ROMAYA

ROMAYA
Penelpon misterius


__ADS_3

Sisa sisa hujan semalam masih tergenang disetiap jalanan. Udara pagi yang sejuk bertambah dingin. Sepasang suami istri yang sedang berpelukan mesra semakin mengerat kan pelukannya.


Tubuhnya enggan untuk melepaskan pelukannya. Walaupun matahari belum sepenuhnya hadir, Maya yang biasa terbangun pagi juga mengerjapkan matanya.


Melihat kearah jam yang tertempel didinding. Ia melirik sekitar memperhatikan jika pagi ini masih dalam keadaan gelap. Apalagi digiring oleh hujan deras semalam.


Mereka kembali melakukan penyatuan setelah terbangun pukul 1 dini hari. Karna perut yang terus berbunyi meminta diisi Maya terbangun, membuat kan makanan untuk suaminya juga.


Situasi sangat mendukung saat itu. Pramana yang kembali menggebu hasratnya setelah melihat Maya yang mengganti pakaian nya setelah mandi.


Ia kembali mendekati istrinya. Dan mereka kembali memberikan sesuatu yang tak mudah untuk dilupakan. Hati yang dipenuhi gairah bercinta. Karna keduanya saling mencintai.


Maya tersenyum mengingat kejadian semalam. Dia melihat wajah tampan Pramana dengan senyuman manis dibibirnya.


Suamiku ...


Benar benar tampan, tubuhnya juga bagus. Apa dia tak berpikir ketika menikahi ku dulu? Saat itu kan kami belum saling menyukai.


Dengan keadaannya sekarang ini, dia bisa saja memilih wanita cantik dan perawan mana saja.


Tapi pilihan itu jatuh pada ku.


Aku sungguh beruntung, dia juga sangat mencintai ku. Dan yang paling utama dia menerima semua masa laluku.


Maya membelai wajah Pramana. Ia mengelus lembut rambut Pramana yang hitam lebat.


"Sayang... Aku mencintaimu.


Terimakasih karna selalu membuat ku bahagia."


Maya mengecup bibir Pramana yang terlihat menggoda baginya. Saat akan melepas, Pramana malah memperdalam ciuman mereka.


Maya terbelalak dan menepuk nepuk lengan kekar Pramana. Ia menatap suaminya yang nampak tertidur lagi.

__ADS_1


"Dasar mesum .. apa yang kamu lakukan disana mas?"


Maya bermaksud menanyakan tentang mimpi yang Pramana alami. Lalu tertawa sendiri.


"Aku mencintaimu.." Pramana memeluk nya erat dan mengecup kepala istrinya.


"Mas..."


"Hmmm ..." Dengan mata yang masih terpejam.


"Mau mandi?" Tanya Maya.


"Ya..."


"Aku juga mau..." Jawab Maya.


Tiba tiba Pramana berdiri dengan cepat, ia berjalan kekamar mandi menunggu Maya berdiri.


"Apa sayang?


Bukan kah kau juga mau mandi?" Tanya Pramana heran.


"Aku juga mau kekamar mandi, mau buang air. Mas tunggu disini dulu." Sambung Maya menyelesaikan ucapannya.


"Baiklah" Pramana kembali membaringkan tubuhnya keatas kasur.


Maya beranjak dari atas ranjang, ia mengambil sehelai handuk untuk menutupi tubuh polosnya. Dan lansung masuk kekamar mandi.


Pramana yang berencana memejamkan mata, dikejutkan dengan suara ponselnya. Ia menggeser tubuhnya hingga bisa mengambil ponsel diatas nakas.


"Nomor siapa ini?"


Tanpa ragu ia langsung mengangkat panggilan telepon.

__ADS_1


"Hallo..." Sapa Pramana lebih dulu.


"Hi Dewa... Kau masih mengingat ku?" Terdengar suara wanita dari seberang teleponnya.


"Siapa?" Pramana langsung duduk mengernyitkan keningnya bingung.


Apa dia Raisa?


Dalam hatinya bertanya tanya, ia melihat pintu kamar mandi yang sudah terbuka. Bukannya menyembunyikan hal ini dari Maya. Ia malah memanggil Maya dengan memberi gerakan tangan.


Maya yang melihat Pramana serius pun segera duduk dipangkuan suaminya.


"Siapa?" Tanya Maya berbisik.


Pramana menggelengkan kepalanya lalu mengganti mode loud speakers agar istrinya dapat mendengar.


"Dewa apa kau melupakanku?"


Maya melihat kearah suaminya. Raut wajahnya langsung memerah seakan akan marah pada Pramana.


"Jika anda mau bertele tele mungkin ini salah sambung"


Pramana langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia memblokir nomor tersebut dan menghapus dari ponselnya.


"Apa mas benar benar tak kenal dengan pemilik suara tadi?"


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2