ROMAYA

ROMAYA
Terekam Tak Sengaja


__ADS_3

Keluarga besar Mawarto terlebih Tono tak bisa terima begitu saja kematian Mawarto. Mereka meminta penyelidikan mengusut kematian Mawarto.


Mendengar hal ini Mona mengingat jika seseorang sudah berani masuk bertandang kerumah nya larut malam. Dan itu Romi. Ia menutup mulutnya rapat rapat dan bersikap seolah olah tak tau.


"Ini sudah 14 hari kematian mas War, apa mbak ga tau jika mas War punya penyakit jantung?" Tanya Tono dalam rapat keluarga besar mereka.


"Ya.. mas War memang ada penyakit jantung dan itu sudah lama sekali. Saat Mona berumur 5 tahun. Setau ku penyakitnya tak pernah kambuh lagi."


Penjelasan istri dari Mawarto. Tono mengangguk angguk, ia masih tak menyangka kepergian Mawarto secepat ini. Sekarang ia tak punya teman lagi untuk bersenang senang.


Apa karna melihat adegan ku dengan Maya jantung mas War bisa kambuh lagi. Itu memang adegan yang luar biasa panas. Jantung nya pasti berdetak sangat kencang. Apalagi melihat janda itu menjadi liar setelah ku beri obat perangsang.


"Apa ada yang aneh dengan keadaan kamar mas War saat pertama kali mendapati nya telah tiada?" Selidik Tono masih tidak puas.


"Aku yang melihat ayah kedalam paman, ia tetap diam saat kupanggil panggil. Aku memanggil pak Udin. Ia memeriksa ayah sudah tak bernyawa lagi. Benar begitu pak Udin?"


Mona menambahkan kesaksian nya saat pertama kali mendapati Mawarto telah meninggal.


"Ya non... benar sekali." Udin membenarkan kesaksian Mona.


"Paman.. kini ayah telah tenang disana, kumohon jangan ungkit lagi masalah ini. Hanya akan menambah duka yang berkepanjangan. Jika memang ada yang berusaha melenyapkan ayah... suatu saat kita pasti akan mengetahui nya. Biar Tuhan yang mengatur segalanya. Kita serahkan pada Tuhan."

__ADS_1


Mona menangis sesegukan disamping bundanya. Hatinya masih sedih jika mengenang kematian sang ayah. Dan hanya Romi yang bisa mengobati duka itu.


"Baiklah... kita takan membahas ini lagi. Sekarang kau Mona, dan ibumu. Harus melanjutkan hidup kalian. Mas War meninggalkan banyak uang dan usaha. Semoga kalian bisa meneruskannya."


Tono beranjak tak senang hati. Ia memang sedih kepergian teman sekaligus kakak iparnya. Tapi ia takan terima begitu saja kematian Mawarto. Ia akan menyelidiki secara diam diam dari Mona.


"Terima kasih paman..."


Mereka meninggalkan kediaman Mawarto dan kembali pulang kerumah masing masing setelah menemani Mona dan ibunya sejak kepergian Mawarto.


Rumah itu kembali menjadi sangat sepi. Orang orang suruhan Mawarto yang biasa menemani nya diberi pesangon dan berhenti bekerja disana. Sekarang hanya ada penjaga rumah dan dua orang pembantu rumah tangga.


Mona beranjak dari tempat duduk nya. Hendak masuk kekamar nya. Kemudian ia teringat saat Romi menanyakan kamar Mawarto. Ia berjalan kedepan pintu kamar orang tuanya.


Melihat apa ada yang mencurigakan, seperti kekerasan atau apapun sebagi petunjuk. Nihil, dia tak menemukan apa apa.


Setelah keluar dari kamar ibunya. Maya melihat keatas meja yang terdapat kamera disana.


"Rupanya disini kau... aku harus mengembalikan kamera Ratih.. sudah sangat lama sekali."


Mona membawa kamera itu kekamarnya. Berniat memindah kan seluruh foto dan video yang dia ambil.

__ADS_1


Menunggu proses pemindahan file ke laptopnya. Ia memainkan game yang ada di ponselnya.


"Selesai... kita lihat hasilnya. Siapa tau aku bisa menjadi photographer. Heheheh..."


Mona meletakan Kamera Ratih kedalam tasnya. Agar tak lupa mengembalikannya besok.


Satu persatu foto foto ia tatap dilayar laptop. Juga ada Foto ayah dan bundanya. Beberapa orang pekerja dirumahnya.


"Video? Perasaan aku hanya membuat satu video saat bibik memasuk gulai kangkung favorit ku. Video apa ini..?"


Mona membuka video itu. Mata nya terbelalak melihat isinya. Ia melihat detail siapa orang yang berada didalam video tersebut.


"Dia?..."


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2