ROMAYA

ROMAYA
Melayat...


__ADS_3

"Kau tau ada berita apa pagi ini didesa kita?" Maya menggantung ucapannya agar Romi penasaran.


"Ada apa mbak?" Romi ikut berdiri didekat Maya.


"Juragan Mawarto meninggal tadi pagi.."


Maya menggantung ucapannya. Memperhatikan dengan seksama ekspresi Romi. Dan pemuda itu sudah bersiap siap dengan aktingnya.


"Apa? Lelaki tua itu meninggal?" Romi membelalakkan matanya lebar lebar.


"Kenapa dia pergi sebelum merasakan pembalasan dari tangan ku.. aku sangat kecewa. Ternyata Tuhan lebih murka atas perbuatan nya." lanjutnya lagi.


Maya memperhatikan wajah adiknya. Ia merasa lega karna bukan Romi yang melenyapkan Mawarto.


Jadi bukan dia... tapi.. mana mungkin Romi bisa berbuat kriminal begitu. Syukurlah.


"Dia meninggal karena serangan jantung." Lanjut Maya lagi.


"Padahal semalam ia menyiksa mbak dan aku. Dan sekarang ia akan lebih tersiksa didalam kuburnya. Hmmm.... Apa mbak akan datang melayat?"


Romi menatap wajah kakaknya yang tidak lagi mencurigai nya. Padahal sedari tadi jantung nya telah berdetak sangat kencang. Rasa bersalah menghantui nya.


Semoga Mawarto tak menjadi hantu dan mengejar ku...


"Mbak akan melayat. Kau temani mbak. Bersiap siap lah"


Maya keluar kamar Romi. Buru buru Romi menutup pintu kamarnya. Menghempaskan dirinya duduk ditepi ranjang. Meraup rambutnya kasar.

__ADS_1


Ternyata ia benar benar mati. Sialan! Bagaimana jika pihak polisi curiga dan menyelidiki kasus kematian Mawarto. Mampus aku...


"Romi... cepat lah.!"


Terdengar teriakan Maya mengetuk pintu kamar Romi dari luar. Romi membuyarkan lamunannya dan segera bersiap siap mengganti pakaiannya.


Ia juga mengingat Mona, pasti gadis yang sudah tidak gadis itu membutuhkan dukungannya. Karna sudah melenyapkan orang yang sangat dicintai Mona.


Ingat Romi, kau harus lebih pintar lagi. Jangan sampai ada yang mencurigai gerak gerikmu.


"Bu.. aku dan Romi mau melayat dulu kerumah pak War. Ibu dirumah saja."


"Sampaikan salam ibu untuk buk Mawarto ya. Kalian hati hati.."


Ibu melepas kedua anaknya melangkah menuju rumah Mawarto. Diperjalanan Maya terus melihat Romi.


Memperhatikan adiknya yang terlihat gelisah. Ia semakin yakin jika Romi yang melakukannya.


"Tidak apa apa Mbak.."


"Kau terlihat gusar.. ada apa?"


"Aku khawatir dengan Mona."


"Mona anaknya pak War?" Romi mengangguk melihat Maya.


"Apa hubungan mu dengan Mona?" Maya menyipitkan mata nya memperhatikan jawaban Romi.

__ADS_1


"Mona kekasihku mbak" Romi menunduk dihadapan Maya.


"Kau berhubungan dengan anak pak War? Apa kau ingin balas dendam Romi?" Maya mulai marah dengan berbisik menatap Romi.


"Bukan seperti itu mbak, kami sudah berhubungan jauh sebelum kejadian itu. Jadi bukan karena dendam. Tapi memang aku mencintai nya."


Kali ini Romi menampakan keseriusan nya mengenai Mona. Ia benar benar menyimpan rasa untuk Mona.


Tapi Maya tak sepenuhnya salah mengira jika Romi memang melangsungkan dendamnya melalui Mona, sehingga hubungan terlarang itu terjadi sebelum Romi melenyapkan Mawarto.


"Sudahlah, nanti mbak bicara lagi dirumah. Sekarang kita kerumahnya dulu"


Maya berjalan mendahului Romi yang masih bingung dengan keadaan yang sedang terjadi.


Baru beberapa jam kepergian Mawarto. Romi sudah merasa dihantui rasa bersalahnya.


Ia mengikuti Maya dengan berlari lari kecil. Berharap semua baik baik saja. Dan hubungannya dengan Mona berjalan lancar.


Banyak warga yang datang melayat dan membantu proses pemakaman Mawarto. Maya berhenti didepan pintu saat melihat seorang gadis duduk didepan jasad ayahnya menangis tersedu sedu.


Romi langsung masuk kedalam rumah dan menemani Mona. Maya tak melihat kehadiran istri Mawarto. Terdengar dari pelayat jika istri nya sedang dalam perjalanan kesini.


"Mona... aku turut berduka sayang" Romi berbisik duduk dibelakang Mona.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2