ROMAYA

ROMAYA
Belum terbiasa


__ADS_3

"Disini Tuan. Saya hanya meletakan 4 buah mesin jahit lengkap. Disebelah kiri ada 2 toilet."


Direktur utama itu mengangguk angguk. Ia kemudian mengajak Maya keluar dari ruangan produksi. Berdiri ditengan ruangan utama.


"Sayang... Ini butik mu... Aku hadiahkan untuk mu. Semoga kau suka ya...


Dan... Trisno dimana semua pakaiannya.?"


Trisno langsung memanggil dua orang yang telah membawa pakaian yang telah dijahit Maya.


Ingin rasanya Maya melompat sekarang ini. Ia sangat bahagia. Ternyata ini kejutan yang akan diberikan Pramana padanya.


"Mul? Mas.. kenapa gadis itu juga disini...?"


Selidik Maya setelah melihat Mul yang masuk membawa pakaian Maya.


"Aku yang menyuruh orang untuk menghubungi nya. Juga membawa semua hasil jahitan mu.


Sayang... Apa kau senang?"


"Terimakasih suamiku.. aku sangat senang. "


Maya memeluk Pramana sambil menyeka air mata yang jatuh dari matanya.


"Hei jangan menangis .. disini kau bebas berkarya..."


"Iya mas .."


"Pak Gun terimakasih bantuannya. Kalian pasti susah payah menyiapkan semua ini mendadak. Akan ada bonus untuk kalian semua yang berada disini. Hubungi saja Trisno sekretaris ku."

__ADS_1


Pramana memberikan hadiah untuk karyawannya yang telah memenuhi semua keinginan nya dalam satu hari. Mereka semua pun tersenyum bahagia mendengar penuturan Pramana.


Mereka keluar dari butik Maya. Karna merasa telah selesai dengan semua. Sementara Trisno dan Mulyani karyawan pertama Maya masih disana menemani mereka.


"Sayang... Ayo kita temui ibu. Untuk sementara biar Mul menyiapkan ini dan Trisno akan membantu. Terserah pada mu akan buka kapan butik ini. Kita akan adakan launching nya."


"Sebentar mas aku akan temui Mul dulu."


Pramana pun memanggil Trisno untuk mendekati nya. Sementara Maya menghampiri Mulyani.


"Selamat ya mbak... Aku senang bisa kerja disini. Pakai seragam seperti ini juga... Sudah seperti pramugari.."


Mulyani memberikan semangat pada Maya dan memeluknya.


"Makasi ya Mul.. aku juga tak menyangka. Sementara sampai waktu launching kau bisa mengolah tempat ini? Jika ada yang kurang katakan saja pada Trisno. Aku harus menemui mertua ku dulu."


"Siap boss .. aku akan memberikan yang terbaik untuk butik ini."


Maya pun menghampiri Pramana yang sedang bicara dengan Trisno.


"Trisno... Sebelumnya terimakasih sudah mau membantu disini. Tadi saya pesan sama Mulyani..."


"Aku sudah memberitahu Trisno sayang .. tenang saja. Aku yakin mereka akan memberikan yang terbaik untuk mu."


Ucapan Maya langsung dipotong oleh Pramana. Dan ia tersenyum mendengar perkataan suaminya.


Mereka meninggalkan kedua karyawan itu. Kembali keruangan Pramana.


"Kau ingin melihat ruangan ku?"

__ADS_1


"Tentu saja Mas..."


Mereka berjalan kearah lift dan masuk kedalamnya. Maya sedikit memeluk Pramana. Mungkin ini kali pertama nya memasuki ruangan kecil seperti lemari yang berjalan naik dan turun.


"Maaf... Aku belum terbiasa .."


Wajah Maya memerah, ia malu dengan suaminya. Tak dipungkirinya lagi jika ia memiliki suami yang seorang pengusaha sukses dan kaya raya.


"Aku akan menemani mu saat naik lift..."


"Kenapa?"


"Agar kau terus memelukku.."


Wajah Maya kembali memerah, ia tau jika Pramana tak ingin membuatnya merasa semakin malu. Pria itu mengalihkan pembicaraan agar Maya sedikit lebih santai. Lalu mengecup kening istrinya.


Setelah keluar dari lift mereka memasuki sebuah ruangan yang diduga itu ruangan Pramana.


"Silahkan sayang..."


Maya masuk kedalam. Dan ternyata sudah ada seorang wanita paruh baya dan wanita muda disana. Mereka berdiri dan tersenyum menyambut kedatangan Maya.


"Sayang... Dia ibu dan adikku ..."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2