ROMAYA

ROMAYA
Masih ada satu ruang kecil


__ADS_3

Dikamar yang luas ini terasa sangat sepi bagi wanita yang baru saja diputuskan cinta untuk selamanya.


Walaupun tubuhnya tengah berada dalam dekapan seorang pria. Namun pikirannya tetap melayang jauh kepada orang yang telah meninggalkannya.


Jika saja ia setia pada pria itu, akan kah semua takan berjalan seperti ini. Namun kebutuhan fisik membuat nya gagal mempertahankan kata kata setia dalam hidupnya.


Semua telah berjalan pada tempat nya masing masing. Saat ini ia hanya mendengarkan detak jantung pria yang selalu menjadi penyelamat hidupnya berulang-ulang kali.


Hembusan nafas yang mulai tak beraturan. Sangat jelas pria ini menginginkan sesuatu hal yang lebih darinya. Namun pria itu bisa tahan hanya untuk menghargai nya.


"Jika saja... Orang yang aku cintai itu kau Ray.. aku tak perlu bersusah payah membuat mu mencintai ku."


Lana menghela nafasnya. Mengatur duduknya sehingga bisa menatap wajah Ray yang terasa mulai membuat hatinya berdebar.


"Lana... "


"Ray... Maafkan aku karna telat menyadari ketulusan hatimu. Kau hanya sebagai pelampiasan nafsu bagiku. Kau berhak marah, aku bisa terima itu. Jika kau membenciku tak masalah... Aku akan mencoba mendekati mu dengan cara ku lagi."

__ADS_1


Ray membelai rambut panjang Lana. Ia mengusap ngusap punggung wanita yang telah lama ia cintai.


"Lana .. aku mencintai mu jauh sebelum kau menjalin kasih dengan Dewa. Kenapa aku diam? Karna bagiku kebahagiaan mu lebih penting untuk ku. Tak perduli dengan siapa kau nantinya... Jika kau bahagia aku akan merasakan hal yang sama.


Bahkan jika orang itu sudah melepaskan mu aku masih disini untuk bersedia bersama mu. Tapi.. jika kau tetap menolaknya.. aku akan menerima dengan lapang dada. Aku takan memaksa mu ..."


Air mata Lana kembali menetes membasahi pipinya. Ia sangat merasa bersalah atas semua ungkapan hati Ray.


"Ray... Maafkan aku..."


"Aku takan memaksa mu untuk berpihak pada hati ku Lana. Lebih baik hati mu sendiri yang menentukan pilihan sesuai dengan perasaan mu. Aku bukan lelaki yang tak mau memperjuangkan mu Lana. Hanya saja... Aku lebih suka seperti ini. Kau akan memanggilku saat kau butuhkan ku. Bukan karena keterpaksaan dari ku. Aku ingin kau menyadari sendiri Lana .. aku merasa penting saat kau butuhkan. Dan itu sudah cukup membuatku bahagia. Dan ini bentuk perjuangan ku.


Lana memandangi Ray dengan tatapan penuh arti. Ia mendekatkan tubuhnya pada Ray. Memegang kedua pipi Ray dengan tangan halusnya.


Ray hanya menebarkan senyuman penuh cintanya untuk Lana. Ia merasa lega telah mengungkapkan semua yang terpendam dihatinya selama ini.


"Apakah wanita seperti aku pantas untuk kau perjuangkan Ray?"

__ADS_1


Ray membelai jemari Lana yang masih berada di wajahnya. Ia mengecup tangan Lana cukup lama.


"Lana... Apa kau pikir saat ini aku tak berjuang?"


"Tapi.. apalah arti diriku Ray... Aku menghabiskan waktu dengan mu hanya untuk bersenang senang. Tanpa adanya sedikit getaran dihatiku."


Air matanya kembali mengalir. Ray mengecup mata Lana yang basah. Kemudian mengecup sebelah pipi Lana.


"Cinta manusia yang rasa Lana. Jika dengan bersenang senang aku bisa selalu disisimu. Aku akan menerimanya sebagai ungkapan cinta. Aku tau .. jauh dari lubuk hatimu, masih ada satu ruang kecil untuk ku bernaung disana."


Lana mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan Ray. Memperhatikan ketulusan yang Ray ungkapkan. Tapi dia tak bersedih, karna pria ini lah yang mengambil kesuciannya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2