ROMAYA

ROMAYA
Yang ditakutkan terjadi


__ADS_3

"Benar Dewa... Tapi kehidupan itu hanya berlaku untukmu. Bukan Billy." Jawab Ray mencoba memberi tau sesuatu.


"Apa maksud perkataan mu Ray?" Pramana menatap tajam Ray. Ia merasa bingung dengan ucapan sahabatnya.


"Dewa... Maafkan aku... Seharusnya Maya yang memberi taukan hal ini padamu." Ray lagi lagi membuat Pramana penasaran.


"Jelaskan dengan baik Ray. Jangan bertele tele." Sarkas Pramana.


"Karena peristiwa ini, Billy tak tertolong Dewa... Putra kalian telah tiada." Ray sengaja berhenti disana. Karna Pramana menggelengkan kepalanya tanda tak percaya.


"Ahahaha... Ray, kau jangan bercanda. Kau lihat Billy? Dia sangat sehat. Bagaimana mungkin..."


"Itu kenyataan nya Dewa..."


"Lalu... Selama ini Billy yang bersama ku, makhluk tak kasat mata?" Tanya Pramana merasa dipermainkan.


"Dia Robi... Aku mencari nya bersama Romi. Aku yang membawanya kehadapan Maya. Saat itu istrimu sangat stress menghadapi kenyataan kematian Billy. Dan kau masih terbaring tak sadarkan diri dirumah sakit." Jelas Ray.


"Benarkah itu terjadi?" Tanya Pramana dengan mata yang berkaca kaca.


Hatinya begitu remuk, putra kandung yang sangat mereka sayangi menjadi korban pembunuhan dari seorang wanita yang tergila gila padanya.


"Maafkan aku Dewa, aku dan Romi saat itu tak tau harus berbuat apa. Maya hampir gila. Bahkan pakaian Billy selalu ia ajak bicara. Setelah mendapatkan persetujuan dari ibu dan Laura juga, aku dan Romi berangkat berhari hari, mencari seorang bocah yang sedikit mirip dengan Billy kalian." Jelas Ray lagi.

__ADS_1


"Maya... Maafkan aku. Begitu berat kenyataan yang kau hadapi selama aku tak sadarkan diri sayang..."


Pramana mengusap air matanya, ia merenungi atau mungkin mengingat peristiwa yang bisa mengambil nyawa putra mereka.


"Beruntung kami menemukan Robi... Dia sangat merindukan sosok ibu. Saat bertemu dengan Maya, mereka seperti anak dan ibu yang terpisah lama.


Kau lihat saja sekarang, dia bahkan hanya tau kau sebagai ayahnya. Dan kami mengadopsinya dengan banyak perjuangan Dewa. Karna pemilik panti yang sangat menyayanginya."


Pramana menangis sesegukan mendengar cerita Ray. Berulang kali ia meraup wajahnya kasar. Dan memukul pahanya.


Melihat Ray disampingnya yang sudah sangat banyak berjasa bagi keluarga mereka.


"Antar aku ke makam putra ku Ray..." Ajak Pramana setelah hatinya sedikit tenang.


"Apa kau benar benar ingin kesana?" Tanya Ray terlihat ragu untuk membawa Pramana kemakam Billy.


Dengan mantap Ray melajukan mobilnya, ketempat peristirahatan terakhir putra tampan Pramana dan Maya.


Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan diantara mereka. Hanya deru nafas tak sabar dari mereka yang terdengar samar.


Raisa ... Kau harus mati!!


Nyawa dibayar nyawa...

__ADS_1


Tangan Pramana terlihat mengepal. Ia sedang dikuasai amarah dan kemurkaan seorang ayah yang telah kehilangan putra yang sangat lama ia nantikan bersama Maya.


Pramana mengambil ponselnya, dan mengirim pesan kepada orang suruhannya untuk mencari keberadaan Raisa dan langsung melenyapkannya.


Tak lama mereka tiba di TPU umum Dahlia. Ray menggiring Pramana hingga kehadapan makam Billy.


Pramana sempat terpaku, melihat nama putra yang sangat ia sayangi tersemat diatas papan nisan. Dan ada namanya juga disana.


Dia terduduk ditepi pembaringan akhir Billy. Air mata nya menetes. Seakan memeluk Billy, Pramana memeluk makam mini Billy.


"Sayang.. anak ku. Putraku... Putra papa... Kau sekarang sudah disyurga sayang... Maafkan papa yang tak bisa menjaga mu nak...


Maafkan papa baru menyadari kepergian mu Billy .."


Pramana menangis tersedu sedu diatas makam Billy. Tak pernah menyangka, ia akan mengalami hal ini. Semua yang sangat ia takutkan sejak Maya diculik. Dan pelakunya masih dengan orang yang sama.


"Dewa... Tabahkan hatimu..." Ray menepuk pundak temannya dengan rasa haru.


"Aku akan mengejarnya kemana pun ia berada Ray..." Janji Pramana.


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2