ROMAYA

ROMAYA
Mencurigai Romi Fazhilan


__ADS_3

Matahari naik lebih cepat terasa bagi Maya. Mungkin karna ia telat terlelap dimalam hari. Cuaca panas terasa masuk kekamarnya.


Membuka matanya perlahan berharap semua yang ia alami semalam hanya sebuah mimpi buruk. Maya duduk ditepi ranjang. Ia memandang kain jendela mulai ditembus cahaya matahari.


Perlahan ia membuka jendela, angin pagi yang sejuk masuk kedalam kamarnya. Bersamaan dengan suara ketukan dipintu kamarnya.


Maya berjalan kearah pintu. Melihat siapa yang mengetuk pintunya.


"Ada apa bu?" Ternyata ibu Maya berdiri didepan pintunya.


"Kenapa bangun telat sekali? Apa kamu tidak jualan hari ini?" Selidik ibu.


Maya berjalan masuk dan duduk ketepi ranjangnya. Ia menunduk, bingung harus berkata jujur atau mencari alasan lain.


"Maya.. apa kamu sakit? Wajahmu pucat sekali."


Ibu memegang kening Maya. Ia memperhatikan wajah putrinya yang terlihat lelah.


"Ya.. tubuh ku terasa sakit semua bu, mungkin aku kecapean."


"Kalau begitu nanti ibu buatkan jamu biar kamu segar kembali. Badan mu tidak panas. Mungkin memang kecapean."


Ibu berjalan keluar dari kamar Maya. Sementara Maya masih terduduk diam diranjangnya. Menangisi dirinya. Berpikir untuk mengulang kembali waktunya saat suaminya masih ada.


Ia menghapus air matanya yang memenuhi kedua pipinya. Ia bertekad untuk melupakan semua dan memulai hidup baru.


Maya berjalan keluar kamar melihat keluar rumah karna banyak warga yang berlarian.

__ADS_1


"Maaf buk Eti, ini ada apa ya. Kenapa kalian kelihatan cemas.?"


"Itu Maya, juragan Mawarto meninggal dunia. Ia terkena serangan jantung. Anak nya baru tau saat membangunkannya. Sedangkan istrinya masih ada acara dirumah saudaranya." Jelas bu Eti seorang warga yang dipanggil Maya tadi.


"Apa? Pak War meninggal?"


"Iya Maya. Ya sudah saya kesana dulu ya."


Wanita itu berjalan cepat meninggalkan Maya. Ia sendiri masih tak percaya dengan berita yang ia dengar barusan. Mawarto lelaki yang telah menjebaknya telah meninggal.


Ia segera berlari kedalam dan membuka pintu kamar Romi. Ia melihat pemuda itu masih nyenyak tidur didalam selimutnya.


Maya memeriksa benda benda yang mencurigakan dikamar Romi. Dengan cepat ia menerka jika Romi yang telah melenyapkan Mawarto.


Romi terbangun karna mendengar kasak kusuk dikamar nya. Ia melihat Maya mencari sesuatu.


"Ada apa mbak?"


"Mbak, aku barusan nanya lho!" Romi sedikit menaikan nada bicara nya.


Maya berhenti dari kegiatannya. Ia menatap wajah adiknya. Dan duduk ditepi ranjang Romi.


"Mbak lagi cari apa?" Tanya Romi lagi karna merasa aneh dengan sikap kakaknya.


"Bukan apa apa, cuma mencari barang bukti aja." Maya sengaja menghentikan pembicaraan nya.


"Barang bukti apa sih mbak?"

__ADS_1


Romi sudah merasakan jika Maya sudah mendengar kabar kematian Mawarto. Ia berpura pura tak mengetahui apa pun.


"Semalam kamu kemana? Mbak lihat ke kamar ga ada."


Maya menatap tajam Romi yang masih mengumpulkan nyawanya untuk kesadaran yang hakiki.


"Aku semalam ambil air kesumur, karna dikamar mandi air kosong. Mbak nya masuk kamar tidak keluar lagi.


Bolak balik beberapa kali sampai semua ember besar dan kecil aku isi penuh. Kan enak ibu tidak perlu repot lagi kesumur mengambil air."


Penjelasan Romi juga masuk akal. Ia tadi melihat semua ember penuh berisi air. Berarti Mawarto memang meninggal karena serangan jantung.


"Okeh... mbak terima alasan kamu." Maya berdiri hendak keluar kamar Romi.


"Kenapa sih mbak sampai mencurigai aku?"


Romi penasaran ingin mendengar langsung berita kematian Mawarto dari mulut Maya.


"Kau tau ada berita apa pagi ini didesa kita?" Maya menggantung ucapannya agar Romi penasaran.


"Ada apa mbak?" Romi ikut berdiri didekat Maya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2