
"Begitu cerita yang kudengar dari ibu nya Mona adik tiri ku, dan dia sudah meninggal dunia." Ray menghisap rokoknya menghembuskan keudara.
Cerita nya memang banyak kesamaan, tapi alasan Maya dan adiknya berbuat begitu tak bisa kuterima. Maya bukan tipe orang seperti itu.
"Dewa! Kenapa kau hanya diam. Bukannya kau ingin tau tentang semuanya"
Ray menatap Pramana dengan penuh tanda tanya. Entah apa yang sedang dipikirkan pria didepannya.
"Jujur Ray.. aku ingin bertemu dengan Romi." Tiba tiba ia teringat dengan Romi.
"Adik wanita itu?" Ray semakin penasaran dengan sikap Pramana atau Dewa
"Ya... karna ku yakin dia ada disana. Tapi seakan tak bisa menolong kakaknya." Pramana mengucapkan sekilas kejadian dimalam Maya dilecehkan.
"Menolong? Apa maksud mu Dewa?" Ray menegakan tubuhnya.
"Lebih baik kau tanya pada adik tirimu. Bukan kah ia menikah dengan Romi? Kau pasti lebih tau." Pramana menyilangkan kakinya.
"Sebentar Dewa, sebenarnya apa alasan mu menanyakan masalah ini?"
Pramana menatap Ray. Ia juga tau kalau Ray hanya lah korban adu domba atas perkataan pamannya Tono.
__ADS_1
"Sebaiknya kau harus tau kejadian yang sebenarnya Ray!"
"Apa kau sudah tau melebihi aku?" Tanya Ray gusar melihat pria dihadapannya.
"Aku menyaksikan keputus asaan wanita itu saat pertama kali kau menyuruhku mengikutinya dari penjara. Jika saja bukan aku.. mungkin tak ada orang yang berani mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Maya." Pramana melihat Ray yang terkejut dengan perkataannya.
"Ternyata ia mencoba bunuh diri... setelah membunuh ayahku."
"Secara logika ku Ray... seorang pembunuh takan merasa putus asa dengan dirinya sendiri. Kecuali.... "
"Kecuali apa Dewa?" Ray sangat penasaran.
"Kecuali ia telah mendapatkan pelecehan dari ayah dan paman mu. Hidup nya terasa sangat hina. Tak mempunyai harga diri lagi setelah Tono memberikan nya obat perangsang. Ia seperti wanita murahan yang liar menjajakan diri dijalanan. Kau tau Ray? Romi adiknya, diikat oleh orang orang ayah mu. Dia dihajar hingga babak belur. Kemudian mereka meninggalkan segepok uang ratusan ribu rupiah di dalam kedai bakso, kedai yang dibangun Maya dari modal pinjaman ayah mu."
"Dan karna kejadian itu adiknya melenyapkan nyawa ayahku.."
"Benar...dan sekarang Romi telah membayar kesalahannya dipenjara selama 7 tahun. sebaiknya kau coba bicara dengan Tono. Aku yakin dia tau semuanya. Dan menyembunyikan dari mu Ray. Aku tau teman ku ini orang baik. Coba kau lakukan pendekatan dengan warga tempat tinggal ayah mu. Cari tau pendapat mereka tentang ayah mu, mereka juga tak begitu mengenalmu sebagai anak ayahmu bukan. Kau bisa berjumpa dengan Mona adikmu.."
Ray mengangguk angguk menerima saran dari Pramana. Tak ada salah nya ia mencoba. Sebelum lebih menyakiti wanita yang tak bersalah, karna terhasut ucapan Tono.
"Baiklah Dewa.. aku akan mencobanya. Tapi kau temani aku."
__ADS_1
"Baiklah... besok kita kesana."
Mereka mulai membicarakan kerja sama setelah Pramana memberikan sedikit saran untuk temannya.
Lalu.. bagaimana dengan ku? Aku sudah terlalu jauh masuk kepermainan ini. Sepertinya aku tak bisa meninggalkan Maya. Sekarang dia istriku. Istri sah ku... aku akan perjuangkan dia.
Namun Lana? Perjodohan yang telah berjalan selama setahun ini akan ku apa kan? Maafkan aku Lana... belum ada cinta untukmu..
"Dewa... jika masalah ini selesai.. Bagaimana dengan Maya? Apa yang akan kau lakukan juga dengan Lana?"
Pramana menatap sahabat nya itu dengan tatapan keputus asaan. Dia hanya diam menggeleng gelengkan kepalanya.
"Jangan bahas itu... aku bisa salah fokus tentang pekerjaan ini Ray.."
"Baik lah... santai Bro..."
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung