
"Maya..."
Lana yang baru sampai dirumah sakit melihat Maya keluar dari ruangan pemeriksaan. Ia langsung menghampiri Maya dan memeluknya.
"Lana... Billy sudah tak bersama ku lagi..." Tangisan Maya pecah dalam pelukan Lana.
Tubuhnya melorot dan jatuh, lagi lagi Maya kehilangan kesadarannya. Lana berusaha menegakan kepala Maya.
"Sabarlah Maya... Aku turut berduka untuk mu. Serahkan semua kepada Tuhan..." Ujar Lana memeluk kepala Maya.
"Sayang..."
Ray menyapa Lana yang terlihat menangis sedang memeluk Maya.
"Maya pingsan mas... Bawa dia."
Romi dan Ray mengangkat Maya kembali keruangan tempat ia diperiksa tadi.
"Romi, Mona. Kalian pulanglah kerumah Maya. Dan urus segala sesuatu nya. Aku dan Lana akan disini hingga Maya sadar. Dan membawa Billy pulang." Tegas Ray pada Romi.
"Kak... Apa sebaiknya ibu dibawa pulang saja. Beliau sudah sadar dan masih menangis." Tanya Laura pada Ray.
"Ya kalian pulanglah... Biar aku disini bersama Lana." Jawab Ray.
"Terima kasih mas... " Ucap Romi menepuk lengan Ray.
"Kita keluarga Romi... Jangan menganggap seperti orang lain lagi." Ray membalas tepukan nya pada pundak Romi.
"Kami pamit dulu ya mas, mbak..." Ucap Mona.
Mereka pulang kerumah Maya, menyiapkan segala sesuatunya. Romi membantu mendorong Linda dengan kursi roda.
__ADS_1
Wanita paruh baya tersebut, sempat menanyakan keadaan Maya. Dengan sabar Romi menjawab baik baik saja. Karna tak ingin mertua kakaknya lebih bersedih lagi.
Ray dan Lana duduk didepan ruangan pemeriksaan Pramana. Tanpa ada ucapan dari keduanya. Suasana duka sedang menyelimuti hati mereka.
"Keluarga pasien Pramana..." Tanya seorang perawat yang keluar dari ruangan pemeriksaan Pramana. Lalu seorang Dokter keluar dari pintu.
"Kami keluarga nya Dokter." Ray menghampiri Dokter yang keluar.
"Pasien sudah melewati masa kritisnya. Akan segera dipindahkan keruang perawatan. Beruntung pendarahan dikepalanya tidak begitu serius." Jelas Dokter yang menangani Pramana.
"Syukurlah tidak ada yang parah... setelah sadar dia akan sedih karna Putra nya baru saja meninggal." Jawab Lana
"Kapan Dewa akan sadar Dokter?" Tanya Ray.
"Bagaimana tubuhnya merespon nanti. Kalau perkiraan kami sekitar 4 atau 5 hari pasien sudah siuman. Dan pasien saat ini diperban bagian matanya. Karna banyak luka dibagian sana. Untuk sementara ditutup untuk menormalkan kembali penglihatan nya.
Kepala pasien terbentur keras. Semoga penglihatan beliau tidak terganggu, nanti akan dilakukan pemeriksaan ulang setelah pasien sadar.."
Ray dan Lana berjalan masuk keruangan Pramana. Mereka melihat para perawat sedang bersiap siap akan memindahkan Pramana keruang perawatan.
"Kasihan Mereka .. mereka kehilangan anak, Maya sendirian dengan suami yang masih koma." Lirih Lana menyandarkan kepalanya dibahu Ray.
"Sebaiknya kau lihat keadaan Maya... Aku akan mengantar Dewa sampai keruangannya.
Jangan ikut bersedih .. semua sudah ditentukan oleh yang diatas sayang .. "
Ray mengecup kening Lana dan menatap nya sekilas. Lalu mereka memperhatikan Dewa lagi.
Kondisi Pramana saat ini memprihatinkan. Namun Ray berdoa dan berharap ia segera sadar, untuk sama sama menguatkan diri bersama Maya atas kehilangan anak mereka.
__ADS_1
Sementara itu Lana membantu Maya yang sudah siuman. Ia mengajak Maya untuk melihat keadaan Pramana terlebih dahulu.
Ray membantu Lana mendorong kursi roda Maya. Dan membawa istri Pramana Dewanto itu keruangan rawat suaminya.
"Mas..."
Maya terkejut melihat keadaan Pramana. Ia melihat kearah Ray dan Lana. Lagi, air matanya menetes tiada henti.
"Kau tenang saja Maya. Aku sudah bicara dengan Dokter yang menanganinya. Dia bilang kondisi Dewa sudah stabil. Hanya menunggu dia siuman saja. Paling lama sekitar 5 hari." Jelas Ray
"Tapi kenapa mata nya ditutupi seperti itu Ray? Apakah mas Pram...." Tanya Maya lalu menghentikan kalimatnya.
"Kepala Dewa terbentur keras, Dokter hanya menutup sementara agar cara kerja mata nya tak terganggu. Nanti akan diperiksa ulang setelah Dewa sadar." Jelas Ray lagi, menirukan perkataan Dokter yang ditemuinya.
"Terimakasih, kalian sudah disini. Jika tidak... Aku tak tau lagi harus berbuat apa..." Tangis Maya terisak isak.
Ia menatap Ray dengan wajah sendu.
"Maya... Kita ini keluarga, bukan orang lain lagi... Hentikan basa basimu..." Lana memeluk Maya dari belakang. Dan membelai lengannya.
"Terimakasih Lana... Bagaimana dengan Billy?"
.
.
.
__ADS_1