
"Ada apa mas?" Tanya Maya seakan mengerti wajah Pramana yang sedang memperhatikan Billy.
"Sayang apa kecelakan itu mengubah sesuatu pada diri Billy? Aku melihat suatu perbedaan dari nya, bahkan suara nya pun terdengar asing." Jelas Pramana.
"Mas, kau ini ada ada saja. Baru saja semalam Dokter mengatakan, semua akan normal lagi Setelah dua hari. Apakah ada Billy lain lagi? Kau kira anak kita kembar?" Celoteh Maya meyakinkan suaminya.
"Maafkan aku... Bagaimana aku bisa meragukan putra ku yang tampan ini..." Pramana kembali memeluk Billy dengan hangat.
Suatu saat kau akan tau mas. Tapi bukan sekarang. Itu bisa memperburuk keadaanmu.. karna aku sudah merasakan kehilangan..
...****...
"Mas? Kau disini?" Sapa Mulyani pada Trisno.
"Aku menunggu Nyonya Maya. Kau sudah sarapan?" Tanya Trisno sambil membelai rambut Yani.
Mereka sudah resmi pacaran. Memasuki fase serius, Trisno lebih terbiasa jika berhadapan dengan kekasihnya itu.
"Sudah, masuk mas... Jangan berdiri diluar."
Trisno masuk kedalam Butik Maya. Ia duduk disofa pengunjung. Memperhatikan sekelilingnya.
"Butik ini tambah maju ya..." Basa basi Trisno memperhatikan Yani memakai kan pakaian baru ke patung untuk dipajang.
"Iya mas... Aku beruntung dapat bekerja disini." Jawab Yani senang.
"Apa kau mau yang seperti ini juga?" Trisno menatap Yani merapatkan bibirnya dan menaikan kedua alisnya. Hingga matanya ikut terangkat keatas.
"Yang seperti ini?" Tanya Yani meyakinkan lagi.
"Benar..." Jawab Trisno santai.
Yani berjalan kehadapan Trisno dan duduk disampingnya. Ia tersenyum ramah pada lelaki pujaannya.
__ADS_1
"Mas .. jika aku sudah menjadi istrimu, kau boleh berikan aku apa saja. Untuk sekarang cukup aku bekerja disini, menunggu kau melamarku."
Yani berdiri dan melanjutkan pekerjaan nya kembali. Ia melirik Trisno yang terlihat dengan wajah merona. Ia ingin tersenyum, namun senyuman itu selalu ditahannya. Trisno seperti malu malu sendiri.
"Lepaskanlah... Jangan ditahan. Nanti pipi mu akan pegal." Ucap Yani tak meliriknya. Namun berhasil mengagetkan Trisno. Dan ia langsung melepaskan tawanya.
"Kau sangat tampan jika tertawa lepas seperti itu mas... Lain kali begini lah. Jangan menahan perasaan mu..." Goda Yani sambil membuka satu pakaian lagi untuk dipasang ke patung.
"Baiklah sayang ..." Trisno hanya menjawab singkat.
Melamar? Apa sebaiknya langsung kutemui saja orang tua nya? Hubungan kami sudah cukup lama. Kurasa akan lebih baik segera dihalalkan. Supaya waktu ku tak terbuang sia sia.
"Jangan berpikiran yang aneh aneh deh..." Tunjuk Yani dengan tangannya.
"Apakah kau punya indra keenam?" Tanya Trisno penuh gurauan pada Yani. Karna selalu bisa menebak isi pikirannya.
"Berarti benar? Apa yang mas pikirkan?" Selidik Yani dengan kelakarnya.
"Aku tertipu..." Trisno menepuk jidatnya.
"Ya Nyonya..." Sapa Trisno ramah.
"Tris... Bisakah kau undur pertemuan kita untuk 3 hari kedepan. Kurasa kau sudah rindu untuk bekerja dengan Tuan mu." Ujar Maya, dari suara nya terdengar nada gembira.
"Apakah Tuan Pramana sudah siuman?" Trisno langsung menebak teka teki simpel yang Maya berikan.
"Semalam... Dan 2 hari sudah dibolehkan pulang. Dan dia sudah tak sabar untuk memeriksa hasil kerjamu Tris..." Terdengar gurauan Maya disana.
Kini istri dari Tuan Pramana atasan Trisno sudah bisa bercanda lagi. Sangat berbeda saat beberapa bulan silam. Semua terlihat horor dan menakutkan.
"Syukurlah Nyonya, saya sangat tak sabar menunggu teguran dari Tuan Pramana." Jawab Pramana dengan hati yang juga gembira.
Sementara itu mendengar kabar gembira ini, Yani juga mendekati Trisno ikut mendengarkan pembicaraan atasan mereka.
__ADS_1
"Trisno, siapkan dirimu... Saat berhadapan dengan ku... Jika ada satu saja kesalahan kau tak akan bisa menikahi Yani..." Terdengar suara Pramana mengancam orang kepercayaan nya itu.
"Tuan... Selamat datang... aku senang Tuan bisa mengancamku lagi."
Trisno memeluk Yani dari samping dan mengecup kepala gadisnya tanpa sadar. Dan tingkah mereka diperhatikan karyawan lain. Karna sebagian dari mereka belum tau tentang hubungan Trisno dan Yani.
Yani langsung memberikan tatapan tajam pada Trisno, setelah mendapati karyawan lainnya menatap mereka.
"Hahah... Trisno. Terimakasih sudah membantu Maya selama aku tidur." Ucapan Pramana kali ini bersungguh sungguh.
"Sudah kewajiban ku Tuan. Anda jangan sungkan." Jawab Trisno sopan.
"Baiklah... Kau akan mendapatkan lebih untuk itu. Aku tutup teleponnya."
Pramana menutup sambungan teleponnya. Trisno sangat senang sekali. Karna bagaimana pun, bekerja dengan Pramana, memberinya hal hal baru untuk dipelajari. Dan mereka sudah lama bersama.
Karna saking senangnya. Ia bahkan memeluk Yani lama. Saat Yani minta dilepaskan. Trisno mengecup bibir Yani sekilas. Lalu melenggang meninggalkan Butik Maya.
"Mas... Kau.."
Yani terdiam memegang bibirnya.
Dasar Pria aneh ..
.
.
.
Jangan lupa dukungan nya untuk Author ya...
__ADS_1
Like, vote, hadiah and koment menarik kalian...😘😍😍