
Pagi ini terasa sangat sejuk, hujan yang mengguyur sejak dini hari masih menyisakan gerimisnya menemani pagi.
Berada dalam pelukan Pramana, setelah pertempuran semalam mereka lakukan beberapa ronde. Membuat Maya malas untuk lepas dari dekapan suaminya. Lagi.. ia pejamkan mata.
Mendengarkan alunan ombak laut yang tak jauh dari penginapan mereka. Mata Maya kembali terbuka karena silauan matahari yang masuk menerobos melalui jendela kamar itu.
Sebuah kecupan hangat terasa di keningnya. Maya mengangkat kepalanya melihat Pramana. Dan Pramana menangkap kembali bibir istrinya dengan sebuah ciuman.
"Sayang.... Ayo kita lakukan lagi.." suara Pramana berbisik diikuti serak dalam suaranya yang berat.
"Mas.. bukan kah hari ini kau kerja? Lebih baik kita pulang saja. Pesanan ku masih banyak." Maya memeluk dada bidang suaminya.
"Tapi sayang... aku masih menginginkannya" ujar Pramana sambil mengangkat kepala Maya dan mengecup bibir ranun istrinya. Sementara tangan nya bergerilya ditubuh sang istri.
"Mas... aku kan ke kamar mandi sebentar lebih baik kamu siap-siap pakaian kita hanya ini.."
Maya berdiri dari tempat tidur lalu memuat beberapa pakaiannya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sebenarnya ia masih ingin bersama Pramana suaminya, tapi pesanan yang menumpuk dan masih banyak yang belum dibuat membuat Maya terpikir akan hal itu dan ingin segera pulang.
"Baiklah sayang... aku akan segera membersihkan diri setelah sarapan kita akan kembali pulang. Aku tidak akan kerja hari ini, aku akan menemanimu membeli bahan kain yang kau butuhkan."
Pramana duduk tersenyum diatas tempat tidur melihat istrinya berganti pakaian. Lalu mereka memesan sarapan di penginapan itu dan berangkat menuju pasar.
Pramana mana sangat senang hari ini karena semua masalah mereka sudah selesai. Ia berdecak kagum dengan ketulusan hati Maya yang sudah mau memaafkannya. Meski itu dengan susah payah ia lalui demi istrinya tercinta.
Pramana berjanji dalam hatinya akan selalu membahagiakan istrinya. Karena dengan banyaknya cobaan yang telah dilalui Maya menjadikan ia wanita lemah yang kuat, dan Pramana tahu itu.
"Sayang... Apa kau sudah bersedia untuk tinggal dirumah kita.?" Pramana tersenyum menatap Maya.
"Untuk sekarang ini aku sangat senang tinggal di lama mu, karena orang-orang di kampung itu sangat baik. Apakah boleh jika kita tidak usah pindah?" Jelas Maya sesekali menoleh pada Pramana.
"Tapi Maya... aku ingin membawamu ke rumah yang lebih layak aku sudah mempunyai sebuah rumah. Kita akan tinggal berdua membangun rumah tangga baru dan dengan anak-anak kita kelak." Imbuh Pramana meyakinkan istrinya.
"Dan janjimu mengenai bertemu dengan ibu dan adikmu bagaimana? apakah kau melupakan itu?"
Maya teringat tentang Pramana yang berjanji untuk mempertemukan mereka. Maya merasa setelah masalah selesai tidak ada salahnya bertemu dengan ibu mertua dan adik iparnya.
"Aku akan temui ibu dulu. Karna ibu masih belum mengetahui pernikahan kita."
__ADS_1
"Dan bagaimana dengan Lana?" Maya memperhatikan suaminya.
"Lana... Dia sudah mengerti."
Maya mendengarkannya dengan senang hati. Jadi tak ada lagi yang patut diresahkan.
Pramana berdecak saat melihat ponselnya berdering. Dan itu adalah Lana.
Baru saja dibicarakan, kau sudah menghubungi ku.
Pagi ini terasa sangat sejuk, hujan yang mengguyur sejak dini hari masih menyisakan gerimisnya menemani pagi.
Berada dalam pelukan Pramana setelah pertempuran semalam mereka lakukan beberapa ronde. Membuat Maya malas untuk lepas dari dekapan suaminya. Lagi.. ia pejamkan mata.
Mendengarkan alunan ombak laut yang tak jauh dari penginapan mereka. Maya maya kembali terbuka karena silauan matahari yang masuk menerobos melalui jendela kamar itu.
Sebuah kecupan hangat terasa di keningnya. Maya mengangkat kepalanya melihat Pramana. Dan Pramana menangkap kembali bibir istrinya dengan sebuah ciuman.
"Sayang.... Ayo kita lakukan lagi.." suara Pramana berbisik diikuti serak dalam suaranya yang berat.
"Mas.. bukan kah hari ini kau kerja? Lebih baik kita pulang saja. Pesanan ku masih banyak." Maya memeluk dada bidang suaminya.
"Tapi sayang... aku masih menginginkannya" ujar Pramana sambil mengangkat kepala Maya dan mengecup bibir ranun istrinya.
"Mas... aku kan ke kamar mandi sebentar lebih baik kamu siap-siap pakaian kita hanya ini.."
"Baiklah sayang... aku akan segera membersihkan diri setelah sarapan kita akan kembali pulang. Aku tidak akan kerja hari ini, aku akan menemanimu membeli bahan kain yang kau butuhkan."
Pramana duduk tersenyum diatas tempat tidur melihat istrinya berganti pakaian. Lalu mereka memesan sarapan di penginapan itu dan berangkat menuju pasar.
Pramana mana sangat senang hari ini karena semua masalah mereka sudah selesai. Ia sangat senang dengan ketulusan hati Maya yang sudah mau memaafkannya. Meski itu dengan susah payah ia lalui demi istrinya tercinta.
Pramana berjanji dalam hatinya akan selalu membahagiakan istrinya. Karena dengan banyaknya cobaan yang telah dilalui Maya menjadikan ia wanita lemah yang kuat dan Pramana tahu itu.
"Sayang... Apa kau sudah bersedia untuk tinggal dirumah kita.?" Pramana tersenyum menatap Maya.
"Untuk sekarang ini aku sangat senang tinggal di rumahmu, karena orang-orang di kampung itu sangat baik. Apakah boleh jika kita tidak usah pindah?" Jelas Maya sesekali menoleh pada Pramana.
"Tapi Maya... aku ingin membawamu ke rumah yang lebih layak aku sudah mempunyai sebuah rumah, kau tidak akan tinggal dengan ibuku dan adikku. Kita akan tinggal berdua saja dan anak-anak kita kelak." Imbuh Pramana meyakinkan istrinya.
__ADS_1
"Dan janjimu mengenai bertemu dengan ibu dan adikmu bagaimana? apakah kau melupakan itu?"
Maya teringat tentang Pramana yang berjanji untuk mempertemukan mereka. Maya merasa setelah masalah selesai tidak ada salahnya bertemu dengan ibu mertua dan adik iparnya.
"Aku akan temui ibu dulu. Karna ibu masih belum mengetahui pernikahan kita."
"Dan bagaimana dengan Lana?" Maya memperhatikan suaminya.
"Lana... Dia sudah mengerti."
Maya mendengarkannya dengan senang hati. Jadi tak ada lagi yang patut diresahkan.
Pramana berdecak saat melihat ponselnya berdering. Dan itu adalah Lana.
Baru saja dibicarakan, kau sudah menghubungi ku.
"Kenapa hanya dilihat saja. Angkatlah .. siapa tau penting" Pramana mengangguk dan memencet tombol hijau.
"Ya...."
"Pram.. aku ingin bertemu dengan mu. Sebentar saja."
"Maaf Lana aku sedang bersama istriku.." pramana menoleh kearah Maya.
"Aku akan pergi ke kanada malam ini Pram .. temui aku sekali saja untuk yang terakhir kalinya."
Maya yang memperhatikan Pramana sejak tadi. Mengangguk memberikan izin, karna suara Lana begitu lantang terdengar dari ponsel Pramana.
"Baiklah .. dimana?" Pramana terpaksa menyanggupi permintaan Lana dengan malas atas izin dari istrinya.
"Aku akan kirim alamatnya.."
Pramana langsung mematikan ponselnya. Ia menggenggam jemari Maya dan mengecupnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung