
Pramana terus melancarkan aksinya. Menyusuri celah celah disana dengan lidahnya. Maya juga memburu menaikan turunkan mulutnya pada Jono.
Maya segera membalikan tubuhnya untuk menancapkan kepunyaannya pada Jono yang dari tadi sudah siap bertempur.
"Aaaah... Sayang... Aaaaah... Kau cantik sekali."
Maya tak menghiraukan Pramana yang terus meracau. Ia menghentak hentakan pinggulnya diatas Pramana. Sesekali mencium bibir suaminya yang terus mere..mas kedua dadanya.
Pramana menarik tubuhnya lebih keatas hingga bisa bersandar di kepala ranjang. Ia melu..mat pu..ting dada Maya yang bergoyang seperti agar agar.
Mere..mas bokong Maya dan menahannya. Kali ini ia menaik turunkan panggulnya. Hingga Maya histeris memejamkan mata merasakan sesuatu yang akan tumpah dibawah sana.
"Aaaaa..mmmpphh...mas..."
"Yaa .. sayang .. kau merasakan nya."
Maya mengangguk ia memeluk Pramana hingga wajah suaminya tepat berada didepan gunung kembar kenyal Maya.
"Kau sudah selesai? Apa sekarang giliran ku?"
Maya terlihat lelah. Ia bergantian posisi dengan Pramana. Masih dengan posisi membungkuk membelakangi Pramana. Pria itu menancapkan Jono tepat kedalam bagian bawah Maya.
Menghentakkan beberapa kali hingga suara desa..han dan era..ngan Maya memenuhi kamar mereka. Semoga saja tak ada petugas ronda yang sedang lewat didepan rumah mereka. ðŸ¤
__ADS_1
"Aku akan keluar..."
Pramana membalikan tubuh Maya hingga tepat berada dibawahnya. Ia menancapkan lagi batangan Jono. Berharap akan menjadi buah hati dalam pernikahan mereka. Buah hati yang akan menambah kebahagian rumah tangga mereka.
Lama Pramana memompa Maya, hingga suara mereka memekakkan gendang telinga yang mendengar. Sama sama merasakan ******* yang sangat berbeda dan begitu indah.
"Aaah... Sayang .. semoga kita diberikan.. keturunan yang baik.."
Maya mengeratkan pelukan nya pada tubuh Pramana yang berada diatasnya. Ia juga berharap yang sama dengan Pramana.
"Apa kau tak merasa berat menahan beban tubuh ku sayang?"
Pramana berbisik ditelinga Maya. Masih dengan posisi dia yang menindih Maya.
"Tidak... Beban kehidupan ku menjadi ringan setelah kedatangan mu mas..."
"Mas .. jangan lakukan itu."
"Kalau begitu lepaskan pelukan mu. Nanti tubuh mu akan bertambah sakit."
Maya seperti nya enggan melepaskan pelukannya pada Pramana. Yang kemudian ia lepaskan juga.
"Aku tak ingin berlama lama jauh dari mu mas..."
__ADS_1
Pramana menghentikan langkahnya. Ia kembali kearah Maya sama sama dalam keadaan polos. Ia kembali memeluk istri yang sangat ia cintai. Meskipun pertemuan mereka berawal dari kepura-puraan.
Namun dalam hatinya Pramana sungguh menyayangi Maya. Dan ia akan mengobati segala luka yang pernah Maya rasakan.
"Sayang... Aku sangat mencintaimu. Bahkan wanita lain yang bertelanjang didepan ku tak akan mempengaruhi ku Maya. Dan aku sudah mengalami itu. Jangan ada lagi keraguan di hatimu."
Pramana memeluk erat tubuh polos Maya. Entah berapa lama mereka berpelukan. Waktu seakan enggan untuk memberikan kesadaran pada keduanya untuk jeda barang sejenak.
Padahal hanya berpisah untuk kekamar mandi. Karna ada nya suatu gesekan yang lama. Kepala Jono pun berdiri kembali. Tanpa segan ia mencari ketenangan didalam sana.
Pramana kembali menggoyang Maya sambil berdiri. Kali ini mereka berhadap hadapan. Saling memberikan sentuhan dan kehangatan pada satu sama lain.
Bibir keduanya saling menyatu, melu..mat dan saling melilit didalam sana.
Mas Pram... Aku wanita yang sangat beruntung menjadi istrimu. Walaupun semua berawal dari keterpaksaan bagimu. Tapi ketulusan cintamu bisa kurasakan sampai ke sanubari ku.
Kita akan menghadapi lika liku kehidupan yang manis terkadang hambar ini bersama sama mas.. aku akan menjadi istri dan ibu yang baik untuk kau dan anak anak kita kelak.
Maya memejamkan matanya merasakan Jono yang beraksi dengan lihai di bagian bawahnya. Dan kegiatan itu terus berlangsung hingga mereka cukup merasa puas. Suara nafas yang terengah engah memenuhi setiap sudut kamar kecil mereka.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung