ROMAYA

ROMAYA
Kepulangan buah hati


__ADS_3

"Tapi kenapa mata nya ditutupi seperti itu Ray? Apakah mas Pram...." Tanya Maya lalu menghentikan kalimatnya.


"Kepala Dewa terbentur keras, Dokter hanya menutup sementara agar cara kerja mata nya tak terganggu. Nanti akan diperiksa ulang setelah Dewa sadar." Jelas Ray lagi, menirukan perkataan Dokter yang ditemuinya.


"Terimakasih, kalian sudah disini. Jika tidak... Aku tak tau lagi harus berbuat apa..." Tangis Maya terisak isak.


Ia menatap Ray dengan wajah sendu.


"Maya... Kita ini keluarga, bukan orang lain lagi... Hentikan basa basimu..." Lana memeluk Maya dari belakang. Dan membelai lengannya.


"Terimakasih Lana... Bagaimana dengan Billy?" Air mata Maya kembali menetes, menyebut nama anaknya.


"Biar aku yang mengurus. Setelah semua selesai kita akan segera membawa Billy. Maya... Belajarlah ikhlas dari sekarang. Billy tak lagi bersama kita. Lanjutkan hidupmu dengan baik bersama Dewa. Sebentar lagi dia pasti akan sembuh." Ujar Rayyan memberikan energi pada Maya.


"Terimakasih .. aku akan berusaha.." jawab Maya singkat.


Ia mendekati Pramana dan mengecup kening suaminya tanpa berkata apa apa.


"Ayo kita pulang .." ajak Maya sambil memutar roda kursi rodanya sendiri.


Melihat hal itu Lana dengan cepat membantu Maya keluar dari ruangan Pramana.


"Dia bahkan tak berbicara padamu Dewa, cepatlah sadar... Temani istrimu menghadapi duka yang sedang ia alami. Dewa, kau pria yang kuat. Berikan yang terbaik bagi tubuhmu. Jika tidak aku akan menghajar mu." Ray mengusap pelan kepala Pramana.


Ia menatap lekat lekat wajah sahabatnya yang terlihat kaku dan pucat.


"Kau sangat tampan, pantas saja istriku dulu tergila gila padamu. Baiklah... Aku akan membantu pemakaman putra mu. Cepatlah bangun Dewa..." .


Rayyan keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya. Lana dan Maya menunggu nya diluar.


Setelah beberapa jam, akhirnya Billy dapat dibawa pulang. Ray dan Lana mengajak Maya bersama nya dalam satu mobil. Namun Maya bersikeras ingin menemani Billy di mobil ambulans. Akhir nya Ray tak bisa berbuat apa apa.


"Ingat Maya .. jaga dirimu.." ingat Ray pada Maya saat mengantarnya naik kedalam mobil ambulans.


"Apa kau yakin mas, membiarkan dia sendirian disana?" Tanya Lana setelah mobil mereka berjalan mengikuti ambulans.

__ADS_1


"Kita tak bisa melarangnya. Biarkan saja, ini hal terakhir kali yang ia lakukan pada Billy." Tutur Ray pada istrinya.


"Kau benar, aku berharap Maya akan lebih tegar. Apakah masih sempat pemakaman nya hari ini mas?"


Lana melihat jam tangannya yang sudah lewat pukul 2 siang.


"Sempat sayang, Billy masih bayi. Tak memerlukan waktu yang lama untuk mengurusnya."


Mobil ambulans melaju dengan sangat cepat setelah keluar dari rumah sakit. Raungan nya membuat mobil mobil lain menghindar untuk memberi jalan. Rayyan mengikuti dari belakang, menyamakan dengan kecepatan mobil ambulans dibelakangnya.


"Sayang.. mama disini nak. Mama akan antar kamu sampai ketempat peristirahatan terakhirmu. Tunggu mama disyurga ya sayang..." Gumam Maya sambil memegang peti mati kecil didepannya.


Air mata yang terus mengalir, tak terasa lagi diwajahnya. Betapa kesedihan ini sangat mendalam ia rasakan tanpa ada Pramana disisinya.


Kata kata penyemangat yang selalu Ray dan Lana tuturkan, masih terngiang ditelinga Maya. Seketika ia berpikir untuk tetap tegar, masih ada seorang yang menyayanginya, menunggunya karna membutuhkan Maya.


Tak lama Ambulans Sampai kekediaman Maya. Banyak tetangga yang sudah berdatangan. Romi dan Mona segera keluar menyambut Billy kecil yang kaku didalam peti.


Sementara Linda ditemani Laura duduk diatas sofa . Ia masih tak bisa menerima bahwa cucunya telah lebih dulu pergi meninggalkan dunia ini.


"Apakah itu Billy Laura?" Tanya Linda mencoba mendongakan kepalanya kearah pintu keluar.


Maafkan aku bicara seperti ini." Bisik Laura pada Linda.


Linda hanya mengangguk mengerti. Masih duduk ditempat karna tak kuat dengan kondisi tubuhnya yang masih pusing jika ia berdiri dan berjalan.


Maya nampak turun dari ambulans. Ia langsung masuk kedalam kamar. Mengganti baju karakter ratu yang bersimbah darah.


Rayyan membantu membawa masuk peti Billy kedalam rumah yang sudah beralas karpet.


Maya keluar dengan pakaian serba hitamnya. Ia melilitkan kerudung kepalanya. Mendekati peti yang sedang dibuka oleh security.


Billy...


Sayang ku.. anakku...

__ADS_1


Mama ikhlas melepaskan mu nak..


Lihatlah mama tersenyum..


Maya sengaja tersenyum menyambut Billy yang diletakan diatas kasur. Namun air matanya tetap mengalir deras. Ia tak menyadari itu.


"Sayang .. mama akan mandikan kamu sayang. Dan memakaikan baju terbaik mu untuk menemui Tuhan. "


Semua yang berada disana terlihat menangis mendengar Maya bicara pada jasad putranya.


"Lihatlah sayang... Mama takan menangis lagi.. mama takan menangis..."


Ucap Maya sambil menguatkan dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi. Ia memberikan perintah pada kepala hatinya agar berjalan bersama. Namun air mata nya yang tak bisa diajak negosiasi selalu mengalir.


Lana memeluk Maya dari samping. Ia terisak, namun mencoba kuat dihadapan sahabatnya itu.


.


.


.



Hi pembaca setiakuh ..


Author udah ga sabar buat ngasih karya buat kalian. Alhamdulillah.. sekarang keadaan ku sudah mulai membaik.


dan cerita yang terakhir ditulis kemaren.. aku up hari ini aja. kebetulan baru terbangun dari tidur di jam segini.


Makasi buat kalian yang doakan Author... semoga Allah balas dengan semua kebaikan didunia dan akhirat aamiin.


Jangan lelah buat ngasih like and vote ya...


juga komentar menarik kalian... 🥰😍

__ADS_1


salam cintoh


calisa ardi.


__ADS_2