
"Ya Joko... Ada kabar apa?"
Pramana berhenti saat hendak keluar rumah. Ia duduk kembali setelah menerima panggilan telepon dari Joko pengacara nya.
"Mengenai kasus Romi tempo hari pak, Tono sudah mengakui semuanya. Awal dia melecehkan saudara Romi hingga memprovokasi kejadian pada pak Ray.." terdengar suara pengacara diseberang sana.
"Lalu bagaimana dengan Ray.. apakah dia sudah tahu tentang hal ini?" Pramana memberi kode agar Maya juga ikut duduk sebentar.
"Tadi saya sudah bicara dengan pengacaranya pak. Pak Ray menyerahkan semua keputusan pada Romi dan saudarinya tentang Tono. Dan secepatnya ia akan menemui istri bapak untuk meminta maaf secara langsung." Pramana tersenyum senang mendengar penjelasan Joko.
"Oh begitu rupanya. Kamu tau apa yang harus kamu lakukan pada pecandu wanita itu bukan?"
"Ya pak, saya mengerti."
Pramana menganggukkan kepalanya. Karna senang Joko sangat paham tentang kasus ini.
"Bagus Joko.. aku akan langsung menghubungi Ray. Terimakasih atas kerja kerasmu.
Lantas bagaimana dengan Romi? Apa dia sudah benar benar bebas?"
Pramana mengernyitkan keningnya sambil terus menatap Maya.
"Romi akan mengikuti sidang pertama nya untuk mendengar keputusan hakim. Semoga itu kabar baik untuk kita semua."
"Terimakasih, aku sangat senang sekali mendengar ini."
"Sama sama pak Pram... Sidah kewajiban saya sebagai pengacara anda. . Saya tutup teleponnya."
Pramana tersenyum ke arah Maya yang sejak tadi penasaran dengan hasil pembicaraan nya dengan pengacara yang menangani Romi.
"Bagaimana mas?" Maya tak harus menunggu, ia sangat penasaran.
__ADS_1
"Lebih baik kita bicara dimobil saja. Kunci pintunya."
Maya bergegas mengunci pintu dan mengikuti pramana masuk kedalam mobil.
"Jadi bagaimana mas?"
"Sayang kau sangat antusias sekali.. bersabarlah."
Maya duduk menyandarkan tubuhnya menghadap kedepan. Ia sedikit kesal dengan suaminya yang seolah bermain main dengan nya.
"Kau tak bertanya lagi?" Pramana mengelus kepala Maya.
"Tidak... Aku tidak penasaran lagi. Toh.. nantinya aku juga akan tau." Jawab Maya mendengkus.
"Kau marah pada ku?"
Maya menoleh pada Pramana dan tersenyum kearah suaminya.
Lalu ia menghadap lagi kedepan. Pramana menepuk nepuk paha Maya, ia tertawa kecil melihat aksi Maya yang sedang kesal.
"Maaf.. aku hanya senang membuat mu marah. Hahhaha..."
"Ya.. teruskan saja..." Maya menatap Praman penuh arti.
Untung saja kau suami ku mas .. tampan lagi.. juga pakai cinta. Kalau tidak... Akan kuremuk wajah mu itu.
"Romi akan mengikuti sidang pertamanya untuk menerima keputusan hakim. Semoga kita mendapat kabar baik."
Akhirnya Pramana bercerita perihal pengacara menghubungi nya tadi.
"Jadi... Belum bisa dipastikan kalau Romi akan bebas mas?"
__ADS_1
Maya serius melihat kearah Pramana yang masih menyetir.
"Belum... Kebebasan Romi kemaren bersyarat sayang. Dia tak boleh keluar rumah. Ada polisi yang menjaga nya dekat rumah. Aku yang menyewakan kos kosan. Meyakinkan polisi agar mau menerima pembebasan bersyarat Romi."
Maya tersenyum membelai lengan suaminya. Mungkin ia sudah lupa dengan rasa kesalnya tadi pada Pramana.
"Ada apa? Kau mau kita melakukannya lagi?"
Pramana menaik turunkan alisnya menggoda Maya. Ia menggenggam jemari Maya dan mengecupnya. Sesekali menatap istri cantik nya dan kembali fokus menyetir.
"Boleh jika kau sangat menginginkan nya mas .."
Maya mengedipkan sebelah matanya. Ia bertingkah genit dengan bermanja di lengan suaminya. Juga mengelus paha Pramana.
"Sayang ... Jika saja kita masih dirumah .. tentu saja Jono akan segera menyergap mu dengan aksi mu seperti ini." Pramana mengecup kepala Maya.
"Tapi Jini ku belum kuat menerima serangan dari Jono. Jangan alihkan pembicaraan. Kau selalu ingin melakukannya."
Pramana tertawa terbahak bahak mendengar jawaban Maya.
"Sejak kapan dia bernama Jini?" Masih dengan tawanya.
"Semenjak ada Jono .." Maya juga ikut tertawa karna pembicaraan mereka yang tak masuk akal.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1