
"Tidak apa... Bicaralah..." Pramana memberikan dukungan pada Maya.
"Raisa .." menyebut nama wanita itu membuat nya semakin diliputi amarah.
"A..aku .." Maya menelan salivanya.
"A.. aku... Aku .." Maya memegang dada nya yang terasa sesak.
Pramana tau jika Istri nya belum siap untu memberikan maaf pada Raisa. Berkali kali ia mencelakai Maya. Bahkan sampai nyawa menjadi taruhannya.
"Maya... "
Suara Pramana memberikan kekuatan bagi Maya. Tapi ia seperti mematung menatap wanita yang masih terbaring tak berdaya diatas tempat tidur perawatan.
Aku benar benar hampir gila karena kehilangan putra ku Raisa... Kesedihan itu masih mendalam karena mu...
Maya terlihat menahan amarahnya. Tangan nya bergemetar, seakan akan ia ingin melenyapkan wanita itu sebagai pembalasan untuk kepergian putra mereka.
Dimana diri ku yang semalam...
Billy... Maafkan mama.
"Aku .. aku..."
Maya menghempaskan nafasnya dan berjalan keluar ruangan. Dia berhenti diambang pintu sambil menatap kedua orang tua Raisa yang melihat nya seperti memohon untuk memaafkan putri mereka.
Ia melanjutkan langkah kakinya meninggalkan tempat itu. Pramana yang menyadari situasi itu dengan menganggukan kepala ia berlari mengejar Maya.
"Pa... Apakah kesalahan anak kita tidak bisa dimaafkan oleh seorang wanita juga? Sebegitu beratkah kesalahan Raisa pa?" Tanya ibu Raisa berlinangan air mata.
Ia beranjak masuk kedalam ruangan Raisa. Mengusap pelan kening Raisa hingga kerambutnya yang mulai rontok.
__ADS_1
"Bukankah dia sudah sangat menderita dalam dua tahun ini pa?"
Ayah Raisa hanya terduduk disofa. Ia berkali kali mengusap air matanya yang menetes, agar tak dilihat istrinya.
Aku harus menemui mereka...
Jika memang Raisa diberikan kesempatan oleh Tuhan. Aku akan membawanya pergi dari sini.
Jika memang sudah ajalnya... Aku akan berusaha ikhlas... Karna itu ketentuan Tuhan. Tiada satupun yang bisa menawar bahkan menolak...
Berbagai pikiran bergentayangan dikepala Santosio, ayah Raisa. Ia menelan saliva nya sambil melihat istrinya yang terlihat sedih dan sakit sakitan hari demi hari.
"Ma, kembalilah kekamar mu... Ayo aku antar..." Ajak nya pada istrinya yang juga sedang dirawat dirumah sakit yang sama.
...****...
Maya masuk kedalam mobil, setelah Pramana membuka pintu mobil mereka. Ia menangis sambil memukul mukul pahanya.
"Maaf mas, aku belum sanggup melupakan tragedi itu... Bayangan saat Billy terluka masih tertanam dimataku. Sesaat aku mencoba ikhlas, namun wajah Wanita itu membuat aku ingin melenyapkannya...
Hati ku kembali sakit..."
Maya mengeluarkan isi hati yang ia rasakan saat diruangan rawat Raisa. Pramana menatap istrinya sedih. Karna hanya Maya yang menghadapi kejadian itu. Dikala ia terbaring koma.
"Maafkan aku Maya, aku tak berada disisi mu. Saat kehilangan anak kita." Pramana menggenggam tangan Maya.
"Dan dia hampir membuatku menjadi janda...
Apakah wanita seperti itu bisa ku maafkan mas??" Maya memukul kembali pahanya.
Pramana dengan cepat memegangi tangan Maya. Merangkulnya hingga masuk kepelukan Pramana. Tangisan Maya semakin awet dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
"Apapun keputusan mu, aku akan selalu mendukung mu. Jika kau belum siap, jangan dipaksakan.
Atau kau bisa memaafkan nya, tanpa menemui nya Maya."
Maya melepaskan pelukan Pramana. Ia duduk mengambil beberapa helai tisu yang langsung diusapkan kewajahnya secara perlahan.
"Akan kupikirkan mas..." Jawab Maya.
Ia menatap wajah suaminya, dan ia tak ingin membebankan perasaan nya pada Pramana. Tak ingin merusak kebahagian mereka dengan terus mengingat ulah wanita itu.
"Sebaiknya kita langsung pulang. Aku akan menyuruh Trisno mengirim berkas berkas yang penting kerumah saja. Aku akan menemani mu hari ini." Pramana membelai kepala Maya dan mengecupnya.
"Bersabarlah sayang, cobalah menerima cobaan ini. Ikhlas lah... Hanya itu tugas kita sebagai manusia. Billy tak lagi bersama kita... Ia menunggu kita disyurga..."
Maya mengangguk, dan menatap lurus kedepan saat mobil melaju keluar dari parkiran rumah sakit.
Aku hanya manusia mas, aku bukan nabi.
Rasa kehilangan itu membuat luka terbesar dalam hidup ku. Aku sangat kehilangan...
Maya menoleh keluar jendela sambil mengelap air matanya dengan punggung tangannya. Tak ingin Pramana kembali melihat nya bersedih.
Melihat berbagai keadaan ditepi jalan, seperti itu dengan kehidupan yang ia jalani. Begitu banyak hal yang telah ia lalui hingga sampai ketitik ini.
.
.
.
__ADS_1