
Mata indah itu mengerjap dan terbuka, tangan nya memegang kepalanya yang terasa pusing. Sekilas nampak seorang yang sudah tak asing lagi menatapnya dengan pandangan cemas.
Maya memberikan senyuman pada Pramana, ia ingat sesuatu telah terjadi padanya.
"Sayang... Kau merasa baikan?"
"Ya... Hanya kepala ku terasa pusing." Jawab Maya lirih.
Tubuhnya terasa lemah, matanya sendu memandang Pramana yang mungkin sejak tadi disini menemaninya.
"Tadi aku memanggil dokter untuk memeriksa mu.. dan dia menyarankan untuk membawamu kerumah sakit."
Pramana berharap Maya mau menuruti perkataan dokter Alisa. Ia tak ingin terjadi apa apa pada wanitanya.
"Aku sudah baikan mas.." bantah Maya.
"Tapi Maya .. Alisa yang menyuruh mu untuk diperiksa dirumah sakit."
Jelas Pramana berharap Maya kali ini mau mendengarkan perkataan nya.
"Tidak usah... Mungkin aku hanya kelelahan."
Pramana geram menghadapi Maya yang keras kepala. Ia berdiri mencoba meredakan kekesalannya.
"Mas marah?" Tanya Maya dengan mimik takut.
"Ya..." Jawab Pramana singkat.
"Aku sudah tak apa apa... Aku sehat sehat saja kok." Maya masih keras kepala.
"Kenapa kau begitu keras kepala Maya??
__ADS_1
Jika seorang Dokter menyuruh mu untuk diperiksa lebih lanjut... Kau masih mengabaikan itu?" Suara Pramana terdengar agak meninggi.
"Mas..."
"Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu? Dan bagaimana kau menghadapi pelakor itu kelak jika kau sungguh dalam keadaan sakit?"
Pramana menatap wajah cantik istrinya dengan menahan amarah. Maya memang keras kepala, tapi bukan berarti ia mengabaikan perkataan suaminya. Ia harus tetap menjadi istri yang patuh selagi itu dijalan kebaikan.
"Maafkan aku..."
Maya menunduk pasrah. Ia merasa bersalah karna sudah membuat Pramana kesal. Ia tau suaminya saat ini menahan amarah, sangat jelas dari nada bicaranya yang geram.
"Besok pagi kita akan pergi kerumah sakit. Menemui Dokter Asti yang direkomendasikan oleh Dokter Alisa. Ku mohon... Jangan membantah lagi. Ini demi kebaikan mu"
Pramana tetap berdiri menetralisir kan pikirannya agar kembali biasa. Kemudian ia duduk disebelah Maya yang masih menunduk.
"Sayang... Maafkan aku"
"Ini salahku .. aku terlalu keras kepala."
"Ya... Aku bisa." Jawab Maya dengan nada rasa bersalahnya.
"Baiklah... Aku memegangi mu.."
"Hoeek .. hoeeek..."
Maya terlihat mual, Tapi tak mengeluarkan apa apa.
Ia semakin cemas dengan apa yang dikatakan Pramana tadi.
"Kau terlalu masuk angin sayang..." Duga Pramana sambil memapah Maya sampai keruang kantornya.
__ADS_1
"Mungkin mas... Apa sebaiknya sekarang saja kerumah sakit? Sekarang masih pukul tiga lewat." Pinta Maya.
"Baiklah... Ayo."
Pramana keluar butik Maya dengan merangkul istrinya yang sedang lemah. Sebelumnya ia telah menitipkan butik pada Mulyani dan Trisno yang batu datang mengantar berkas yang dimintanya.
"Apa Nyonya Maya sakit?" Tanya Trisno menatap kepergian atasannya.
"Ya... Tadi sempat pingsan.." jawab Mulyani yang juga sedang berdiri disebelah Trisno.
"Yani... Apa kau ada acara malam ini?" Tanya Trisno malu malu.
"Kenapa?"
Mulyani merasa heran. Karna Trisno kembali mengajak nya. Padahal sudah sering ditolak Mulyani, tetapi ia tak jua jera.
"Aku ingin mengajak mu makan malam..."
Trisno berharap kali ini Mulyani mau menerima ajakannya. Jika tidak ia bersumpah akan menjauhi Mulyani. Dan mendekati wanita lainnya.
"Tapi.. sepertinya aku akan pulang telat hari ini. Karna tugas mbak Maya aku yang mengerjakannya. Mungkin untuk hari ini." Mulyani menatap Trisno serius.
"Apa kah kau menerima ajakan ku sekarang? Kalau begitu tak masalah... Aku akan menunggumu. Lalu kita langsung pergi untuk makan malam." Trisno lagi lagi berharap Mulyani mau.
"Baiklah.. jika mas tak keberatan.. aku masuk duluan ya .."
Mata Trisno berbinar binar melihat Mulyani yang tersenyum padanya. Juga menerima tawarannya untuk pergi dengan nya kali ini. Mungkin ini sebuah kencan, entah apa yang sedang direncanakan Trisno.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.