrinya bersalin. Berharap semua akan baik baik saja.


"Siap buk... saat mendapatkan rangsangan ibuk tarik nafasnya ... Kemudian tahan. Tutup mulut, lepaskan dengan mendorong kebawah ya buk .. jangan diangkat panggul nya" arahan dari dokter pada Mona.

__ADS_1


"Ya dok..." Mona sempat menjawab ucapan dokter tersebut.


"Mas .. maafkan aku..." Air matanya seketika mengalir saat mengajak Romi bicara.


"Sudah sayang... Sekarang fokus ke persalinan mu. Semangat sayang .. berjuanglah demi anak kita."


Romi mengusap dan mengecup kening Mona. Ia menggenggam erat tangan Romi dan satunya memegang erat ujung bantal di kepalanya.


"Apakah sudah terasa buk.. rangsangan nya?" Dokter kembali bertanya pada Mona.


"Ya dok .. saya seperti kebelet. Dan ini sangat keras." Jawab Mona merasakan apa yang sedang ia alami.


"Benar.. ayo ambil nafas yang panjang..."


Tiba tiba Mona merasakan ada sesuatu yang mendorong dari bawah nya memaksa untuk keluar.


Ya Tuhan... Selamatkan aku dan anakku..


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2