ROMAYA

ROMAYA
Awal bekerja di butik Maya


__ADS_3

"Jika menurut mas baik... Tidak masalah. Mereka juga cantik. Bisa aku jadikan model di butik nantinya." Jawab Maya menerima keputusan suaminya.


"Bagus.. ayo kita susul ibu." Ajak Pramana.


"Hmmm... Memang nya mereka bicara tentang apa mas?" Selidik Maya.


"Ahahah... Mereka memuji ibu saat berjalan dengan mu, dan Ratih marah karna mereka bicara. Padahal aku tak pernah memperlakukan peraturan seketat itu.


Selama pekerjaan beres yaa sah sah saja kan. Anggap saja itu untuk mengurangi rasa bosan mereka duduk seharian didepan komputer. Tapi Ratih melebih lebihkan. Aneh memang.."


Maya tersenyum mendengar penjelasan suaminya. Ia segera masuk ke restoran yang dipesan Laura.


"Berarti mereka selalu berpikiran positif pada orang lain. Itu sangat bagus .." Maya tersenyum menatap suaminya.


"Dan kau tau sayang... Ratih mengarang cerita bahwasannya mereka berdua menjelek jelekan kita. Aku lihat karyawan yang lain menggelengkan kepalanya. Itu saja sudah cukup membuktikan jika Ratih berbohong. Jadi aku tak suka mempekerjakan seorang yang mencari muka juga pembohong. Itu sangat tak baik untuk perusahaan kita."


"Benarkah? Kasihan mereka." Imbuh Maya.


Pramana juga ikut memikirkan masalah karyawannya. Sementara Syukro pasti sudah memecat Ratih yang selama 7 tahun tak memberikan prestasi untuk perusahaannya.


...****...


"Kira kira kenapa Pak Pramana menyuruh kita ke butik Maya ya Sar..." Tanya Ruri bingung

__ADS_1


"Itukan butik buk Maya. Apa kita mau dipekerjakan Disana ya?" Jawab Sari asal.


"Benarkah?" Ruri terlihat sumringah.


"Mungkin..." Jawab Sari datar.


Mereka naik kelantai 3 menggunakan eskalator, setelah dilantai tiga ia masuk kedalam ruangan pak Gun dan masuk kesana.


"Permisi pak..." Ujar Ruri masuk kedalam ruangan tersebut dengan Sari.


"Ya.. ada yang bisa saya bantu nak?" Ujar pak Gun yang juga sudah sepantaran ayah mereka. Pak Gun mendekati mereka.


"Iya pak, maaf mengganggu bapak bekerja. Pak Pramana menyuruh kami berdua untuk menemui pak Trisno ke butik Maya. Tapi kami ga tau pak butik nya disebelah mana. Mall ini kan luas. Jadi kami memutuskan untuk menemui pak Gun saja. Begitu pak."


Jelas Ruri dengan penuh rasa hormat pada pak Gun yang lebih tua dari mereka.


Pak Gun kembali ke mejanya dan segera menghubungi sekretaris Pramana. Tak lama kemudian pak Gun menghampiri mereka lagi.


"Kalian tunggu disini saja ya sampai Trisno datang. Saya tinggal bekerja dulu."


Ruri dan Sari duduk di sofa tunggu ruangan Pak Gun dan 4 orang lainnya didalam sana.


Sementara itu Trisno yang merasa tak mendapat perintah apa apa dari Pramana, langsung memghubungi nya.

__ADS_1


"Tuan... Maaf saya mengganggu jam istirahat Tuan. Tadi ada dua orang karyawan yang katanya pak Gun untuk menemui saya. Ada apa Tuan? Saya tak mengerti."


"Iya Tris... Dia Ruri dan Sari. Karyawan baru Maya. Kamu bawa mereka kesana. Untuk membantu kau dan Mulyani disana. Ajak mereka juga untuk makan siang. Karna ini waktu istirahat."


"Baiklah Tuan ..."


Trisno menyimpan Kembali ponselnya dan menarik nafasnya lega, karna Pramana mengirim dua orang bala bantuan untuk membantunya yang sedang kerepotan bekerja dengan Mulyani.


"Nona.. bisa ikut dengan saya?"


Trisno memanggil Mulyani. Karna mereka masih belum saling mengenal.


"Kemana mas? Lalu butiknya bagaimana.?" Mul berjalan menghampiri Trisno.


"Biar mereka yang jaga dari luar. Kamu kunci saja." Tegas Trisno sambil berjalan keluar.


Mereka masuk keruangan pak Gun dan melihat dua orang gadis yang menunggu duduk disofa.


"Apa kalian yang disuruh Tuan Pramana menemui saya?"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2