
Malam ini Maya masih sibuk dengan pekerjaannya. Ia mulai mengukur, menggambar pola, memotong kain yang akan ia jahit besok.
Tapi ia keliatan gelisah, suami tercinta belum juga pulang bahkan memberi kabar pun tidak. Sedang termenung menatap jam dinding yang sudah menunjukan angka pukul 10 lewat. Ponselnya berdering, dengan sigap Maya mengangkatnya. Wajah wanita itu senang seketika saat ada foto Pramana disana.
"Ya mas..."
"Maya.. maaf, tadi aku tak mengangkat telpon mu. Ponsel ku di dalam tas.. kadi tak.kedengaran."
"Ya mas tak apa apa, apa mas sudah jalan pulang sekarang?"
"Iya sudah, tapi aku kembali kekantor dulu mengembalikan mobil perusahaan."
"Kantor?"
"Nanti aku jelaskan dirumah sayang..."
"Baiklah.. hati hati dijalan mas.."
"Aku mencintai mu Maya..."
Maya menutup sambungan teleponnya dengan ribuan pertanyaan dikepalanya. Sebagai istri ia berhak tau dimana suaminya bekerja. Sudah dalam hitungan bulan mereka menikah, dia hanya tau jika Pramana seorang karyawan Toko.
Apa ada yang aku tak ketahui tentang mas Pram? Nanti dia pasti akan menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Sementara itu Pramana menepuk nepuk mulutnya karna keceplosan bicara tentang pekerjaannya.
Aahh... bodoh sekali aku. Maya bisa curiga. Sudah terlanjur basah... mandi sekalian. Lebih baik aku bawa saja mobil ini pulang. Aku rindu dengan satria baja hitamku ini. Nanti aku akan ceritakan semua tentang pekerjaan ku pada Maya... kuharap dia bisa terima.
Mobil Pramana masuk kejalanan sempit kampung. Beberapa orang yang ia lewati menatap mobil yang secara pelan melintasi mereka. Tanpa menyadari siapa pengemudinya.
"Mereka seperti tak biasa melihat mobil saja. Tapi... ini juga salahku. Aku kembali kekampungku setelah 15 tahun membangun perusahaan kecil dikota. Tentu saja mereka heran siapa yang punya mobil dikampung ini. Rumah itu... 15 tahun kutinggalkan, dan kutempati lagi bersama Maya... dia benar benar wanita yang baik.. sama sekali tak mempermasalahkan tentang harta dan uang ku. Bahkan mau menikah dengan ku yang mengaku miskin ini. Aku benar benar tak akan melepas mu Maya. Tempat mu disini.. dihatiku."
Pramana tersenyum sendiri sambil.memegang dadanya sambil menyetir. Ia tiba didepan rumah sederhananya yang telah diubah Maya.
Ia turun dari mobil. Membawa tas dan jas lalu satu kantong kresek berisi makanan.
Mendengar pintu mobil tertutup, Maya yakin itu suami nya yang tadi sedang membawa mobil. Ia membuka pintu menyambut suaminya dengan senyuman manis yang hangat.
"Sayang..."
"Mas... apa itu?" Maya menunjuk kantong kresek yang dibawa Pramana.
"Makanan favoritmu." Maya mengambilnya dari tangan Pramana
"Ayo masuk, mas pasti cape..."
"Benar .. banyak sekali pekerjaan hari ini."
__ADS_1
"Ditoko?" Maya melihat Pramana sambil tersenyum.
"Sayang... aku akan mandi dulu... nanti kujelaskan. Kau bersabarlah..."
Pramana berjalan kekamar meletakan tas dan jas yang ia bawa tadi. Lalu keluar menuju kamar mandi. Ia melihat Maya tengah menghangat makanan yang ia masak tadi didapur.
"Waah... pasti enak ini. Aku lapar sekali." Pramana mengecup kening istrinya dan masuk kekamar mandi.
"Jangan lama lama mas... nanti keburu dingin makanannya."
"Siap... nyonya Dewanto.."
Maya tersenyum mendengar suaminya yang berteriak dari dalam kamar mandi. Tak sabar dengan penjelasan Pramana nanti tentang kantor dan mobil yang dibawa nya pulang.
Apapun yang diucapkan mas Pram nanti.. kuharap aku bisa menerimanya. Aku juga tak pernah bertanya dengan serius tentang pekerjaannya. Dan kami menikah setelah 4 hari berkenalan. Wajar saja jika ada yang tak kuketahui tentang suamiku. Semua orang memiliki masa lalu bukan?
Semoga apa yang kudengar nanti Kenyataan yang baik..
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung