ROMAYA

ROMAYA
Wanita Ular


__ADS_3

Tak ada suara dari Pramana sepulang dari makam Billy. Suara nya seakan ikut hilang dari mulutnya. Ray hanya menoleh sesekali sahabat disebelahnya.


Pramana melihat pepohon yang menjulang tinggi ditepi jalan. Pikirannya jauh melayang dari tubuhnya.


Bayangan akan peristiwa penusukan dan tabrakan dirinya dan Billy, terkilas selalu dimatanya. Sesekali ia mengangkat kedua tangannya. Matanya mulai berkaca kaca.


"Wanita ular berhati iblis..." Sumpah Pramana mengingat perbuatan Raisa.


Ray menoleh mendengar gumaman Pramana memberikan sumpah serapah untuk wanita yang bernama Raisa.


Tak terbayangkan jika saat ini dia bertemu dengan mu Dewa...


Ray menggelengkan kepalanya bergidik membayangkan pembalasan Pramana untuk wanita itu.


Tiba tiba Ray menghentikan mobilnya karna hampir menabrak seseorang didepan. Pramana memegang keningnya yang terbentur.


"Ada apa Ray?" Tanya Pramana sambil meringis kesakitan.


"Maafkan aku .. ada seseorang didepan, aku hampir tak melihatnya."


Bergegas Ray dan Pramana turun dari mobil melihat orang yang hampir mereka tabrak. Saat ini ia sedang tersandar pada sebuah pohon ditepi jalan.


"Anda tidak apa apa buk?" Tanya Ray merasa bersalah. Ia melihat dagangan ibuk itu berserakan dijalan. Semua kue kue keluar dari keranjangnya.


"Sebaiknya kau ganti rugi Ray.." bisik Pramana sambil terus memperhatikan pada wanita yang mengenakan selendang bermotif kembang.


"Maaf buk, biar saya ganti kerugian anda. Saya benar benar tidak melihat anda... Maafkan saya."

__ADS_1


Ray mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan berniat untuk memberikan pasa wanita didepannya yang sedang mengusap pelan kakinya.


"Maaf... Ini ganti rugi nya buk.."


Ray mendekati wanita itu dan sedikit membungkuk. Saat wanita itu menoleh pada nya. Ray sempat terkejut dan langsung melihat kearah Pramana.


"Kau ..?" Tanya Ray berbisik pelan.


"Ray?" Sapa wanita itu.


"Kau mengenalnya Ray?" Teriak Pramana yang berdiri disamping mobil.


"Sebaiknya kau kesini ..." Jawab Ray tanpa menoleh pada Pramana. Ia terus mengamati wanita itu agar tak kabur.


Habis kau kali ini Raisa...


Pramana berjalan mendekati Ray, ia menoleh pada wanita penjual kue itu. Dan wanita yang diperkirakan Ray adalah Raisa. Juga ikut mendongak kan kepalanya kearah Pramana.


"Wanita iblis..."


Pramana lansung menarik Raisa hingga ia berdiri dan sedikit pincang. Dengan tangannya ia menampar wajah Raisa dengan sangat kuat. Hingga wanita itu tersungkur. Wajahnya lebam dan sudut bibirnya berdarah.


"Dewa...." Suara nya lirih memanggil nama lelaki yang masih sangat ia cintai.


Melihat wanita sang pembunuh putra nya. Saat ini juga ingin rasanya Pramana membunuh wanita iblis ini. Hati nya sudah dipenuhi dengan amarah. Bisa saja ia langsung melenyapkan nyawa wanita yang tak punya hati ini.


Nafas Pramana sangat sesak, dan ini bukanlah dirinya yang penuh dengan kelembutan.

__ADS_1


"Jika saja aku sama seperti mu, aku pasti telah membunuh mu saat ini. Wanita iblis .. " Pramana mendekati nya lagi dengan berjongkok didepan Raisa.


"Dimana hatimu? Kau bahkan membunuh seorang Balita. Dia anakku... Bang..sat!!!


Kau telah menghilangkan nyawanya..."


Plak...


Sekali lagi, wajah cantik itu ditampar oleh seorang ayah yang anak nya telah Raisa lenyapkan.


"Dewa... Jangan main hakim.. Sebaiknya kita adili dia." Saran Ray berbisik pada Pramana.


"Bawa dia Ray... Aku yang mengemudi.."


Pramana segera berjalan kearah mobil Ray. Masih dengan perlakuan baik, Ray membawa Raisa yang bahkan tak menolak sama sekali.


"Hei .. mau kalian bawa kemana teman saya?" Teriak seorang pemuda saat Raisa hampir masuk kemobil Ray.


"Siapa kau?" Tanya Ray heran.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2