ROMAYA

ROMAYA
Menemui Mona


__ADS_3

"Aku mau bicara!" Maya langsung menukar ekspresi wajahnya dengan mode jutek.


"Bicara lah.. istriku yang cantik.." Pramana memangku tangannya dengan bersandar ditepi ambang pintu kamar mereka.


"Kau yang menyuruh seseorang untuk menakut nakuti ku semalam mas?"


Pramana kaget ia menurunkan kedua tangannya. Memalingkan wajahnya memghindari tatapan tajam istrinya.


Gawat.. bagaimana bisa ia tau? Apa krisno lewat kesini? Dia bongkar semua rencanaku? Tak bisa dipercaya...


"Kenapa diam? Aku sudah bisa menebaknya."


Maya kembali lagi keluar menyelesaikan kegiatan menyapu halamannya. Sementara Pramana hendak keluar tapi ia masuk lagi kekamar bergegas mengganti pakaian.


"Sayang... kenapa bisa kau tuduh aku?" Pramana melihat keluar lewat jendela kamar mereka. Sementara Maya tetap diam. Ia fokus bekerja.


Aduh... kenapa malah makin runyam begini urusannya. Lebih baik aku bersiap siap... segera menuntaskan masalah ini.


Pramana tak lagi memikirkan rencananya yang diketahui oleh Maya. Ia lebih memikirkan hal yang bisa membuat ia dan Maya tidak bercerai.


Setelah sarapan pagi, Pramana berangkat kekantor Rayyan. Ia menunda segala pekerjaan nya dalam dua hari ini.


"Ray, dimana kau?"


"Aku dikantor.. ada apa?"


"Kita bertemu di kampung ayah mu... aku sedang diperjalanan."

__ADS_1


"Tapi Dewa..."


"Ray tolonglah... ini menyangkut masa depanku... cepatlah berangkat"


"Dasar aneh... apa kau serius mau mempertahankan wanita itu? Sepertinya dia sangat penting bagimu, dari pada pekerjaan ku."


"Kau sendiri yang membuat ku masuk dalam permainan mu Ray. Jika kau tak datang, perjanjian kita batal"


"Hei... mana bisa begitu...Dewa... Dewa..."


Ray kesal karna Pramana telah memutuskan sambungan telepon sebelum ia bisa menjawab ucapan Pramana. Bergegas Ray mengambil kunci mobilnya dan melesat ke tempat yang dimaksud Pramana.


"Kau tau... aku meninggalkan bayak pekerjaan penting dikantor."


Ray langsung menggerutu melihat Pramana yang sudah berdiri didepan mobilnya.


"Dengar Ray... aku pun begitu. Tak hanya meninggalkan orang tua dan pekerjaan ku tapi juga Lana. Dan ini semua karna mengharap kerja sama dengan mu. Teman macam apa kau?"


"Hei... jangan terlalu serius bro... aku hanya bercanda."


Ray menepuk nepuk pundak Pramana. Ia mengerti perasaan pria yang begitu serius dihadapannya. Jika Pramana berbalik menyerang Ray dengan kata kata, ia takan mampu menjawab.


"Seharusnya kau yang lebih antusias menyelesaikan masalah ini dibanding aku. Aku hanya ingin membersihkan nama Maya dan adiknya dimata orang banyak.


Pramana menataa Ray sekilas lalu berjalan kedepan meninggal kan Ray.


"Hei... kau mau kemana?" Ray mengikuti Pramana dari belakang.

__ADS_1


Sial.. kenapa malah aku sekarang menuruti nya. Apa kah aura ketegasan dan dingin ku sudah memudar?


Kedua pria itu memasuki kampung tempat Maya dan Romi lahir dan dibesarkan. Memasuki sebuah mini market mencari keberadaan Mona, adik seayah dengan Ray.


Setelah mendapat petunjuk, ternyata Mona tinggal dirumah Maya. Dengan perasaan heran, Ray dan Pramana berniat untuk segera menemuinya.


"Selamat siang ..."


"Selamat siang..."


Dua kali Raya dan Pramana mengetuk pintu rumah Mona. Orang yang dipanggil tidak menyahut apalagi membuka pintu.


"Mungkin tidak ada dirumah..." Pramana berbisik pada Ray.


"Kau dengar sendiri bukan karyawan toko nya bilang dirumah. Tunggu saja.."


Mereka berdua duduk dikursi rotan yang sengaja diletakan Mona diluar.


Jadi ini adalah rumah istriku dan adiknya. Dia pasti senang jika aku bisa bercerita tentang keadaan rumanhya sekarang.


Tiba tiba pintu terbuka dari dalam. Mona keluar melihat siapa tamu yang datang mengunjunginya.


"Mas Ray...."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2