
"Jadi mbak sudah menikah?"
Romi nampak tersenyum. Ia kembali senang karna kakaknya masih diberikan kesempatan untuk hidup bahagia. Dengan pria yang mau menerima Maya apa adanya.
"Ya begitulah... mbak tidak mengira.. dia akan begitu mencintai mbak. Dia baik sekali."
"Eheeem... " Maya memerah karna memuji suaminya didepan Romi.
"Aku sangat senang mendengarnya mbak. Dan mbak tau? Hukuman ku tinggal 19'bulan lagi. Dan aku akan bebas." Romi sumringah membertahukan Maya.
"Bagaimana bisa Romi? Mbak sangat senang mendengarnya." Maya berkaca kaca.
"Mona... dia yang mengatur semuanya. Dengan bantuan beberapa orang pengacara akhirnya hukuman ku bisa berkurang."
Romi terlihat sangat senang memberikan kabar bahagia untuk kakaknya.
"Syukurlah... dia memang wanita yang baik untuk mu. Selamat atas pernikahan kalian." Maya menyentuh tangan Romi yang masih terborgol.
"Bawa suami mbak kesini, aku ingin menemui nya."
Romi telah menghabiskan makanannya. Ia lega kakaknya sudah dapat hidup biasa dan bahagia, tanpa bayang bayang orang yang melecehkannya.
"Saudara Romi waktu anda telah habis.."
Petugas mendekati kedua saudara itu. Dengan berat hati Maya melepas kepergian adiknya kembali masuk ke sel tahanan.
__ADS_1
Kini langkah kakinya berjalan menuju pasar, mencari kain yang bagus untuk beberapa helai pesanannya. Juga membeli beberapa keperluan rumah tangga. Maya pulang dengan taksi kerumah nya dengan membawa banyak barang.
...***...
"Mas.. Ray?"
"Mona..."
Ray dan Pramana berdiri. Mona senang melihat saudara nya datang. Dan mereka masuk kedalam rumah.
"Benar ini rumah keluarga Maya?"
Pramana melancarkan pertanyaan saat Mona datang dengan asisten rumah tangga membawa minum dan camilan, untuk disuguhkan pada tamunya.
"Dia Pramana Dewanto. Suami Maya. Dia juga teman ku." Ray memberikan penjelasan pada Mona agar dia tak canggung.
"Suami mbak Maya... jadi mbak Maya baik baik saja, dan sudah menikah. Syukurlah...
Silahkan diminum mas... mas Ray.."
Mona mempersilahkan tamunya untuk menyicipi hidangan yang ia suguhkan.
"Benar, ini rumah orang tua mbak Maya dan Romi suamiku. Setelah mendapat pembagian harta warisan dengan mas Ray, aku merenovasi rumah ini. Hingga seperti ini."
Mona tersenyum melihat kearah Pramana. Ia sudah terlihat begitu dewasa dan menjadi wanita yang kuat.
__ADS_1
Padahal umurnya masih akan menginjak 18 tahun. Pelajaran hidup membuat ia mandiri. Setelah ditinggal kedua orang tuanya.
Mona lebih bersemangat lagi mengurus segala sesuatunya. Ia belajar dari Maya. Apalagi sekarang, pria yang sangat ia gila gilai sejak dulu telah menjadi suaminya. Yakni Romi.
"Lain kali aku akan bawa Maya kesini."
Dia gadis yang baik... dengan apa yang telah terjadi dengan ayah nya. Dia lebih memilih tinggal dikediaman Maya. Bagi ku ini sudah menunjukan jika Maya tak bersalah.
Pramana tersenyum melihat Ray dan Mona berbincang. Tanpa ia sadari Mona sudah membuka sedikit lembaran lama mereka.
"Mas... pasti tak menyangka dengan keadaan ku sekarang bukan?" Mona menatap Ray dan Pramana secara bergantian.
"Aku datang bersama Pramana bukan hanya ingin bertamu Mona. Tapi juga ingin mengetahui kebenaran kisah Maya dan Romi. Kau tentu lebih tau.. Dan dia.. ( Ray menunjuk Pramana) hanya ingin memastikan. Karna ini juga berpengaruh pada ku."
Mona menatap Ray, mengerti dengan arah pembicaraan saudara nya. Ia meminum secangkir teh dihadapannya. Kemudian membetulkan duduknya lagi.
"Awalnya aku juga tak tau mas, tapi mbak Maya bilang... bahwa ayah kita dan paman Tono melecehkannya diwarung bakso mbak Maya.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1