ROMAYA

ROMAYA
Mulai terkuak


__ADS_3

Bagian terberat dari perjalanan adalah perpisahan. Kesediaan meninggalkan masa lalu yang tiada di masa depan.


Belajarlah dari semua yang telah terjadi dan mengertilah. Bahwa jawaban adalah tak akan selalu dengan terus bertahan, melainkan dengan melepaskan genggaman untuk sebuah kesempatan baru di masa depan atau mengakhirinya sekarang.


Maya tersimpuh meratapi hatinya yang menoreh kan luka. Kaki nya enggan melangkah kedepan.


Suara langkah kaki mengejutkan lamunan nya. Ia menatap bayang bayang seseorang yang datang. Senja seakan menutupi hatinya untuk melangkah pulang. Karna senja tak merasakan kegundahan dirinya. Dia hanya menghilang saat malam menjelang.


Siapa itu? Siapa yang masih ingin kesini? Setelah dia mati? Aku takan membiarkan siapapun menyakiti ku lagi.


Bayangan itu semakin dekat, masuk dari sela pintu sedikit terbuka. Ia menegakan wajahnya melihat siapa yang masih ingin masuk kekedainya.


"Mbak! Ternyata disini. Aku dari tadi mencari mu"


Romi melihat Maya tengah tersimpuh didepan pintu kamar. Ia melihat begitu banyak uang berserakan.


"Banyak sekali uang, aku tak melihatnya saat..."


"Romi kumpulkan semua uang ini.! Jangan membahas peristiwa itu lagi. Itu sangat menyakitkan untuk kuingat."


Bergegas Romi memungut uang itu satu persatu. Sesekali ia menatap Maya yang masih menangis.


"Mbak kenapa kemari?"

__ADS_1


Ia membuka pembicaraan. Karna menemukan Maya kembali kekedai bakso. Tempat yang menyeramkan bagi Maya.


"Aku ingin Membersihkan tempat ini. Besok pagi tolongin mbak ya. Kita bawa semua barang barang kerumah. Aku ingin buka usaha baru."


Maya mengambil sehelai uang ratusan ribu. Ia menatap lekat lekat uang itu. Jika tak diambilnya lalu mau diberikan kesiapa?


"Besok aku kebetulan libur. Kita kesini pagi pagi sekali. Biar cepat membereskannya. Lalu... uang sebanyak ini mau mbak apakan?"


Romi mengambil sebuah kantong plastik dan memasukan uang itu kedalamnya. Jumlah nya cukup banyak. Mawarto benar benar banyak menerima uang dari Tono. Hasil penjamahannya atas tubuh Maya.


"Uang ini... hak ku. Tapi... aku masih tak rela untuk menggunakannya. Kau tau Romi? Mbak mu ini seperti wanita murahan yang menerima upah."


Maya mengalihkan pandangan nya kesegala arah ruangan bakso. Ia sangat menyesal menerima tawaran untuk menerima pinjaman dari Mawarto yang sekarang sudah berada didalam kubur.


Maaf mbak bukan maksud ku menyakiti mu."


Ucapan Romi yang panjang lebar disimak baik baik oleh Maya. Ia masih enggan memakai lembaran merah yang diberikan Tono lewat Mawarto.


"Lagi pula... tua bangka itu sudah lenyap. Hutang kita sudah terbayarkan. Tak akan ada lagi yang berani menyakiti mbak Maya. Maka tak ada ampun bagi mereka."


Romi geram ia meremas uang yang ada ditangan nya. Ia masih mengingat saat tua bangka itu bergetar meregang nyawa.


Walaupun merasa takut, tapi dia puas dengan pembalasan yang ia lakukan demi kakaknya. Ditambah juga dengan menggagahi putri Mawarto.

__ADS_1


Maya melirik kearah Romi. Ia menatap tajam pemuda itu. Mencerna ucapan Romi tadi.


Hutang terbayarkan? Apa dia yang telah membunuh Mawarto? Romi... kau benar benar....


Maya menunduk menunggu kata demi kata keluar dari mulut Romi. Membuka sedikit celah untuk pembenaran kata hatinya.


"Mbak percayalah pada ku.. uang ini adalah hak mbak. Aku takan tinggal diam pada orang yang telah menyakiti mbak.


Dan itu sudah terbukti bukan. Sebaiknya kita pulang dulu setelah mengutip uang ini. Besok pagi kita kembali lagi kesini."


Romi bergegas mengumpulkan uang itu. Dan mangajak Maya untuk pergi. Tapi Maya terus menatap wajah nya. Ada perasaan haru dan kecewa.


Ia telah bisa memastikan bahwa adiknya lah yang melenyapkan Mawarto. Setiap perkataan Romi mengandung ribuan dendam untuk lelaki tua itu.


"Jadi benar kau menghabisi nya??"


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2