
Pramana memasuki sebuah gedung yang sudah terlihat tak terurus. Tapi ramai karyawan yang berlalu lalang disana.
Ia masuk kesebuah lift menekan tombol 15. Pramana menelan salivana saat mengingat adegan panasnya bersama Maya. Pria itu memegang dadanya yang langsung berdetak.
"Meski pun ia seorang janda.. tapi pesona nya membuat ku tergila gila...heheh"
Pramana tertawa kecil. Adegan Maya yang liar masih menari nari dipelupuk matanya. Dan ia sangat ingin menyelesaikan pertemuan ini.
Dia memasuki sebuah ruangan. Seorang pria menunggunya dengan berkacak pinggang.
"Maaf aku terlambat.."
Pramana membuka suara. Ia menyapa seorang lelaki yang usia nya tak jauh berbeda dengannya.
"Pakailah motor yang ada digudang nanti, agar kau tak perlu terlambat lagi"
Suara berat nya memenuhi ruangan itu. Ia mempersilahkan Pramana duduk. Lalu meletakan sebuah amplop diatas meja.
"Kapan aku bisa memakai mobilku? astaga.... ini sangat sulit"
"Buka lah.. jangan mengeluh.."
"Apa ini?"
__ADS_1
Lelaki itu diam sambil membakar sebatang rokok. Ia tersenyum melihat Pramana membuka amplop itu pelan pelan.
"Kau...? ya ampun. Bahkan ini pun kau simpan Ray..."
"Ahahahhhahah... jangan berlama lama bermain dengan nya. Kerjakan saja tugas mu dan ambil bayaranmu Dewa.."
Suara tawa pria yang dipanggil Pramana dengan nama Ray itu memekakan telinga. Suaranya bergema penuh dendam.
"Itu akan butuh waktu bro... kau sangat tak bisa melihat temanmu ini menikmati hidupnya sebentar saja."
Pramana yang dipanggil Dewa oleh Ray juga tertawa kecil. Nama suami Maya itu adalah Pramana Dewanto. Tapi ia senang dipanggil Pramana , nama pemberian neneknya. Hanya Ray yang biasa memanggilnya Dewa.
Ia mengambil sebatang rokok diatas meja lalu membakarnya. Ruangan kerja Ray dipenuhi kepulan asap yang tebal.
Pramana terkejut saat Ray menyebut nama Lana. Kekasihnya yang tak sempat lagi dia ingat. Bahkan dalam jangka waktu 3 bulan mereka akan menikah.
"Lana... aku hampir saja melupakannya. Kau beritahu dia.. dalam sebulan ini aku akan menemukannya. Dan pekerjaan ku selesai Ray."
"Hmmmm... 29 hari dari sekarang. Tepati janji mu Dewa.. dan bersenang senanglah selagi ada waktu ahahahhaha... kau pasti akan lupa dengan Lana saat kau bersama nya. Pesonanya mengalahkan wanita lain. Termasuk Lana. Bahkan ayah dan pamanku tergila gila setelah mencicipi nya. Hmmm... aku jadi penasaran. Bagaimana rasanya... "
"Kau tak akan tau jika belum mencobanya. Sudahlah... jangan aneh. Aku akan pulang. Istriku menunggu dirumah."
Pramana berdiri memberikan senyuman terindah untuk temannya.
__ADS_1
"Apa kau tidak menyimpan itu?" Ray mengangkat sebuah amplop yang ia tunjukan pada Pramana tadi.
"Ku hadiahkan untukmu.. pandangi sebelum tidur, agar pusaka mu menegang. Ahahahha"
Pramana menutup pintu ruangan Ray, lengkapnya. Rayyan Haidarto. Putra sulung Mawarto dengan istri pertamanya yang sudah meninggal. Dia kembali membalaskan dendam atas kematian ayahnya yang tiba tiba.
Dengan menghadirkan Pramana dikehidupan Maya. Lagi, Maya akan mendapatkan kesulitan hidup.
Pramana seorang pengusaha kecil, bisa besar dengan bantuan Mawarto. Ia bisa menghidupi ibu dan adik perempuannya yang telah bekerja sebagi dokter. Dengan berpura pura sebagai lelaki miskin ia mendekati Maya.
Dan bagaimana ia bisa mengetahui keberadan Maya,? Bukan kah cukup aneh, Pria yang membantunya distasiun mengajaknya pulang dan menikahi nya. Bukan hanya kebetulan, tapi ini sudah direncanakan.
Dan siapa Lana? Dia calon istri Pramana. Namun akankah cinta kepada Lana akan berpindah kehati wanita yang ia nikahi sekarang.
Pramana mengendarai motor menuju rumahnya. Ia berjibaku dengan kepalanya. Memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Mungkin ... aku telah mencintainya...
.
.
.
__ADS_1
Bersambung